Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Media Sosial hingga Tekanan Keluarga, Ini 5 Alasan Kita Ingin Cepat Dewasa

Kota Samarinda
4 min read
Media Sosial hingga Tekanan Keluarga, Ini 5 Alasan Kita Ingin Cepat Dewasa
Ilustrasi '"mean girls" saat dewasa (pexels.com/Monstera Production)
  • Media sosial memicu perbandingan diri lewat gambaran kesuksesan yang tidak utuh, sehingga banyak orang merasa tertinggal dan ingin cepat mencapai pencapaian serupa.
  • Keinginan mandiri secara finansial, tekanan biaya hidup, serta budaya serba instan mendorong orang mengejar karier dan solusi cepat, meski proses berkembang membutuhkan waktu.
  • Tekanan keluarga, lingkungan, dan FOMO dapat memicu keputusan besar sebelum siap; kedewasaan berkaitan dengan mengenali diri, mengelola emosi, serta bertanggung jawab atas pilihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi dewasa kerap dibayangkan sebagai fase kehidupan yang penuh kebebasan. Kita bisa menentukan pilihan sendiri, membangun karier, mengatur keuangan, hingga menjalani hidup sesuai keinginan. Namun, kedewasaan juga datang dengan tanggung jawab dan berbagai tantangan yang tidak selalu mudah dihadapi.

Banyak orang ingin segera dewasa karena berharap bisa mencapai kebebasan finansial, memiliki karier yang mapan, atau membangun keluarga. Di sisi lain, tekanan sosial dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga bisa membuat seseorang merasa harus lebih cepat mencapai berbagai target kehidupan.

  1. 1. Pengaruh media sosial

    ilustrasi membaca berita negatif di medsos (magnific.com/pvproductions)
    ilustrasi membaca berita negatif di medsos (magnific.com/pvproductions)

    Media sosial sering menampilkan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Ada yang sudah memiliki rumah sendiri, berlibur ke luar negeri, atau meraih kesuksesan dalam karier di usia muda.

    Tanpa disadari, berbagai unggahan tersebut bisa memicu kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ketika merasa tertinggal, kita pun terdorong untuk segera mencapai pencapaian serupa.

    Padahal, kehidupan yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan kenyataan secara utuh. Apa yang terlihat hanyalah sebagian dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan cerita di balik kesuksesannya.

    Karena itu, penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan waktu yang berbeda. Kamu tidak harus mencapai hal yang sama hanya karena orang lain sudah lebih dulu mendapatkannya.

  2. 2. Mandiri secara keuangan

    ilustrasi sukses, prestasi, pencapaian
    ilustrasi sukses, prestasi, pencapaian (magnific.com/DC Studio)

    Memiliki penghasilan besar, membeli rumah sendiri, dan mulai berinvestasi sejak muda menjadi impian banyak orang. Keinginan untuk mandiri secara finansial pun mendorong sebagian generasi milenial bekerja keras demi mencapai kestabilan ekonomi.

    Tekanan biaya hidup dan kebutuhan masa depan juga dapat membuat seseorang merasa harus segera mapan. Tidak sedikit yang rela bekerja lembur atau mengejar kenaikan jabatan agar bisa mencapai target keuangan lebih cepat.

    Namun, mengejar kestabilan finansial sebaiknya tetap diimbangi dengan perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental. Kesuksesan bukan hanya soal besarnya penghasilan atau cepatnya kenaikan jabatan.

    Tidak ada salahnya menikmati proses, menyusun target secara realistis, dan memberi diri sendiri waktu untuk berkembang.

  3. 3. Terbiasa dengan hasil cepat

    Ilustrasi orang sukses
    Ilustrasi orang sukses (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Kemudahan teknologi membuat banyak hal bisa dilakukan dalam waktu singkat. Memesan makanan, berbelanja, hingga mencari informasi kini dapat dilakukan hanya melalui ponsel.

