Logo Hari AIDS Sedunia (dok. World AIDS Day)
Sekretraris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kaltim Jurnanto menjelaskan, salah satu prioritas adalah memastikan bahwa orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) mendapatkan akses yang setara terhadap layanan kesehatan. Tidak ada lagi ruang khusus untuk ODHIV, yang dulu diterapkan di rumah sakit.
Semua pasien, tanpa memandang status HIV mereka, berhak mendapatkan layanan kesehatan yang sama. Hal ini menjadi penting untuk menghilangkan diskriminasi yang sering kali menimpa penderita AIDS.
Selain layanan kesehatan, Jurnanto juga menekankan pentingnya pendidikan bagi ODHIV. Mereka berhak menempuh pendidikan di sekolah mana pun tanpa takut dikucilkan atau dikeluarkan. Pendidikan yang inklusif dan bebas diskriminasi akan membantu mengurangi stigma yang ada di masyarakat.
ODHIV juga harus dipastikan memperoleh kesempatan yang setara dalam dunia pekerjaan. Tidak ada lagi alasan bagi perusahaan untuk menolak atau bahkan memecat pekerja hanya karena mereka terdeteksi positif HIV. "Pemberian akses pekerjaan yang layak bagi ODHIV adalah bagian dari upaya untuk menegakkan hak asasi manusia yang setara bagi semua," kata dia.
Selain itu, Jurnanto juga menilai edukasi tentang HIV/AIDS sangat penting untuk masyarakat. Masyarakat perlu mengetahui bahwa AIDS tidak mudah menular dan tidak bisa sembarangan menyebar. Penularan HIV/AIDS, sebut dia hanya bisa terjadi melalui tiga jalan. Yang pertama adalah hubungan seksual, kemudian penggunaan jarum suntik bergantian untuk pengguna narkotika dan ibu hamil kepada anaknya.
"Artinya, penularan HIV/AIDS ini sangat sulit. Bukah jenis penyakit yang mudah menular, ini perlu dipahami oleh masyarakat," katanya.
Pengertian yang benar dapat membantu mengurangi ketakutan dan kesalahpahaman yang sering kali berujung pada stigma terhadap penderita HIV/AIDS. KPA Kaltim juga fokus menghapus stigma ini sebagai prioritas utama mereka.
Jurnanto juga menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya mitigasi di kawasan Ibu Kota Negara (IKN), mengingat adanya pekerja dari luar daerah yang menjadi perhatian. Di sana, sudah ada laporan mengenai pekerja yang terdeteksi HIV/AIDS, namun mereka telah mendapatkan pendampingan dan layanan kesehatan yang memadai. Meski ada kasus-kasus yang ditemukan, Jurnanto menegaskan bahwa tidak ada kabar mengenai ledakan kasus HIV/AIDS di kawasan tersebut, dan segala langkah mitigasi sudah dilakukan dengan baik.
Bagi ibu hamil yang terdeteksi positif HIV, sekarang sudah ada layanan khusus yang memastikan agar anak yang dikandung tidak tertular HIV dari ibunya. Layanan ini dapat diakses di rumah sakit-rumah sakit terdekat dan merupakan langkah positif dalam mengurangi risiko penularan vertikal (dari ibu ke anak).
KPA Kalimantan Timur, diterangkan Jurnanto terus berupaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, di mana penderita HIV/AIDS tidak lagi dianggap sebagai kelompok marginal. Mereka harus diperlakukan dengan setara, dihargai, dan tidak boleh dikucilkan.
"Dengan mengurangi stigma dan mendukung akses kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan yang setara, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih baik bagi semua pihak," jelasnya.