Polres Kutim Sulap Lahan Eks Tambang Jadi Kebun Jagung

Sangata, IDN Times - Kepolisian Resor Kutai Timur (Polres Kutim), Kalimantan Timur, menggandeng tiga kelompok tani (poktan) untuk memanfaatkan lahan eks tambang seluas 25 hektare sebagai kebun jagung. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan.
Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto mengatakan, pemilihan jagung sebagai komoditas utama telah melalui kajian teknis yang matang. Jagung dinilai memiliki daya adaptasi dan ketahanan yang baik terhadap struktur tanah di area reklamasi tambang.
“Karakteristik lahan eks tambang batu bara membutuhkan tanaman yang mampu beradaptasi cepat. Berdasarkan kajian teknis, jagung menjadi pilihan paling tepat untuk menjamin keberhasilan panen pada penanaman perdana ini,” kata Fauzan diberitakan Antara di Sangatta, Selasa (6/1/2026).
1. Bekas area tambang PT KPC

Seremoni penanaman perdana telah dilaksanakan di kawasan reklamasi PT Kaltim Prima Coal (KPC) PIT J, Jalan Poros Sangatta–Bengalon, tepatnya di Desa Singa Gembara, Jumat (2/1/2026).
Fauzan menjelaskan, inisiatif ini bertujuan mengubah persepsi bahwa lahan bekas tambang yang selama ini dianggap tidak bernilai guna, justru dapat dimanfaatkan menjadi sentra pertanian produktif guna menjaga stabilitas pasokan pangan lokal.
Dalam pelaksanaannya, Polres Kutim bekerja sama dengan PT KPC serta memberdayakan masyarakat setempat, khususnya petani yang tergabung dalam tiga kelompok tani, yakni Poktan Karya Etam dan Poktan Bukutor di Desa Swarga Bara, serta Poktan Karya Bersama di Desa Singa Gembara.
2. Produksi kebun jagung di Kutai Timur

Sebelumnya, Polres Kutim bersama para mitra berhasil memproduksi jagung sebanyak 138,11 ton sepanjang 2025. Dari total produksi tersebut, sekitar 127,25 ton dipasarkan kepada tengkulak, sementara 8,3 ton diserap oleh Perum Bulog.
Berkat capaian tersebut, Polres Kutim ditunjuk sebagai percontohan program Industrialisasi Farming Jagung oleh Polda Kalimantan Timur. Program ini mengintegrasikan subsektor pertanian dengan peternakan serta mendorong hilirisasi hasil pertanian.
3. Mendukung swasembada pangan

Produksi jagung sebesar 138,11 ton tersebut berasal dari pengelolaan lahan seluas 255 hektare yang disiapkan untuk mendukung program swasembada pangan nasional sepanjang 2025. Namun, belum seluruh lahan tersebut ditanami karena sebagian masih dalam tahap pengolahan untuk meningkatkan kesuburan tanah.
“Sejak adanya instruksi pemerintah pusat pada Januari 2025, kami menggandeng berbagai pihak untuk menyediakan lahan pertanian seluas 255,65 hektare. Kerja sama dilakukan dengan kelompok tani binaan, perusahaan, hingga pemanfaatan lahan milik pondok pesantren,” pungkas Fauzan.

















