Hutan Jadi Bara, 7 Satwa Khas Kalimantan Ini Berjuang Bertahan Hidup

- Karhutla dan deforestasi di Kalimantan menghilangkan tempat berlindung, pakan, serta jalur pergerakan satwa liar, sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem hutan.
- Tujuh satwa yang terdampak mencakup orang utan, beruang madu, macan dahan, bekantan, kucing merah, trenggiling Sunda, dan owa Kalimantan; masing-masing bergantung pada habitat berhutan.
- Perlindungan perlu mencakup pencegahan dan pemadaman karhutla, pemulihan habitat, penjagaan hutan serta lahan basah, dan penegakan hukum terhadap perburuan maupun perdagangan ilegal.
Hutan Kalimantan bukan sekadar hamparan pepohonan hijau. Ekosistem ini menjadi rumah bagi beragam satwa liar, mulai dari orang utan hingga kucing merah yang sulit dijumpai di alam. Namun, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta deforestasi terus membayangi kelestarian habitat mereka.
Ketika api melalap hutan, dampaknya bukan hanya hilangnya pepohonan. Satwa liar juga berisiko kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, hingga jalur untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Bagi satwa yang bergantung pada hutan, kerusakan habitat dapat mengancam kelangsungan hidup mereka.
Ancaman ini menjadi pengingat pentingnya menjaga hutan Kalimantan beserta seluruh penghuninya. Berikut tujuh satwa ikonik yang kehidupannya bergantung pada kelestarian hutan dan menghadapi berbagai ancaman terhadap habitatnya.
1. Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus)

Salah satu individu orangutan yang dilepasliarkan di hutan Kalimantan Timur, Rabu (24/6/2026). BKSDA Kaltim Orang utan Kalimantan merupakan salah satu satwa yang paling identik dengan hutan tropis Pulau Borneo. Primata ini memiliki lengan panjang yang membantunya berpindah antarpohon, mencari makanan, dan membangun sarang untuk beristirahat.
Sebagian besar aktivitas orang utan berlangsung di pepohonan. Karena itu, keberadaan hutan dengan tutupan tajuk yang memadai sangat penting bagi kelangsungan hidupnya.
Ketika kebakaran melanda habitat, orang utan dapat kehilangan pohon pakan, tempat bersarang, dan perlindungan dari lingkungan sekitar. Kerusakan vegetasi juga membuat mereka harus mencari sumber makanan di kawasan yang masih tersisa.
Perlindungan orang utan tidak cukup dilakukan dengan menyelamatkan individu yang terdampak kebakaran. Upaya tersebut juga harus mencakup pencegahan karhutla, pemulihan habitat, dan penjagaan kawasan hutan yang menjadi tempat hidupnya.
2. Beruang madu (Helarctos malayanus)

ilustrasi beruang madu (commons.wikimedia.org/Rushenb) Beruang madu dikenal sebagai spesies beruang terkecil di dunia. Satwa ini juga menjadi salah satu penghuni hutan Kalimantan yang memiliki ciri khas berupa tanda berwarna terang di bagian dada.
Meski namanya identik dengan madu, beruang madu memiliki pola makan yang beragam. Satwa ini mengonsumsi buah-buahan, serangga, madu, dan sumber makanan lain yang tersedia di habitatnya.
Kebakaran hutan dapat mengurangi ketersediaan makanan sekaligus merusak tempat berlindungnya. Jika kerusakan habitat meluas, beruang madu harus menghadapi kondisi lingkungan yang semakin sulit untuk mendukung kebutuhan hidupnya.
Selain karhutla, satwa ini juga menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia. Karena itu, perlindungannya perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui penjagaan habitat dan pengurangan gangguan terhadap kehidupan liar.
3. Macan dahan Sunda (Neofelis diardi)

Potret seekor macan dahan. (pexels.com/Klub Boks) Macan dahan Sunda merupakan kucing liar yang menghuni hutan Kalimantan dan Sumatra. Tubuhnya memiliki pola bercak besar menyerupai awan, yang menjadi salah satu ciri paling khas spesies ini.
Sebagai predator, macan dahan berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui hubungan pemangsaan dengan satwa lain. Kehidupannya bergantung pada habitat yang menyediakan tempat berlindung sekaligus cukup mangsa untuk memenuhi kebutuhan makanannya.
Kebakaran hutan dapat merusak vegetasi yang digunakan macan dahan untuk bersembunyi dan berburu. Kerusakan habitat juga berpotensi memengaruhi populasi satwa mangsa yang menjadi sumber makanannya.
Jika kebakaran terjadi berulang kali di kawasan yang sama, habitat yang tersisa dapat semakin terfragmentasi. Kondisi ini membuat perlindungan hutan menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberadaan predator langka tersebut.
4. Bekantan (Nasalis larvatus)

