Unik dan Jarang Diketahui, Simbiosis Semut Pemotong Daun dan Jamur

Istilah simbiosis kerap diperkenalkan sejak bangku sekolah. Mengutip National Geographic, simbiosis merupakan interaksi antara dua organisme berbeda yang hidup berdekatan dan saling berhubungan untuk memperoleh nutrisi atau keuntungan tertentu. Contoh simbiosis yang umum dikenal antara lain hubungan kupu-kupu dengan bunga, serta ikan badut dengan anemon laut.
Namun, selain contoh-contoh tersebut, terdapat bentuk simbiosis yang tak kalah unik dan jarang diketahui, yakni hubungan antara semut pemotong daun dan jamur. Lalu, bagaimana bentuk kerja sama keduanya? Berikut fakta-fakta menariknya.
1. Bentuk simbiosis

Simbiosis ini melibatkan semut pemotong daun dari genus Acromyrmex dan Atta dengan jamur Leucoagaricus gongylophorus. Hubungan keduanya tergolong simbiosis mutualisme, yakni interaksi yang saling menguntungkan.
Menurut Britannica, simbiosis mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang sama-sama memperoleh manfaat dari interaksi tersebut. Dalam hal ini, semut dan jamur saling bergantung untuk bertahan hidup.
2. Peran semut

Semut pemotong daun memanfaatkan potongan daun sebagai media tumbuh jamur. Daun yang dipotong dari tumbuhan akan dibawa ke sarang, lalu dikunyah hingga halus untuk dijadikan substrat tempat jamur berkembang.
Tak hanya itu, semut juga membuang kotorannya yang mengandung kitin jamur serta senyawa lignoselulase ke dalam media tersebut. Proses ini membantu mempercepat degradasi biomassa daun sehingga lebih mudah dimanfaatkan oleh jamur.
3. Peran Jamur

Jamur Leucoagaricus gongylophorus berperan penting dalam menguraikan biomassa daun yang kaya akan selulosa, hemiselulosa, protein, dan berbagai komponen lainnya. Melalui proses tersebut, jamur mengonversi biomassa menjadi hifa yang kemudian membentuk pembengkakan kaya nutrisi.
Pembengkakan hifa ini dikenal sebagai gongylidia, yang mengandung lipid, karbohidrat, dan nutrisi penting lainnya. Gongylidia menjadi sumber makanan utama bagi koloni semut pemotong daun.
4. Keuntungan yang didapatkan masing-masing

Hubungan simbiosis antara semut Acromyrmex dan Atta dengan jamur Leucoagaricus gongylophorus memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Semut memperoleh asupan nutrisi dari hasil degradasi jamur, sementara jamur mendapatkan media tumbuh yang stabil serta perlindungan.
Keberadaan semut juga membantu jamur terhindar dari patogen dan memastikan kelangsungan hidupnya, karena jamur tersebut secara aktif dibudidayakan oleh koloni semut.
5. Simbiosis juga melibatkan peran dari bakteri

Meski demikian, simbiosis ini tidak lepas dari ancaman. Salah satunya adalah jamur patogen dari genus Escovopsis, yang dapat tumbuh di sarang semut dan mengganggu perkembangan jamur Leucoagaricus gongylophorus.
Untuk mengatasi ancaman tersebut, semut pemotong daun mengembangkan mekanisme pertahanan alami. Salah satunya dengan memanfaatkan bakteri dari genus Pseudonocardia dan Streptomyces. Bakteri ini mampu menghasilkan senyawa antijamur yang dapat menghambat pertumbuhan Escovopsis. Menariknya, metode ini hanya ditemukan pada semut dari genus Acromyrmex.
Simbiosis antara semut pemotong daun dan jamur ini menunjukkan betapa kompleks dan menakjubkannya hubungan antarmakhluk hidup di alam. Masih banyak bentuk simbiosis lain yang tak kalah menarik untuk dipelajari lebih lanjut.


















