Multibahasa dan Multikultur, Cara Gen Z Samarinda Merawat Identitas Kota Tepian

Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, dikenal sebagai kota dengan keragaman budaya dan bahasa yang kuat. Di tengah keberagaman tersebut, generasi Z di Kota Tepian berperan penting dalam membentuk identitas sosial yang terbuka dan inklusif melalui kemampuan berbahasa yang beragam.
Sebagian besar Gen Z di Samarinda tidak hanya fasih berbahasa Indonesia, tetapi juga mampu menggunakan bahasa daerah, bahasa Inggris, bahkan bahasa asing seperti Korea dan Jepang. Kemampuan multibahasa ini menjadi modal sosial sekaligus kultural yang memperkaya interaksi mereka di lingkungan lokal maupun global.
1. Basis komunikasi nasional

Bahasa Indonesia tetap menjadi sarana komunikasi utama antarwarga dari berbagai latar belakang suku. Sebagai bahasa resmi negara yang dipelajari sejak pendidikan dasar, bahasa Indonesia berfungsi menjaga kesatuan sekaligus memudahkan generasi muda Samarinda berinteraksi dengan masyarakat dari daerah lain.
2. Melestarikan budaya lokal

Di sisi lain, penggunaan bahasa daerah masih kuat dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Banjar, Kutai, Jawa, Bugis, hingga sejumlah bahasa etnis lainnya tetap digunakan dalam lingkup keluarga dan komunitas. Bagi banyak pemuda, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang perlu dilestarikan.
Kedekatan dengan bahasa lokal turut memperkuat ikatan sosial antarwarga serta menjaga tradisi yang diwariskan lintas generasi. Kondisi ini mencerminkan bagaimana modernitas berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya.
3. Akses ke dunia global

Seiring berkembangnya globalisasi dan teknologi digital, penguasaan bahasa Inggris juga semakin meningkat di kalangan Gen Z Samarinda. Bahasa internasional ini membuka akses terhadap pendidikan, peluang kerja, serta informasi global yang lebih luas. Banyak pemuda meningkatkan kemampuan bahasa Inggris melalui sekolah, kursus, maupun platform digital.
Selain bahasa Inggris, minat terhadap bahasa Korea dan Jepang juga cukup menonjol. Popularitas K-Pop, K-Drama, anime, dan manga mendorong sebagian generasi muda mempelajari kedua bahasa tersebut untuk memahami budaya populer secara lebih mendalam.
4. Menggali dan mendalami minat

Ketertarikan ini tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga membuka peluang pertukaran budaya dan jejaring internasional. Penguasaan berbagai bahasa membuat pemuda Samarinda lebih adaptif dalam berinteraksi dengan komunitas global.
Kemampuan multibahasa yang dimiliki generasi Z di Samarinda mencerminkan karakter masyarakat yang terbuka, adaptif, dan menghargai keberagaman. Keahlian tersebut menjadi aset penting untuk memperluas wawasan, memperkuat identitas budaya, sekaligus meningkatkan daya saing di masa depan.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, generasi muda Samarinda menunjukkan bahwa penguasaan berbagai bahasa bukan hanya kebutuhan, tetapi juga peluang untuk berkembang sebagai warga global yang berdaya saing.

















