Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Remaja Lebih Jujur di Story Media Sosial?

Seorang perempuan dewasa sedang berpose menghadap kamera.
Ilustrasi Tanda Kamu Sudah Memiliki Mental yang Dewasa. (pexels.com/Alexander Mass)

Banyak remaja terlihat pendiam, tertutup, atau tampak biasa saja dalam kehidupan sehari-hari. Namun, gambaran itu sering kali berbeda ketika melihat unggahan story di media sosial mereka. Di ruang digital tersebut, remaja justru lebih terbuka mengekspresikan perasaan—mulai dari kelelahan, kekecewaan, hingga kesedihan yang jarang diungkapkan secara langsung.

Layar ponsel seolah menjadi ruang paling aman untuk berkata jujur tanpa harus berhadapan langsung dengan reaksi orang lain. Fenomena ini bukan berarti remaja bersikap palsu di dunia nyata. Sebaliknya, story kerap menjadi tempat mereka mengekspresikan diri secara lebih autentik, tanpa tekanan sosial yang berlebihan.

Secara psikologis, perbedaan ini berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman, penerimaan, serta ketakutan terhadap penilaian. Berikut sejumlah alasan mengapa remaja cenderung lebih jujur di story dibandingkan di dunia nyata.

1. Story memberi jarak emosional yang aman

Seorang wanita sedang santai di taman.
Ilustrasi Kunci Produktivitas untuk Tetap Efektif di Tengah Kesibukan. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Di kehidupan nyata, kejujuran menuntut keberanian untuk menghadapi respons langsung, seperti ekspresi wajah, nada bicara, atau reaksi spontan dari lawan bicara. Bagi remaja yang masih sensitif terhadap penilaian, situasi ini kerap memicu kecemasan. Kesalahan kecil pun bisa dengan mudah disalahartikan atau dihakimi.

Berbeda dengan itu, story memberikan jarak emosional. Remaja dapat mengunggah perasaan mereka tanpa harus melihat reaksi secara langsung. Jarak ini menciptakan rasa aman karena emosi tidak harus “dipertanggungjawabkan” saat itu juga.

2. Dunia nyata penuh tuntutan peran sosial

Wanita sedang stres.
Ilustrasi Hal yang Diam-diam Merusak Jiwa tanpa Kamu Sadari. (pexels.com/Liza Summer)

Dalam keseharian, remaja sering menjalani banyak peran sekaligus—sebagai anak yang baik, siswa yang patuh, atau teman yang selalu ceria. Peran-peran tersebut menuntut penyesuaian diri dengan ekspektasi lingkungan, bahkan ketika kondisi emosional sedang tidak stabil.

Kejujuran emosional kerap dianggap mengganggu peran tersebut. Mengeluh dinilai lemah, sedih dianggap berlebihan, dan mengaku lelah sering disalahpahami sebagai sikap tidak bersyukur. Akibatnya, banyak perasaan akhirnya dipendam.

3. Story memberi kontrol atas apa yang dibagikan

Tiga orang wanita sedang melakukan selfie di taman.
Ilustrasi Cara Ekstrovert Mengelola Ekspektasi Sosial di Awal Tahun. (pexels.com/Gustavo Fring)

Keunggulan lain dari story adalah adanya kontrol penuh dari pengunggah. Remaja bisa memilih kata, gambar, musik, hingga menentukan siapa saja yang boleh melihat unggahan tersebut. Kontrol ini memberikan rasa aman secara psikologis.

Perasaan juga dapat disampaikan secara tidak langsung, misalnya melalui potongan lirik lagu, kutipan singkat, atau emoji. Cara ini terasa lebih nyaman dibandingkan harus menjelaskan emosi secara detail dalam percakapan langsung yang sering melelahkan.

Kontrol tersebut memungkinkan remaja bersikap jujur secara selektif—membuka sebagian perasaan tanpa harus merasa terlalu rentan atau terekspos sepenuhnya.

4. Takut tidak dipahami di dunia nyata

Wanita sedang duduk di jendela.
Ilustrasi Konsekuensi Psikologis dari Hidup dengan Topeng Sosial. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Tidak sedikit remaja memiliki pengalaman curhat yang berujung pada nasihat berlebihan, perbandingan, bahkan penghakiman. Pengalaman semacam ini membuat mereka belajar bahwa kejujuran tidak selalu berakhir dengan pemahaman.

Di story, tidak ada kewajiban untuk merespons. Orang yang melihat bisa memilih bereaksi atau sekadar diam. Kondisi ini justru membuat kejujuran terasa lebih aman karena tidak memaksa terjadinya percakapan yang belum tentu siap dijalani.

Bagi remaja, ruang dengan tuntutan minim menjadi pilihan. Story memberikan kebebasan untuk jujur tanpa harus menyiapkan energi emosional tambahan.

5. Story menjadi bahasa emosi generasi digital

Seorang wanita sedang memainkan handphonenya.
Ilustrasi Hal yang Dialami Seorang Ambivert saat Menjelang Tahun Baru. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Remaja masa kini juga tumbuh bersama bahasa digital. Story bukan sekadar fitur media sosial, melainkan medium komunikasi emosional yang terasa alami bagi mereka.

Unggahan singkat, visual, dan musik sering kali mampu mewakili perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bagi remaja, ini merupakan bentuk kejujuran yang autentik, meski tidak selalu disampaikan secara gamblang.

Secara psikologis, hal ini menunjukkan bahwa kejujuran tidak selalu harus diucapkan secara verbal. Remaja menemukan caranya sendiri untuk mengekspresikan perasaan, sesuai dengan perkembangan zaman dan kenyamanan emosional mereka.

Remaja lebih jujur di story bukan semata karena ingin diperhatikan, melainkan karena di sanalah mereka merasa paling aman untuk menjadi diri sendiri. Dunia nyata sering menuntut peran dan ketahanan, sementara story menyediakan ruang untuk jujur dengan risiko yang lebih kecil.

Memahami fenomena ini membantu kita melihat bahwa di balik unggahan sederhana, sering tersembunyi kebutuhan besar untuk dipahami, didengar, dan diterima apa adanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest Life Kalimantan Timur

See More

Bukan soal Niat Buruk, Ini Gaya Bicara yang Membuat Orang Menjauh

18 Jan 2026, 04:00 WIBLife