Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Asap Karhutla Kian Tebal di Sampit, Bupati Kotim Ungkap Penyebabnya

Kota Balikpapan
3 min read
Asap Karhutla Kian Tebal di Sampit, Bupati Kotim Ungkap Penyebabnya
Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (18/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/kye
  • Kabut asap karhutla di Sampit makin pekat dalam tiga hari terakhir, terutama di Baamang dan Mentawa Baru Ketapang, dipicu titik api baru, kiriman asap, serta kebakaran gambut.
  • Pemda menyoroti risiko keselamatan setelah kecelakaan lalu lintas terjadi; BMKG mencatat jarak pandang sekitar lima meter pada pukul 07.00 WIB, saat angin nol kilometer per jam.
  • Hujan ringan dinilai belum memadamkan api bawah tanah di gambut. Pemda memprioritaskan pemadaman dan pendinginan kebakaran baru di Jalan Pramuka Gang Sahabat agar tak meluas ke permukiman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sampit, IDN Times - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dipengaruhi munculnya titik api baru, asap yang terbawa angin dari wilayah lain, serta kebakaran di lahan gambut.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, penebalan kabut asap paling terasa di kawasan perkotaan, khususnya Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang.

“Jadi, kita melihat kondisi tiga hari terakhir ini memang sepertinya asap agak menebal, lebih pekat, khususnya di daerah perkotaan, Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang,” kata Halikinnor saat meninjau lokasi karhutla di Jalan Pramuka Gang Sahabat diberitakan Antara, Sampit, Jumat (23/10/2026).

  1. 1. Kabut asap jadi perhatian pemda setempat

    5.jpg
    Pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut yang diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (24/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nym.

    Kabut asap yang semakin pekat turut menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat. Pada Kamis (22/10/2026), sejumlah kecelakaan lalu lintas dilaporkan terjadi, bahkan menimbulkan korban jiwa. Gangguan jarak pandang akibat kabut asap diduga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam kejadian tersebut.

    Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim pada pukul 07.00 WIB, jarak pandang dilaporkan hanya sekitar lima meter. Pada waktu yang sama, kecepatan angin tercatat nol kilometer per jam.

    Halikinnor menduga hujan ringan yang turun setelah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) turut memengaruhi kondisi asap di wilayah tersebut. Pasalnya, karakteristik lahan gambut memungkinkan api bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya terlihat tidak terbakar.

    “Mungkin OMC berpengaruh juga, sehingga dengan terkena hujan yang tidak begitu lebat itu, karena kita daerah gambut, begitu ada air ada hujan sedikit asapnya keluar,” ujarnya.

  2. 2. Air hujan tidak mampu padamkan api

    3.jpg
    Masa yang tergabung dalam aliansi Masyarakat Kalteng Melawan melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nz

    Ia menjelaskan, air hujan yang tidak cukup deras untuk memadamkan kebakaran di lapisan bawah gambut diduga membuat asap kembali keluar dari dalam tanah. Kondisi tersebut menambah kepulan asap di sejumlah kawasan.

    Selain itu, titik kebakaran baru masih ditemukan di kawasan perkotaan. Padahal, beberapa titik sebelumnya telah berhasil dipadamkan, sementara lokasi lainnya masih menjalani proses pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.

    Salah satu kebakaran terbaru terjadi di Jalan Pramuka Gang Sahabat pada Kamis sore. Menurut Halikinnor, api dengan cepat merambat hingga menyeberang ke sisi lain kawasan tersebut dan berpotensi meluas ke area semak belukar yang belum terbakar.

  3. 3. Prioritas pemadaman api karhutla

    1.jpg
    Masa yang tergabung dalam aliansi Masyarakat Kalteng Melawan melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nz

    Pemerintah daerah pun kembali memprioritaskan pemadaman di lokasi tersebut. Tim pemadam diminta memastikan api benar-benar padam dan proses pendinginan dilakukan secara optimal agar kebakaran tidak kembali meluas ke kawasan permukiman warga di bagian belakang.

    “Makanya hari ini kita fokus lagi di sini. Api ini baru sebenarnya. Jadi, kita mulai pemadaman titik apinya sampai pendinginannya,” jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More