Hutan Kalimantan Terbakar, Ini 5 Tumbuhan Asli yang Kehilangan Habitat

- Karhutla di hutan rawa gambut Kalimantan merusak vegetasi, bibit, sumber benih, dan regenerasi alami, sehingga kemampuan ekosistem pulih dapat terganggu.
- Balangeran dan jelutung rawa berpotensi mendukung rehabilitasi serta pemanfaatan berkelanjutan, tetapi tetap rentan terhadap api, pengeringan gambut, dan kebakaran berulang.
- Bintangur, Ctenolophon parvifolius, dan Palaquium menunjukkan keragaman hutan gambut; kawasan terbakar cenderung memiliki lebih sedikit spesies pohon dibanding hutan alami.
Bayangkan hutan yang semula hijau dan rimbun berubah menjadi hamparan tanah hitam setelah dilalap api. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya meninggalkan kabut asap dan mengganggu kesehatan manusia, tetapi juga merusak habitat berbagai tumbuhan yang membutuhkan kondisi lingkungan khusus untuk bertahan hidup.
Di Kalimantan, hutan rawa gambut menjadi rumah bagi beragam spesies tumbuhan yang telah beradaptasi dengan tanah basah dan karakteristik lingkungan setempat. Ketika kebakaran melanda, dampaknya tidak berhenti pada pohon-pohon yang hangus. Bibit, sumber benih, hingga kemampuan hutan untuk memulihkan diri secara alami juga dapat terganggu.
Sejumlah tumbuhan asli bahkan berperan penting dalam menjaga struktur vegetasi dan mendukung pemulihan ekosistem gambut. Meski tidak semuanya berstatus terancam punah secara resmi, keberadaan mereka tetap perlu diperhatikan.
Berikut lima tumbuhan asli hutan Kalimantan yang habitatnya perlu dilindungi dari ancaman karhutla.
1. Balangeran, pohon asli rawa gambut

Balangeran. (Dok Wikimedia.org) Balangeran (Shorea balangeran) merupakan salah satu pohon asli yang tumbuh di hutan rawa gambut Kalimantan. Spesies ini mendapat perhatian dalam berbagai penelitian rehabilitasi hutan karena berpotensi digunakan untuk memulihkan lahan gambut yang mengalami kerusakan, termasuk akibat kebakaran.
Peran balangeran tidak sekadar menambah tutupan pepohonan. Keberadaannya juga dapat mendukung pemulihan vegetasi di kawasan yang rusak.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Silvikultur Tropika pada 2016 menguji sejumlah tumbuhan asli untuk rehabilitasi hutan gambut bekas terbakar di Kalimantan Tengah. Dari empat spesies yang diuji, balangeran mencatat tingkat kelangsungan hidup bibit tertinggi setelah delapan bulan pengamatan.
Meski memiliki potensi untuk rehabilitasi, balangeran bukan tumbuhan yang kebal terhadap api. Kebakaran berulang tetap dapat merusak pohon dewasa, memusnahkan sumber benih, dan menghambat regenerasi alami.
Karena itu, upaya pelestarian balangeran perlu disertai perlindungan habitat dan pencegahan kebakaran agar proses pemulihan hutan dapat berlangsung lebih optimal.
2. Jelutung rawa, penghasil getah bernilai

Jelutung rawa. (Dok Wikimedia.org) Jelutung rawa (Dyera polyphylla) merupakan pohon yang tumbuh di kawasan rawa, termasuk hutan gambut Kalimantan. Pohon ini menghasilkan getah yang pernah dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk.
Keberadaan jelutung rawa memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis. Selain menjadi bagian dari vegetasi hutan, pohon ini juga berpotensi mendukung penghidupan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan.
Namun, kelangsungan hidup jelutung sangat berkaitan dengan kondisi habitatnya. Hutan gambut yang dikeringkan menjadi lebih rentan terbakar, terutama ketika menghadapi musim kemarau berkepanjangan.
Saat api melanda, pohon jelutung, bibit, dan tumbuhan muda berisiko mengalami kerusakan. Hilangnya vegetasi juga dapat mengurangi peluang regenerasi serta mengganggu pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat.
Oleh sebab itu, perlindungan jelutung rawa tidak cukup dilakukan dengan menanam kembali bibit setelah kebakaran. Menjaga kelembapan gambut dan mencegah kebakaran berulang merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan habitatnya.
3. Bintangur, bagian penting hutan gambut

