Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Usai Drama Kebakaran, Prabowo Resmikan RDMP Kilang di Balikpapan

Pertamina melalui Sub Holding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) telah menyelenggarakan Closing Ceremony Project Financing RDMP Balikpapan pada Jumat (23/6/2023). (Dok. Pertamina)
Pertamina melalui Sub Holding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) telah menyelenggarakan Closing Ceremony Project Financing RDMP Balikpapan pada Jumat (23/6/2023). (Dok. Pertamina)

Balikpapan, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto meresmikan infrastruktur energi terintegrasi proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Megaproyek strategis nasional ini menelan investasi hingga Rp123 triliun.

Melalui proyek RDMP, kapasitas produksi BBM Kilang Pertamina Balikpapan meningkat signifikan dari sebelumnya 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor BBM.

Proyek ini sempat mengalami penundaan peresmian yang awalnya dijadwalkan pada Mei 2024. Penundaan tersebut terjadi menyusul sejumlah insiden kebakaran selama masa konstruksi, yang kemudian memunculkan dugaan adanya unsur sabotase.

“Saya tidak mengerti apakah kebakaran itu terjadi karena faktor teknis atau faktor lain. Karena itu saya perintahkan untuk dilakukan investigasi,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Balikpapan.

1. Investigasi dilakukan Kementerian ESDM

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia di ITJ Plumpang
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia di ITJ Plumpang (IDN Times/Pitoko)

Bahlil mengatakan, dirinya telah memerintahkan Inspektur Jenderal Kementerian ESDM Bambang Suswastono untuk mengusut tuntas penyebab kebakaran yang terjadi menjelang rencana peresmian proyek pada Mei 2024.

Menurut Bahlil, tidak tertutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan Indonesia mencapai kemandirian dan swasembada energi.

“Faktanya, ada pihak yang tidak rela Indonesia memiliki cadangan energi dan swasembada, sehingga kita terus bergantung pada impor BBM,” ungkapnya.

Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. “Akan kita hadapi dan kita selesaikan dalam waktu dekat,” tegas Bahlil.

2. Dua kali kebakaran kilang Pertamina Balikpapan

Pertamina melalui Sub Holding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) telah menyelenggarakan Closing Ceremony Project Financing RDMP Balikpapan pada Jumat (23/6/2023). (Dok. Pertamina)
Pertamina melalui Sub Holding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) telah menyelenggarakan Closing Ceremony Project Financing RDMP Balikpapan pada Jumat (23/6/2023). (Dok. Pertamina)

Berdasarkan catatan IDN Times, proyek RDMP Kilang Pertamina Balikpapan tercatat mengalami dua kali kebakaran sepanjang 2024. Insiden pertama terjadi pada 25 April 2024 pada dini hari. Saat itu, Pertamina tidak merinci area yang terdampak, namun memastikan tidak ada dampak terhadap masyarakat sekitar. Sebanyak tujuh unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api.

Kebakaran kedua terjadi pada 25 Mei 2024, juga pada dini hari, di Crude Distilling Unit (CDU) IV yang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 170 ribu barel per hari. Titik awal api terkonfirmasi berada di unit tersebut, yang saat kejadian berada dalam kondisi operasi normal dan tidak dalam masa perawatan.

Penanganan kebakaran melibatkan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Balikpapan bersama tim pemadam dari Pertamina Group. Api berhasil dipadamkan pada pukul 07.30 Wita tanpa menimbulkan korban jiwa.

Pertamina memastikan tidak ada korban jiwa dalam dua insiden kebakaran tersebut.

3. Kilang Balikpapan menjadikan Indonesia surplus energi

Kilang Balikpapan
Peresmian proyek RDMP kilang Pertamina di Balikpapan Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (IDN Times/SG Wibisono)

Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa beroperasinya RDMP Kilang Balikpapan menjadi langkah penting menuju surplus dan swasembada energi nasional. Kilang ini mampu meningkatkan produksi bensin hingga 5,8 juta kiloliter per tahun, dari total produksi nasional sekitar 14,2 juta kiloliter per tahun.

Sementara itu, kebutuhan bensin nasional diperkirakan mencapai 38 juta kiloliter per tahun. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 19 juta kiloliter bensin setiap tahunnya.

“Kita masih impor bensin sekitar 19 juta kiloliter per tahun,” kata Bahlil.

Untuk jenis solar, Indonesia telah mencatat surplus pada produk B40 dan B60 sebesar 1,4 juta kiloliter dari kebutuhan nasional sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Adapun impor masih dilakukan untuk solar jenis C51 dengan volume sekitar 600 ribu kiloliter.

“Ke depan, kapasitas akan terus ditingkatkan sehingga Indonesia nantinya hanya mengimpor crude atau minyak mentah,” pungkas Bahlil.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Usai Drama Kebakaran, Prabowo Resmikan RDMP Kilang di Balikpapan

12 Jan 2026, 22:45 WIBNews