ilustrasi bekantan (commons.wikimedia.org/David Dennis) Bekantan merupakan primata endemik Kalimantan yang mudah dikenali dari hidungnya yang besar dan panjang, terutama pada individu jantan. Satwa ini kerap dijuluki monyet Belanda karena bentuk hidungnya yang khas.
Berbeda dari orangutan yang banyak beraktivitas di hutan daratan, bekantan sering ditemukan di kawasan lahan basah, seperti hutan mangrove, hutan rawa, dan hutan di sepanjang sungai. Vegetasi di habitat tersebut menyediakan sumber makanan sekaligus tempat berlindung.
Ketergantungan pada lingkungan yang memiliki tutupan vegetasi membuat bekantan rentan ketika habitatnya terbakar atau rusak.
Dampak kebakaran terhadap satwa ini juga pernah terlihat dalam peristiwa di Kalimantan Selatan. Pada September 2026, sebanyak 12 individu bekantan dilaporkan ditemukan mati oleh tim penyelamat satwa Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan dalam kasus kebakaran lahan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kebakaran di sekitar habitat satwa dapat menimbulkan dampak langsung terhadap kehidupan mereka. Karena itu, perlindungan kawasan lahan basah dan pencegahan kebakaran perlu menjadi perhatian dalam upaya konservasi bekantan.
5. Kucing merah Kalimantan (Catopuma badia)

kucing merah (commons.wikimedia.org/Jim Sanderson) Kucing merah Kalimantan merupakan kucing liar endemik Pulau Borneo yang relatif jarang dijumpai di alam. Satwa ini memiliki bulu cokelat kemerahan, tubuh ramping, dan ekor panjang.
Berbeda dari kucing domestik, kucing merah hidup di habitat alami dan menjadi bagian dari keanekaragaman predator di hutan Kalimantan.
Karena keberadaannya sangat berkaitan dengan ekosistem hutan, kerusakan habitat dapat mengganggu aktivitas berburu dan mempersempit ruang geraknya. Fragmentasi hutan juga berpotensi memisahkan kawasan tempat satwa ini mencari makan dan berlindung.
Pencegahan karhutla serta perlindungan hutan yang masih utuh menjadi langkah penting untuk menjaga habitat kucing merah Kalimantan. Upaya konservasi juga perlu memperhatikan kondisi populasi dan sebarannya di alam.
6. Trenggiling Sunda (Manis javanica)

ilustrasi trenggiling sunda (commons.wikimedia.org/Frendi Apen Irawan) Trenggiling Sunda memiliki penampilan unik karena tubuhnya dilindungi sisik keras yang tersusun dari keratin. Satwa ini memakan semut dan rayap dengan bantuan lidahnya yang panjang.
Saat menghadapi ancaman, trenggiling dapat menggulung tubuhnya untuk melindungi bagian tubuh yang lebih rentan. Namun, mekanisme pertahanan tersebut tidak cukup untuk melindunginya dari berbagai ancaman yang ditimbulkan manusia.
Kebakaran hutan berpotensi merusak tempat berlindung dan mengganggu ketersediaan makanan trenggiling. Di luar ancaman kerusakan habitat, perburuan dan perdagangan ilegal juga menjadi tekanan serius bagi kelangsungan hidupnya.
Karena itu, perlindungan trenggiling membutuhkan langkah yang menyeluruh. Selain menjaga hutan, upaya konservasi perlu mencakup penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan satwa liar ilegal.
7. Owa Kalimantan (Hylobates muelleri)

ilustrasi owa Kalimantan (unsplash.com/Simone Dinoia) Owa Kalimantan merupakan primata tanpa ekor yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan. Lengan panjangnya memungkinkan satwa ini bergerak dengan cara berayun dari satu cabang ke cabang lain untuk mencari makanan dan berpindah tempat.
Owa juga dikenal melalui suara panggilannya yang khas, yang dapat terdengar di kawasan hutan tempat kelompoknya hidup.
Ketergantungan pada pepohonan membuat owa rentan terhadap perubahan struktur habitat. Ketika kebakaran merusak tutupan hutan, jalur pergerakan antarpohon dapat terputus dan sumber makanan menjadi lebih sulit dijangkau.
Kerusakan hutan yang meluas juga dapat memisahkan kelompok owa dari bagian habitat lainnya. Oleh karena itu, menjaga kawasan hutan yang masih utuh menjadi langkah penting untuk mempertahankan ruang hidup dan kelangsungan populasi primata ini.
Ketujuh satwa tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kelestarian hutan Kalimantan dan kehidupan satwa liar di dalamnya. Setiap spesies memiliki kebutuhan habitat serta peran ekologis yang berbeda, mulai dari membantu penyebaran biji hingga menjaga keseimbangan rantai makanan.
Ketika hutan rusak, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan. Kerusakan dapat mengganggu ketersediaan makanan, memutus jalur pergerakan satwa, dan mengubah keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan melalui pencegahan, pemadaman, pemulihan habitat, serta perlindungan satwa yang terdampak. Upaya tersebut juga perlu disertai pengawasan terhadap aktivitas manusia yang dapat memperburuk kerusakan hutan.
Menjaga hutan Kalimantan bukan hanya tentang mempertahankan hamparan hijau. Lebih dari itu, upaya ini berarti memastikan orangutan, beruang madu, macan dahan, bekantan, kucing merah, trenggiling, dan owa tetap memiliki ruang untuk hidup di habitat alaminya.
Sebab, ketika hutan kehilangan daya dukungnya, satwa liar bukan satu-satunya yang terdampak. Keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan manusia juga ikut terancam.






















