Pernah Lihat Matahari Merah saat Karhutla? Begini Penjelasan Sainsnya

- Matahari tampak merah saat karhutla bukan karena warnanya berubah, melainkan cahaya berinteraksi dengan molekul udara serta partikel asap sebelum mencapai mata.
- Asap karhutla mengandung aerosol yang menghamburkan dan menyerap cahaya; berkurangnya cahaya biru membuat merah-oranye dominan, terutama saat Matahari dekat horizon.
- BMKG melaporkan 15 karhutla di delapan provinsi pada 25–27 Agustus 2026; kabut asap menurunkan kualitas udara dan berisiko bagi kesehatan.
Pernah melihat Matahari tampak merah pekat di balik langit yang dipenuhi kabut asap? Pemandangan ini memang terlihat tidak biasa. Namun, fenomena tersebut bisa terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghasilkan asap yang menyebar di atmosfer.
Lantas, apakah Matahari benar-benar berubah warna menjadi merah?
Jawabannya, tidak. Matahari tetap memancarkan cahaya seperti biasa. Warna merah yang terlihat dari Bumi terjadi karena cahaya Matahari berinteraksi dengan molekul udara dan partikel asap sebelum sampai ke mata manusia.
Fenomena ini menarik untuk dipahami, terutama ketika karhutla melanda sejumlah wilayah Indonesia. Pada 27 Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sekitar 80 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Pada periode 25–27 Agustus, sedikitnya 15 kejadian karhutla dilaporkan di delapan provinsi.
BMKG juga mencatat peningkatan titik panas di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, serta sebaran asap di sejumlah wilayah Kalimantan.
Lalu, bagaimana asap karhutla membuat Matahari yang biasanya tampak terang berubah menjadi merah atau oranye? Berikut penjelasan ilmiahnya.
1. Cahaya Matahari sebenarnya terdiri dari berbagai warna

matahari berwarna merah (pexels.com/Rai Silva) Sebelum membahas pengaruh asap karhutla, kita perlu memahami bagaimana cahaya Matahari bekerja.
Cahaya Matahari yang dapat dilihat oleh mata manusia sebenarnya terdiri dari berbagai warna. Setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda. Warna biru dan ungu memiliki panjang gelombang lebih pendek, sedangkan merah memiliki panjang gelombang lebih panjang.
Ketika cahaya Matahari memasuki atmosfer Bumi, cahaya tersebut bertemu dengan molekul-molekul gas yang ada di udara. Molekul ini lebih mudah menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek, terutama cahaya biru.
Proses penghamburan cahaya oleh molekul-molekul kecil di atmosfer tersebut disebut hamburan Rayleigh (Rayleigh scattering).
Inilah salah satu alasan mengapa langit pada siang hari terlihat biru. Cahaya biru lebih banyak tersebar ke berbagai arah sehingga dapat masuk ke mata kita meskipun kita tidak sedang melihat langsung ke arah Matahari.
2. Asap karhutla menambah banyak partikel di udara

Pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut yang diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (24/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nym. Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, udara dipenuhi asap yang mengandung berbagai partikel kecil, termasuk aerosol. Partikel ini berasal dari material yang terbakar dan dapat bertahan di atmosfer.
Saat cahaya Matahari melewati udara yang dipenuhi asap, cahaya berinteraksi dengan partikel-partikel tersebut. Proses hamburan cahaya oleh partikel yang ukurannya sebanding dengan atau lebih besar daripada panjang gelombang cahaya dikenal sebagai hamburan Mie (Mie scattering).
Namun, perubahan warna Matahari akibat asap tidak hanya dipengaruhi oleh hamburan Mie. Penyerapan cahaya oleh partikel asap juga berperan dalam menentukan warna dan intensitas cahaya yang sampai ke permukaan Bumi.
Kombinasi proses tersebut membuat cahaya Matahari yang terlihat dari permukaan Bumi dapat mengalami perubahan warna dan tampak lebih redup.
3. Kenapa akhirnya Matahari terlihat lebih merah?

