Mengenal Stoikisme: Filsafat Hidup Selaras dengan Alam

Filsafat Stoikisme telah berkembang sejak 301 sebelum Masehi atau abad ke-3 SM. Aliran filsafat ini dicetuskan oleh filsuf Yunani Kuno asal Athena, Zeno dari Citium, dan kemudian dikembangkan oleh para pemikir Stoa lainnya seperti Chrysippus, Cicero, Epictetus, Seneca, hingga Marcus Aurelius.
Stoikisme dirancang sebagai panduan hidup untuk membentuk pribadi yang tangguh, bahagia, berbudi luhur, dan bijaksana. Melalui kekuatan pikiran dan ketenangan jiwa, ajaran ini mengajak manusia untuk berkembang menjadi individu yang lebih baik dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Prinsip-prinsip stoikisme membekali manusia agar mampu mengarungi kehidupan yang penuh tantangan dengan pikiran jernih dan hati yang tenang. Berikut delapan manfaat menerapkan stoikisme untuk hidup selaras dengan alam.
1. Mengelola reaksi emosional terhadap peristiwa-peristiwa yang berada di luar kendali

Stoikisme menekankan pentingnya mengelola reaksi emosional terhadap peristiwa yang berada di luar kendali manusia. Saat menghadapi kabar buruk atau situasi sulit, ajaran ini mengajak kita untuk tetap tenang dan tidak larut dalam emosi negatif yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik.
2. Merenungkan tindakan dan perilaku sehari-hari

Stoikisme mendorong refleksi diri secara rutin terhadap tindakan dan perilaku sehari-hari. Dengan begitu, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana serta memahami dampak perbuatannya terhadap diri sendiri maupun orang lain.
3. Membedakan antara hal-hal yang berada di dalam kendali dan hal-hal yang berada di luar kendali

Salah satu prinsip utama stoikisme adalah membedakan hal-hal yang dapat dikendalikan dan yang berada di luar kendali. Prinsip ini membantu seseorang mengurangi kecemasan dan lebih fokus mengelola aspek kehidupan yang benar-benar dapat dipengaruhi.
4. Mengajarkan pentingnya berempati terhadap orang lain

Stoikisme mengajarkan pentingnya empati dan pandangan yang bijaksana terhadap sesama manusia. Dengan memahami pengalaman orang lain, kita dapat membangun hubungan yang lebih sehat, kuat, dan positif.
5. Hidup pada masa sekarang

Ajaran stoikisme mengajak manusia untuk berfokus pada hari ini dan tujuan yang ingin dicapai saat ini. Kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan serta penyesalan atas masa lalu justru dapat menghambat ketenangan hidup.
6. Bersikap adil

Stoikisme mengajarkan pentingnya bersikap adil, berintegritas, dan memberikan lebih dari yang diterima. Nilai-nilai ini berperan besar dalam membangun hubungan sosial yang kokoh dan memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.
7. Mendisiplinkan diri

Pengendalian diri dan kerendahan hati menjadi fondasi stoikisme. Prinsip ini membantu seseorang menunda kepuasan jangka pendek demi meraih tujuan jangka panjang yang lebih bermakna.
8. Peningkatan kualitas hidup

Secara keseluruhan, penerapan stoikisme dapat meningkatkan kualitas hidup, termasuk membantu mengelola tekanan mental. Namun, penting dipahami bahwa stoikisme bukan solusi instan, melainkan filosofi hidup yang membutuhkan latihan dan kesadaran secara konsisten.
Dengan komitmen dan refleksi berkelanjutan, stoikisme dapat menuntun seseorang menuju kebijaksanaan, kebahagiaan, dan ketenangan batin, sekaligus membantu menjalani hidup yang selaras dengan alam.
Demikian delapan manfaat menerapkan stoikisme dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat.


















