Flexing Makin Marak, tapi Benarkah Itu Tanda Sukses?

Fenomena flexing atau memamerkan kekayaan dan pencapaian di media sosial makin marak dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari barang branded, mobil mewah, liburan ke luar negeri, hingga slip gaji, semua dipamerkan seolah menjadi tolok ukur kesuksesan. Namun, tren ini tidak selalu dipandang positif. Alih-alih dikagumi, perilaku flexing berlebihan justru sering dianggap sebagai tanda kesombongan dan kebutuhan akan validasi.
Berbagi kebahagiaan di media sosial tentu wajar. Namun, jika dilakukan berlebihan dan hanya demi pengakuan orang lain, flexing justru bisa menjadi bumerang. Sebelum ikut-ikutan tren ini, penting memahami alasan di balik perilaku tersebut dan risiko yang mengintainya.
1. Haus validasi dari orang lain

Salah satu alasan utama orang melakukan flexing adalah kebutuhan akan validasi. Mereka ingin terlihat sukses, dipuji, dan diakui oleh lingkungan sekitar. Dengan memamerkan harta atau pencapaian, mereka berharap mendapatkan perhatian yang membuat diri merasa lebih berharga.
Namun, kebahagiaan yang bergantung pada pujian orang lain sangat berisiko. Ketika komentar negatif muncul atau perhatian mulai berkurang, rasa percaya diri bisa turun drastis. Alih-alih mencari validasi eksternal, lebih baik fokus pada pencapaian yang benar-benar bermakna bagi diri sendiri.
2. Gaya hidup mewah = status kelas sosial? Belum tentu

Flexing juga sering dijadikan cara untuk menunjukkan status sosial. Gaya hidup mewah dan barang mahal dipamerkan agar terlihat berada di “kelas atas”. Fenomena ini banyak ditemukan di lingkungan kerja, pergaulan, atau bahkan dalam keluarga yang menjadikan status sosial sebagai standar keberhasilan.
Padahal, menjadikan status sosial sebagai ukuran kebahagiaan justru menambah tekanan hidup. Selain itu, perilaku flexing berlebihan bisa membuat seseorang dianggap sombong dan kurang empati. Lebih baik tetap rendah hati dan biarkan pencapaian berbicara tanpa perlu banyak dipamerkan.
3. Flexing salah satu tanda insecure

Ironisnya, orang yang paling sering flexing bisa jadi adalah mereka yang paling merasa kurang. Mereka membutuhkan pengakuan untuk menutupi rasa tidak percaya diri. Dengan memamerkan kesuksesan di media sosial, mereka berusaha meyakinkan diri sendiri maupun orang lain bahwa hidup mereka sempurna.
Sayangnya, efek ini hanya sementara. Setelah rasa senang sesaat menghilang, perasaan tidak percaya diri dapat muncul kembali, bahkan lebih kuat. Daripada berusaha terlihat sempurna di mata publik, lebih baik membangun kepercayaan diri dari proses dan usaha nyata.
4. FOMO = Nggak flexing, takut ketinggalan?

Di era digital, flexing nyaris menjadi budaya. Kehidupan orang lain yang tampak “sempurna” di media sosial memicu efek FOMO (Fear of Missing Out), sehingga seseorang merasa tertinggal jika tidak menunjukkan pencapaian serupa.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Banyak yang tampak bahagia dan sukses di layar, tetapi menyimpan masalah di baliknya. Karena itu, penting untuk tetap hidup apa adanya tanpa merasa harus selalu tampil sempurna.
5. Bisa menjadi bumerang di kemudian hari

Tidak sedikit orang yang akhirnya kerepotan sendiri karena terlalu sering flexing. Ada yang memamerkan gaya hidup mewah padahal berasal dari utang atau pinjaman. Ketika kenyataan terungkap, reputasi dan kepercayaan dari orang sekitar bisa runtuh.
Selain itu, kebiasaan memamerkan kekayaan juga berisiko mengundang tindak kejahatan seperti pencurian atau penipuan. Niat ingin terlihat sukses justru bisa berujung pada hal yang merugikan.
Bangga dengan pencapaian pribadi tentu bukan hal yang salah. Namun, jika tujuannya hanya untuk pamer dan mencari validasi, perilaku tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Kebahagiaan sejati tidak datang dari jumlah likes atau komentar, melainkan dari cara menjalani hidup dengan jujur dan penuh rasa syukur.
Daripada terjebak dalam budaya flexing, lebih baik nikmati hidup dengan sederhana dan apa adanya. Toh, hidup tidak harus selalu dipamerkan.


















