Jembatan Nibung Diresmikan, Akses Kutim–Berau Lebih Cepat 140 Km

Samarinda, IDN Times - Setelah menunggu lebih dari satu dekade, Jembatan Nibung di Kabupaten Kutai Timur akhirnya rampung dan siap diresmikan. Jembatan yang dibangun sejak 2014 itu kini menjadi akses strategis penghubung wilayah utara Kalimantan Timur.
“Bulan penuh berkah Ramadan ini kita resmikan Jembatan Nibung di Kutai Timur,” ujar Gubernur Kaltim Rudy Masud dalam akun Instagram Pemprov Kaltim, Selasa (24/2/2026).
Sebelumnya, pada 14 Juli 2025, Rudy melakukan kunjungan langsung (blusukan) ke wilayah utara melalui jalur Kaubun–Sangkulirang, menyeberang menggunakan feri GM di Kaubun, Kutai Timur. Saat itu, ia menyaksikan langsung antrean panjang masyarakat yang harus menunggu berjam-jam hanya untuk menyeberang sungai.
1. Pembangunan Jembatan Nibung tidak tuntas sejak 2014
Padahal, di lokasi tersebut telah berdiri Jembatan Nibung yang pembangunannya dimulai sejak 2014 namun tak kunjung tuntas.
Melihat kondisi tersebut, Rudy menegaskan pentingnya percepatan penyelesaian jembatan karena perannya yang sangat strategis bagi konektivitas wilayah. Setahun setelah dirinya menjabat bersama Wakil Gubernur Seno Aji, pembangunan jembatan akhirnya diselesaikan.
2. Proses pembangunan Jembatan Nibung selesai 100 persen

Rudy memastikan progres fisik jembatan telah mencapai 100 persen. Termasuk pembangunan jalan pendekat dari Kandungan Jaya, Kecamatan Kaubun, hingga Kampung Pelawan, Kecamatan Sangkulirang.
Menurutnya, keberadaan Jembatan Nibung memangkas jarak tempuh hingga 140 kilometer menuju kawasan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau. Selain itu, waktu perjalanan juga berkurang hingga empat jam dibandingkan rute lama yang harus memutar dan menyeberang menggunakan feri.
3. Membantu aktivitas perekonomian masyarakat

Dengan beroperasinya jembatan tersebut, diharapkan aktivitas ekonomi warga di wilayah pesisir dan utara Kaltim semakin meningkat, sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini cukup tinggi akibat keterbatasan akses.
“Ini sangat membantu kelancaran distribusi hasil sawit, pengangkutan ikan oleh mobil pikap, hingga mobilitas kendaraan umum masyarakat,” jelas Rudy.


