Tanaman Binangun. (Dok Wikimedia.org) Bintangur merupakan nama umum bagi sejumlah tumbuhan dalam genus Calophyllum. Salah satu spesies yang tercatat di hutan rawa gambut Kalimantan Tengah adalah Calophyllum canum.
Pohon ini menjadi bagian dari komunitas vegetasi hutan alami. Keberadaan berbagai spesies pohon seperti bintangur membantu membentuk struktur hutan yang kompleks dan menyediakan kondisi habitat bagi beragam organisme.
Penelitian tentang komposisi pohon di hutan gambut Kalampangan, Kalimantan Tengah, yang diterbitkan dalam Journal of Forest Research pada 2025, menunjukkan perbedaan keragaman vegetasi antara hutan alami dan hutan yang pernah terbakar.
Dalam dua petak penelitian yang dibandingkan, tercatat 114 spesies pohon di hutan alami, sedangkan di hutan yang pernah terbakar ditemukan 80 spesies. Calophyllum canum termasuk spesies dominan di petak hutan alami tersebut.
Temuan ini tidak serta-merta membuktikan bahwa bintangur berstatus terancam punah akibat kebakaran. Namun, hasil penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana kerusakan habitat dapat mengurangi keragaman pohon yang menyusun ekosistem hutan gambut.
Ketika komposisi vegetasi berubah, keseimbangan ekosistem juga berpotensi terganggu. Karena itu, menjaga hutan alami tetap utuh menjadi langkah penting untuk mempertahankan keragaman tumbuhan di dalamnya.
4. Ctenolophon parvifolius, tumbuhan yang jarang dikenal

Ctenolophon. (DOK rekoforest.org) Nama Ctenolophon parvifolius mungkin terdengar asing bagi masyarakat umum. Namun, spesies ini tercatat sebagai salah satu penyusun vegetasi hutan rawa gambut di Kalimantan Tengah.
Penelitian mengenai persebaran pohon di kawasan Lahei dan Kalampangan menemukan spesies tersebut bersama berbagai tumbuhan lain yang membentuk komunitas hutan gambut setempat.
Keberadaannya menunjukkan bahwa kekayaan hutan Kalimantan tidak hanya terdiri dari pohon-pohon besar yang populer atau memiliki nilai ekonomi tinggi. Ada pula spesies yang jarang dikenal, tetapi menjadi bagian dari keragaman vegetasi alami.
Ketika kebakaran merusak hutan, perubahan kondisi tanah dan tutupan vegetasi dapat memengaruhi kemampuan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Hilangnya pohon dewasa juga berpotensi mengurangi sumber benih bagi generasi berikutnya.
Meski belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa Ctenolophon parvifolius terancam punah akibat karhutla, perlindungan habitatnya tetap penting. Kerusakan hutan dapat memengaruhi banyak spesies sekaligus, termasuk tumbuhan yang selama ini kurang mendapat perhatian.
5. Palaquium, penjaga keragaman vegetasi

Palaquium. (Dok nparks.gov.sg) Satu lagi tumbuhan yang tercatat dalam penelitian mengenai vegetasi hutan rawa gambut Kalimantan Tengah adalah Palaquium cochleariifolium.
Spesies ini menjadi bagian dari komunitas pohon yang tumbuh di ekosistem gambut. Keberadaannya memperlihatkan bahwa hutan gambut bukan sekadar hamparan pepohonan di tanah basah, melainkan ekosistem dengan susunan spesies yang beragam dan saling berinteraksi.
Dampak kebakaran terhadap tumbuhan tidak selalu terlihat dari pohon yang langsung mati atau hangus. Sebagian tumbuhan mungkin bertahan, tetapi perubahan kondisi habitat dapat menghambat pertumbuhan bibit dan memengaruhi komposisi vegetasi dalam jangka panjang.
Penelitian mengenai kebakaran hutan gambut di Kalimantan juga menunjukkan bahwa kawasan yang terbakar dengan tingkat keparahan tinggi cenderung memiliki keragaman spesies lebih rendah.
Artinya, dampak karhutla dapat berlangsung jauh setelah api berhasil dipadamkan. Hutan yang mulai menghijau kembali belum tentu memiliki komposisi tumbuhan yang sama dengan kondisi sebelum kebakaran.
Karena itu, pemulihan ekosistem perlu memperhatikan keberagaman spesies asli, bukan hanya jumlah pohon yang berhasil ditanam kembali.
Kelima tumbuhan tersebut menunjukkan bahwa hutan Kalimantan menyimpan kekayaan hayati yang tidak selalu terlihat atau dikenal masyarakat luas. Setiap spesies merupakan bagian dari ekosistem yang terbentuk melalui proses alami dalam waktu panjang.
Karhutla dapat merusak hubungan tersebut dengan menghilangkan vegetasi, mengurangi sumber benih, dan mengubah kondisi habitat. Jika kebakaran terjadi berulang kali, kemampuan hutan untuk memulihkan diri juga dapat semakin terganggu.
Karena itu, pelestarian tumbuhan asli tidak cukup dilakukan melalui penanaman bibit setelah kebakaran. Upaya tersebut perlu disertai pencegahan pembukaan lahan dengan api, perlindungan kawasan hutan, penjagaan kelembapan gambut, serta pemulihan ekosistem berdasarkan karakteristik tumbuhan setempat.
Kelima spesies yang dibahas tidak semuanya terbukti berstatus langka atau terancam punah secara resmi. Namun, keberadaan mereka mengingatkan kita bahwa setiap bagian dari keragaman vegetasi memiliki arti bagi kelangsungan ekosistem.
Sebab, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan yang terlihat di permukaan. Sumber benih, proses regenerasi, dan kesempatan bagi generasi tumbuhan berikutnya untuk tumbuh di habitat alaminya juga bisa ikut terancam.






















