Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Pendonor di Pontianak, Donor Darah 100 Kali Sejak Tahun 1990-an

Kisah Pendonor di Pontianak, Donor Darah 100 Kali Sejak Tahun 1990-an
(IDN Times/Istimewa).

Pontianak, IDN Times - Sebanyak 63 pendonor darah di Kota Pontianak menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak setelah tercatat telah mendonorkan darah lebih dari 100 kali.

Mereka diberikan pin emas sebagai simbol penghormatan atas dedikasi panjang yang telah menyelamatkan banyak nyawa.

Di balik angka tersebut, tersimpan kisah inspiratif salah satunya datang dari Zulfydar Zaidar. Ia mengawali perjalanan donor darah sejak masih menjadi mahasiswa di Jakarta pada era 1990-an.

1. Awal mula mendonorkan darah di tahun 1990-an

Wali Kota Pontianak berikan penghargaan kepada 63 pendonor 100 kali.
Wali Kota Pontianak berikan penghargaan kepada 63 pendonor 100 kali. (IDN Times/istimewa).

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Saat itu, seorang seniornya tengah membutuhkan darah untuk sang istri yang sakit. Kondisi tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya.

“Kalau saya boleh cerita, saya mulai donor karena ada orang yang membutuhkan donor,” ujarnya Selasa, (14/4/2026).

Zulfydar mengaku, pengalaman pertama mendonor bukan hal yang mudah. Rasa takut dan ngeri sempat menghantuinya. Namun di tengah keterbatasan hidup sebagai mahasiswa dengan kiriman orang tua hanya sekitar Rp400 ribu per bulan ia justru menemukan makna baru tentang membantu sesama.

2. Konsisten jaga gaya hidup untuk bisa donor darah

Wali Kota Pontianak berikan penghargaan kepada 63 pendonor 100 kali.
Sudah donor darah 100 kali, pendonor di Pontianak dapat penghargaan. (IDN Times/istimewa).

Pagi hari dia kuliah, malam hari bekerja demi bertahan hidup. Dalam kondisi itu, dia menyadari bahwa menolong orang lain tidak selalu harus dengan materi.

Baginya, donor darah memiliki makna lebih dalam. Darah yang mengalir dalam tubuh dianggap sebagai anugerah dari orang tua dan kehidupan. Ketika didonorkan, darah itu menjadi bagian dari harapan hidup orang lain.

“Kalau kita bicara amal jariyah, ini mengalir terus, tidak putus-putusnya,” katanya.

Semangat itulah yang membuatnya konsisten menjaga gaya hidup sehat selama puluhan tahun demi bisa terus berdonor. Untuk mencapai 100 kali donor, seseorang umumnya membutuhkan waktu antara 25 hingga 30 tahun.

3. 100 kali donor darah, terkumpul 30 liter, selamatkan 200 jiwa

ilustrasi donor darah
ilustrasi donor darah (freepik.com/nasty)

Sementara itu, Wali Kota Pontianak yang juga Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyebut para pendonor sebagai pahlawan kemanusiaan. Menurutnya, secara akumulatif, satu pendonor 100 kali telah menyumbangkan sekitar 30 liter darah dan berpotensi menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa.

“Ini adalah aksi nyata penyelamatan manusia,” ujarnya.

Meski jumlah pendonor cukup besar, kebutuhan darah di Pontianak masih tergolong tinggi. Setiap hari, kebutuhan mencapai 100 hingga 150 kantong darah, sementara ketersediaan rutin hanya sekitar 70 hingga 100 kantong.

Data tahun 2025 mencatat ada 21.644 pendonor, dengan mayoritas (86,3 persen) merupakan pendonor sukarela.

Untuk menutupi kekurangan, PMI kerap menghubungi pendonor aktif yang datanya telah tersimpan, termasuk keluarga pasien dalam kondisi darurat.

Edi menegaskan, pin emas yang diberikan bukanlah balasan yang setimpal, melainkan simbol rasa terima kasih dari masyarakat yang telah tertolong. “Ini mewakili warga yang telah terselamatkan oleh darah Bapak-Ibu. Mudah-mudahan menjadi amal jariah yang terus mengalir,” tukasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Sering Bandingkan Diri di Medsos? Ini Tips biar Tetap Percaya Diri

14 Apr 2026, 21:00 WIBNews