Dari Kerajaan Hindu hingga Kesultanan Islam, Ini Sejarah Panjang Kutai

Pemerintah secara resmi menetapkan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ke wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim), pada 26 Agustus 2019. Seiring dengan itu, perhatian publik juga tertuju pada sejarah panjang Kutai Kartanegara, wilayah yang dikenal sebagai pusat salah satu peradaban tertua di Indonesia.
1. Kerajaan Hindu tertua di nusantara ada di Kaltim

Kutai Kartanegara memiliki jejak sejarah yang bermula dari kerajaan Hindu tertua di nusantara hingga berkembang menjadi kesultanan Islam. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa salah satu peradaban paling awal di Indonesia justru tumbuh di Kalimantan Timur.
Para peneliti menemukan tujuh buah yupa, yakni tiang batu yang digunakan sebagai tempat mengikat hewan kurban. Pada permukaan yupa tersebut tertera tulisan berbahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa dari awal abad ke-5. Isinya memuat pujian para brahmana kepada Raja Mulawarman atas kedermawanannya menyumbangkan 20 ribu ekor lembu dalam sebuah upacara besar.
2. Mulawarman raja paling terkenal dari Kerajaan Kutai Hindu

Yupa-yupa ini diyakini berasal dari masa Kerajaan Kutai Martadipura yang berpusat di tepi Sungai Mahakam. Raja Mulawarman sendiri merupakan cucu dari pendiri kerajaan, Kudungga, yang memerintah sejak sekitar tahun 1350. Pada masa Kudungga, pengaruh Hindu belum begitu kuat. Unsur kebudayaan India baru berkembang pesat pada masa pemerintahan putranya, Raja Aswawarman.
Ketika Mulawarman naik takhta, Kutai Martadipura mencapai puncak kejayaan dan dikenal sebagai kerajaan Hindu tertua di nusantara. Pusat kerajaan berada di Muara Kaman, kawasan yang kini menjadi salah satu kecamatan di barat laut Samarinda.
Tak jauh dari wilayah tersebut, berkembang Kerajaan Kutai Kartanegara yang berdiri pada sekitar tahun 1300. Kerajaan ini didirikan oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti yang kemudian menikah dengan Putri Meneluh dan menurunkan garis keturunan raja-raja Kutai Kartanegara.
3. Kerajaan Kutai bagian kekuasaan kerajaan lain

Etnolog Belanda Pieter Johannes Veth menyebut Kutai Kartanegara sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Majapahit pada abad ke-14. Kitab Nagarakretagama bahkan mencatat daerah ini dengan nama Tanjung Kute, yang disebut telah ditaklukkan oleh Mahapatih Gajah Mada.
Memasuki abad ke-15, pengaruh Majapahit mulai memudar. Kutai Kartanegara kemudian berada di bawah pengaruh Kerajaan Banjarmasin yang dipimpin Pangeran Samudra, raja pertama Banjarmasin yang memeluk Islam. Meski demikian, pemerintahan tetap dijalankan oleh raja-raja Kutai Kartanegara dengan kewajiban mengirim upeti ke Banjarmasin.
Pada abad ke-16, Kutai Kartanegara di bawah kepemimpinan Anum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Kutai Martadipura yang dipimpin Maharaja Dharma Setia. Penyatuan dua kerajaan ini melahirkan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
4. Kutai Kartanegara-Kutai Martadipura bersatu

Masuknya Islam ke Kutai diperkirakan berlangsung secara bertahap. Selain dipengaruhi Kerajaan Banjarmasin, dakwah Islam juga dibawa para mubalig dari Sumatra dan Sulawesi. Dua di antaranya, Datuk Dibandang dan Datuk Ditiro, menyebarkan Islam di berbagai wilayah sebelum akhirnya tiba di Kutai pada akhir abad ke-16.
Menurut Ramli Nawawi dalam Salasilah Kutai, Raja Mahkota (1545–1610) menerima kedua dai tersebut dan memeluk Islam pada 1605. Sejak itu, Islam berkembang pesat di Kutai. Raja Mahkota memerintahkan pembangunan masjid sebagai pusat dakwah serta mendidik putranya, Aji Batara Agung Paduka Nirta, sebagai pemimpin muslim.
5. Islam masuk Kutai sebelum Raja Mahkota menjabat

Sejak abad ke-10, Kutai juga dikenal sebagai pelabuhan dagang yang ramai. Pedagang dari Cina, India, dan Bugis menjadikan wilayah ini sebagai pusat transaksi berbagai komoditas. Fakta ini membuat sejumlah sejarawan meyakini Islam telah dikenal di Kutai jauh sebelum Raja Mahkota memeluk agama tersebut.
Meski terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa penguasa Kutai pertama yang masuk Islam, para sejarawan sepakat bahwa penyebaran Islam berkembang pesat sejak masa pemerintahan Raja Mahkota. Pada 1620, Kutai Kartanegara kemudian berada di bawah pengaruh Kesultanan Makassar, yang saat itu menjadi kekuatan besar di kawasan timur nusantara.

