    Kebiasaan mendapatkan sesuatu secara instan ini terkadang terbawa ke dalam cara kita menghadapi kehidupan. Ketika menemui masalah atau mengalami kegagalan, kita cenderung ingin segera menemukan solusi dan menyelesaikan semuanya.

    Padahal, tidak semua persoalan memiliki jalan keluar yang cepat. Beberapa hal membutuhkan waktu, pengalaman, dan proses belajar yang panjang.

    Kedewasaan bukan ditentukan oleh seberapa cepat seseorang menyelesaikan masalah, melainkan bagaimana ia menyikapi tantangan, mengambil pelajaran dari kegagalan, dan bertanggung jawab atas keputusannya.

  4. 4. Tekanan sosial untuk "cepat berhasil"

    Wanita berkemeja putih duduk di meja kantor berantakan, menopang kepala dengan kedua tangan dengan ekspresi lelah dan stres di depan laptop.
    ilustrasi karyawan yang mengalami kelelahan mental dan stres di meja kantor akibat tekanan kerja (pexels.com/Anna Tarazevich)

    Kisah orang-orang yang sukses di usia muda memang bisa menjadi inspirasi. Namun, pencapaian tersebut juga berpotensi menimbulkan tekanan ketika dijadikan standar untuk mengukur keberhasilan diri sendiri.

    Melihat seseorang berhasil membangun bisnis sebelum usia 30 tahun, misalnya, bisa membuat kita merasa harus mencapai hal serupa. Tekanan itu dapat semakin besar ketika keluarga atau lingkungan mulai mempertanyakan pekerjaan, penghasilan, pernikahan, hingga rencana memiliki anak.

    Akibatnya, kita mungkin mengambil keputusan besar bukan karena benar-benar siap, melainkan karena ingin memenuhi harapan orang lain.

    Padahal, setiap orang memiliki kondisi, prioritas, dan perjalanan hidup yang berbeda. Menentukan pilihan berdasarkan kesiapan diri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti standar yang ditetapkan lingkungan.

  5. 5. Fomo (fear of missing out)

    Seorang pria tampak termenung di depan kamera dengan latar belakang sekelompok orang yang sedang berkumpul dan mengobrol.
    ilustrasi tekanan sosial atau perasaan FOMO di tengah lingkungan pertemanan (unsplash.com/Vitaly Gariev)

    Istilah fear of missing out (FOMO) menggambarkan perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau pencapaian orang lain. Perasaan ini semakin mudah muncul ketika kita terus melihat perkembangan kehidupan teman melalui media sosial.

    Saat teman sebaya mulai menikah, memiliki anak, atau menempati posisi strategis di tempat kerja, kita bisa merasa harus segera mengikuti langkah yang sama.

    Jika dibiarkan, FOMO dapat mendorong seseorang mengambil keputusan penting secara terburu-buru, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kesiapan diri.

    Padahal, kehidupan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai suatu pencapaian. Memiliki pekerjaan tetap, menikah, atau membeli rumah tidak harus dilakukan pada usia yang sama oleh setiap orang.

    Sebelum mengambil keputusan besar, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah pilihan tersebut benar-benar sesuai dengan keinginan dan kesiapanmu, atau sekadar karena takut tertinggal dari orang lain?

    Menjadi dewasa bukan berarti harus segera sukses, memiliki banyak uang, menikah, atau memenuhi semua ekspektasi orang lain. Kedewasaan juga berkaitan dengan kemampuan mengenali diri sendiri, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

    Tidak ada salahnya memiliki target besar dan berusaha mewujudkannya sejak muda. Namun, jangan sampai keinginan untuk cepat mencapai sesuatu justru membuatmu kehilangan kesempatan untuk belajar dan menikmati proses kehidupan.

    Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berkembang. Jadi, jalani hidup sesuai dengan kemampuan dan prioritasmu. Sebab, yang terpenting bukan seberapa cepat kamu mencapai tujuan, melainkan seberapa siap kamu menjalaninya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More