Perpustakaan Jalanan Samarinda terkendala karena pemerintah tak sepenuhnya memberikan dukungan. Komunitas ini juga minim bacaan anak-anak, padahal peminatnya lebih banyak dari kalangan usia anak (perpusjalanansmr/instagram.com)
Animo masyarakat dengan komunitas ini begitu positif. Apa lagi anak kecil. Dari pantauan Hendry ketika itu, banyak anak suka dengan buku. Meski belum bisa baca, anak-anak ini senang dengan gambarnya. Setidaknya cara ini berguna untuk mengenalkan anak dengan buku sejak dini.
Tak hanya itu, kelompok ini juga adakan kegiatan storytelling saat anak-anak ramai mendatangi lapak Perpustakaan Jalanan Samarinda. Namun sayang, terkadang niat baik tak selamanya dipandang positif. Pemerintah tak sepenuhnya mendukung kampanye Hendry dan kawan-kawan. Bahkan dalam prosesnya mereka terkandala administrasi.
Walhasil koleksi buku terbatas, utamanya untuk anak-anak. Kendala lainnya tentu persoalan zaman. Sekarang semua serba digital. Buku fisik tak lagi dilirik, warga lebih nyaman dengan buku elektronik. Pasalnya lebih praktis. Meski demikian, pihaknya tak gentar. Sejak awal visi dan misi tak berubah. Ingin minat baca meningkat, terlebih anak-anak. Selalu ada rasa berbeda saat membaca buku fisik dan elektronik.
“Semoga kami selalu ada menemani anak-anak Samarinda untuk meningkatkan minat baca mereka,” pungkasnya.