matahari berwarna merah (pexels.com/Maria Consuelo Sulit) Warna merah yang terlihat saat langit dipenuhi asap berkaitan dengan perubahan komposisi cahaya yang mencapai mata manusia.
Ketika cahaya Matahari melewati atmosfer yang mengandung banyak partikel asap, sebagian cahaya dapat dihamburkan atau diserap. Akibatnya, komposisi cahaya yang bergerak langsung menuju mata pengamat berubah.
Dalam kondisi tertentu, cahaya biru yang mencapai pengamat melalui jalur langsung berkurang lebih banyak dibandingkan cahaya merah. Hal ini membuat warna merah dan oranye tampak lebih dominan.
Efek tersebut biasanya semakin terlihat ketika Matahari berada dekat dengan horizon, seperti saat pagi atau sore hari. Pada posisi ini, cahaya Matahari harus melewati lapisan atmosfer yang lebih panjang sebelum mencapai permukaan Bumi.
Jika jalur tersebut dipenuhi asap karhutla, interaksi cahaya dengan partikel aerosol dapat memperkuat perubahan warna yang terlihat.
Meski begitu, tingkat perubahan warna bergantung pada konsentrasi, ukuran, dan sifat optik partikel asap, serta kondisi atmosfer saat itu.
4. Fenomena ini juga terjadi di belahan dunia lain

matahari berwarna merah (pexels.com/Chris F) Matahari yang tampak merah akibat asap kebakaran hutan bukan fenomena yang hanya terjadi di Indonesia.
NASA pernah mendokumentasikan fenomena serupa ketika asap kebakaran hutan di British Columbia, Kanada, membuat Matahari terlihat lebih merah dan redup pada Juli 2026.
Asap dapat menghamburkan dan menghalangi sebagian cahaya Matahari sehingga penampakannya berubah ketika diamati dari permukaan Bumi.
Fenomena serupa juga dapat terjadi akibat partikel lain di atmosfer, misalnya aerosol dari aktivitas vulkanik. Dengan demikian, Matahari yang tampak merah tidak selalu menandakan adanya karhutla, tetapi dapat menjadi petunjuk bahwa kondisi atmosfer sedang berbeda dari biasanya.
5. Kajian dampak karhutla terhadap lingkungan

Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (18/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/kye Indonesia juga memiliki sejumlah penelitian yang mengkaji karakteristik asap kebakaran hutan dan pengaruhnya terhadap atmosfer.
Salah satunya dilakukan selama musim kebakaran 1997 di wilayah Kalimantan dan Australia bagian utara. Penelitian tersebut mengukur sifat optik aerosol yang berasal dari asap pembakaran biomassa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aerosol dari kebakaran dapat menghamburkan cahaya. Karakteristiknya juga dipengaruhi oleh jenis material yang terbakar dan proses pembakaran yang berlangsung.
Pembakaran yang berlangsung perlahan atau smoldering, termasuk pada material gambut, dapat menghasilkan asap dengan karakteristik berbeda dari pembakaran yang berlangsung dengan nyala api.
Penelitian mengenai kabut asap akibat kebakaran Indonesia pada 1997 juga menemukan dominasi partikel berukuran submikron pada aerosol yang diukur di sekitar Banjarmasin.
Ukuran partikel menjadi salah satu faktor penting yang menentukan bagaimana cahaya berinteraksi dengan asap. Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa kabut asap karhutla dapat memengaruhi warna dan intensitas cahaya Matahari yang terlihat dari permukaan Bumi.
6. Bahaya kabut asap terjadi lingkungan

Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (11/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar Jadi, apakah Matahari benar-benar berubah warna menjadi merah saat karhutla?
Tidak. Matahari tetap memancarkan cahaya dengan spektrum yang sama. Warna merah yang terlihat merupakan efek interaksi cahaya dengan atmosfer, termasuk partikel aerosol dari asap kebakaran.
Meski tampak indah dan dramatis, fenomena ini perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. Asap karhutla dapat membawa partikel halus yang menurunkan kualitas udara dan berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan.
Jika kabut asap mulai mengganggu jarak pandang atau menimbulkan bau menyengat, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus, dan memantau informasi kualitas udara dari instansi berwenang.
Pada akhirnya, Matahari yang tampak merah bukanlah tanda bahwa Matahari sedang berubah. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana kondisi atmosfer dapat mengubah cahaya yang kita lihat sekaligus menjadi pengingat akan dampak karhutla terhadap lingkungan dan kesehatan.





















