Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dari Prasasti Yupa ke Kesultanan, Ini Deretan Kerajaan Besar di Kalimantan
Keraton Kesultanan Kutai (kukarkab.go.id)

Jejak sejarah mencatat, Kalimantan menjadi salah satu wilayah penting dalam perkembangan peradaban awal di Indonesia. Hal ini dibuktikan melalui Prasasti Yupa dari abad ke-5 Masehi yang menandai berdirinya Kerajaan Kutai Martadipura, kerajaan Hindu tertua di Nusantara.

Seiring masuknya Islam, sejumlah kesultanan besar bermunculan dan memainkan peran penting dalam perkembangan budaya, politik, dan ekonomi di Kalimantan. Kini, seluruh kerajaan tersebut telah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus warisan sejarah yang bernilai tinggi.

Berikut rangkuman sejumlah kerajaan besar yang pernah berjaya di Pulau Kalimantan:

1. Kesultanan Sambas

Keraton Kesultanan Sambas (commons.wikimedia.org/Wibowo Djatmiko)

Sebelum menjadi kerajaan Islam, wilayah Sambas dipimpin oleh Ratu Sepudak yang merupakan keturunan Majapahit. Perubahan besar terjadi saat Sultan Tengah dari Brunei datang dan menyebarkan ajaran Islam, yang kemudian diterima luas oleh masyarakat.

Kesultanan Sambas resmi berdiri pada 1671 ketika Raden Sulaiman naik takhta dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin. Ia merupakan menantu Ratu Sepudak setelah menikahi Mas Ayu Bungsu.

Pada 1685, kepemimpinan beralih kepada Raden Bima. Di masa pemerintahannya, pusat kerajaan dipindahkan ke Muara Ulakkan, kawasan strategis di pertemuan tiga sungai.

Kesultanan Sambas mengalami kemunduran hingga runtuh saat pendudukan Jepang pada 1942 dan konflik pascakemerdekaan. Wilayahnya kini menjadi bagian dari Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

2. Kesultanan Banjar

ilustrasi keraton Kesultanan Banjar antara tahun 1859 dan 1861 (commons.wikimedia.org/Neerlands-Oost-Indie)

Kesultanan Banjar didirikan pada 1520 oleh Pangeran Samudera yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha.

Pada masa kejayaannya di abad ke-15 hingga ke-17, wilayah kekuasaan Banjar mencakup sebagian besar Kalimantan Selatan hingga wilayah pesisir Kalimantan Timur dan Utara.

Perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dipimpin oleh Pangeran Antasari. Meski sempat memberikan perlawanan sengit, kekuatan Banjar melemah setelah wafatnya sang pemimpin. Pada 1860, Belanda resmi menghapus Kesultanan Banjar.

3. Kesultanan Berau

Sultan Muhammad Alimuddin dari Kesultanan Sambaliung di Berau. (IDN Times/Wibisono)

Kesultanan Berau berdiri sejak abad ke-14 dengan pusat pemerintahan di Sungai Lati. Pada abad ke-17, kerajaan ini terpecah akibat politik adu domba Belanda menjadi dua kekuatan, yakni Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur.

Sambaliung dikenal berani melawan Belanda, meski akhirnya pemimpinnya diasingkan. Sementara Gunung Tabur sempat memiliki wilayah kekuasaan luas hingga mendekati Brunei.

Kedua wilayah tersebut kemudian melebur menjadi Kabupaten Berau pada 1960.

4. Kesultanan Kutai

Salah seorang raja di Kesultanan Kutai Kartanegara. (IDN Times/Wibisono)

Kutai Kartanegara awalnya merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-14. Kerajaan ini kemudian berkembang menjadi kesultanan Islam setelah menaklukkan Kutai Martadipura pada abad ke-17.

Penggabungan tersebut melahirkan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada 1635. Pusat pemerintahan sempat berpindah dari Jembayan hingga akhirnya menetap di Tenggarong.

Masuknya Islam di wilayah Kutai dipengaruhi oleh para ulama dari Minangkabau dan Makassar. Pada awal abad ke-20, perekonomian Kutai berkembang pesat, salah satunya berkat aktivitas perusahaan dagang Belanda.

5. Kesultanan Bulungan yang menguasai wilayah hingga Malaysia dan Filipina

Museum Kesultanan Bulungan (indonesia.go.id/kesultanan bulungan)

Kesultanan Bulungan berdiri pada 1731 dan pernah menguasai wilayah pesisir Kalimantan Utara. Di bawah kepemimpinan Sultan Amril Mukminin, wilayah kekuasaannya berkembang pesat dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah.

Kesultanan ini dikenal memiliki sistem pemerintahan yang relatif kuat, termasuk pasukan keamanan yang terlatih. Hubungan dengan Belanda juga dimanfaatkan untuk pengelolaan sumber daya minyak dan gas.

Namun, masa kejayaan Bulungan berakhir tragis pada pertengahan abad ke-20 saat terjadi konflik Indonesia–Malaysia. Kesultanan ini hancur, bahkan istana dan peninggalan bersejarahnya turut musnah dalam peristiwa tersebut.

Sejarah panjang kerajaan-kerajaan di Kalimantan menunjukkan betapa strategisnya wilayah ini dalam perjalanan bangsa. Warisan tersebut kini menjadi bagian penting dari identitas budaya sekaligus pengingat akan kejayaan masa lalu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team