Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kadal Unik Ini Terancam di Habitat Asli, tapi Jadi “Ancaman” di Jepang

Kadal Unik Ini Terancam di Habitat Asli, tapi Jadi “Ancaman” di Jepang
Japalure taiwan (inaturalist.org/Ben Tsai蔡維哲)

Kadal merupakan salah satu jenis reptil yang mudah ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari kawasan alami hingga area yang padat aktivitas manusia. Kemampuan adaptasinya yang tinggi membuat hewan ini mampu bertahan hidup di beragam kondisi, bahkan sebagian di antaranya berkembang menjadi spesies invasif.

Salah satu contoh adalah Diploderma swinhonis atau japalure Taiwan. Kadal kecil berwarna hijau kehitaman ini dikenal sebagai spesies invasif yang merugikan di Jepang, meski di habitat aslinya justru menghadapi berbagai ancaman.

1. Manusia jadi ancaman terbesar kadal ini

Japalure taiwan
Japalure taiwan (inaturalist.org/Yung-Lun Lin)

Japalure Taiwan memiliki beragam kemampuan yang mendukung daya adaptasinya. Reptil ini dikenal lincah, memiliki refleks cepat, serta mampu memanjat dengan baik. Sebagai hewan arboreal, japalure Taiwan kerap ditemukan di pepohonan dan semak-semak. Menariknya, spesies ini juga memiliki kemampuan berhibernasi, sesuatu yang jarang ditemukan pada reptil.

Di habitat aslinya di Taiwan, japalure Taiwan tergolong berstatus risiko rendah (least concern) berdasarkan IUCN Red List. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, populasinya mulai tertekan akibat kerusakan habitat dan deforestasi.

2. Jadi hewan invasif di Jepang dan terancam oleh hewan invasif di daerah asalnya

Japalure taiwan
Japalure taiwan (inaturalist.org/Yung-Lun Lin)

Ancaman terhadap spesies ini tidak hanya berasal dari manusia. Studi dalam jurnal ZooKeys menyebutkan bahwa kehadiran spesies invasif lain turut memperburuk kondisi japalure Taiwan di habitat alaminya. Di antaranya adalah Polypedates megacephalus (katak pohon berkaki tutul) yang dapat memangsa kadal ini, serta Anolis sagrei (anole cokelat) yang menjadi pesaing sekaligus berpotensi membawa penyakit.

Ironisnya, di Jepang, japalure Taiwan justru menjadi spesies invasif. Sejak pertama kali muncul pada awal 2000-an, populasinya terus meningkat dan mulai menggeser keberadaan kadal lokal. Pemerintah Jepang pun melakukan berbagai upaya pengendalian untuk menekan penyebarannya.

3. Lebih sering ditemukan di daerah dengan ketinggian di bawah 1,500 mdpl

Japalure taiwan
Japalure taiwan (inaturalist.org/tingan)

Ancaman terhadap spesies ini tidak hanya berasal dari manusia. Studi dalam jurnal ZooKeys menyebutkan bahwa kehadiran spesies invasif lain turut memperburuk kondisi japalure Taiwan di habitat alaminya. Di antaranya adalah Polypedates megacephalus (katak pohon berkaki tutul) yang dapat memangsa kadal ini, serta Anolis sagrei (anole cokelat) yang menjadi pesaing sekaligus berpotensi membawa penyakit.

Ironisnya, di Jepang, japalure Taiwan justru menjadi spesies invasif. Sejak pertama kali muncul pada awal 2000-an, populasinya terus meningkat dan mulai menggeser keberadaan kadal lokal. Pemerintah Jepang pun melakukan berbagai upaya pengendalian untuk menekan penyebarannya.

4. Kadal ini biasanya berhibernasi di bulan November sampai Maret

Japalure taiwan
Japalure taiwan (inaturalist.org/Tunyu Chen)

Selain itu, japalure Taiwan juga dikenal memiliki kemampuan hibernasi, biasanya berlangsung antara November hingga Maret. Selama periode tersebut, hewan ini akan bersembunyi di tempat aman untuk menghindari predator.

Di luar masa hibernasi, japalure Taiwan dikenal aktif dan gesit. Reptil ini juga bersifat teritorial, terutama saat musim kawin, di mana jantan akan bersaing untuk memperebutkan pasangan.

5. Merupakan kadal insektivor yang bisa berkamuflase

Japalure taiwan
Japalure taiwan (inaturalist.org/Liu JimFood)

Dari segi pola makan, japalure Taiwan merupakan hewan insektivor yang memangsa berbagai serangga seperti belalang, jangkrik, semut, laba-laba, hingga lebah. Ia termasuk predator penyergap yang menunggu mangsa sebelum menyerang dengan cepat.

Kemampuan berburu tersebut didukung oleh kamuflase yang baik. Perpaduan warna cokelat, hitam, serta corak hijau dan kekuningan membuatnya mudah menyatu dengan lingkungan sekitar. Ukurannya yang relatif kecil, dengan panjang maksimal sekitar 31 cm, juga memudahkannya bersembunyi di celah-celah sempit.

Meski kerap dianggap remeh, japalure Taiwan menyimpan berbagai keunikan, mulai dari kemampuan hibernasi hingga strategi kamuflase. Namun, di balik keunggulan tersebut, spesies ini menghadapi paradoks: terancam di habitat asli, tetapi menjadi ancaman di wilayah lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Kadal Unik Ini Terancam di Habitat Asli, tapi Jadi “Ancaman” di Jepang

08 Apr 2026, 04:00 WIBNews