Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Takut Salah Bicara hingga Cemas Berlebihan, Ini 5 Tanda Overthinker

Kota Balikpapan
3 min read
Dari Takut Salah Bicara hingga Cemas Berlebihan, Ini 5 Tanda Overthinker
Ilustrasi seorang perempuan yang sedang overthingking (Pexels.com/RDNE Stock Project
  • Overthinking kerap muncul di era digital akibat tekanan informasi dan tuntutan, serta dapat mengganggu konsentrasi, pengambilan keputusan, kualitas tidur, dan memicu kelelahan mental.
  • Tandanya meliputi sulit menentukan pilihan, terus mengulang kesalahan masa lalu, menganalisis penilaian orang lain, dan takut mengecewakan hingga mengabaikan kebutuhan pribadi.
  • Overthinker juga mencemaskan masa depan secara berlebihan; langkah awalnya mengenali pikiran, fokus pada hal yang terkendali, beristirahat, membatasi informasi, dan mencari bantuan profesional bila aktivitas terganggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di era digital membuat banyak orang semakin mudah mengalami tekanan pikiran. Kondisi ini kerap dialami generasi muda yang setiap hari dihadapkan pada berbagai tuntutan pekerjaan, pendidikan, media sosial, hingga ekspektasi lingkungan sekitar.

Salah satu kebiasaan yang sering muncul adalah overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan. Hal-hal sederhana yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan justru bisa menjadi sumber kecemasan berkepanjangan.

Misalnya, terus memikirkan perkataan yang sudah disampaikan, takut membuat kesalahan, hingga mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi di masa depan.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat mengganggu konsentrasi, membuat seseorang sulit mengambil keputusan, mengganggu kualitas tidur, bahkan memicu kelelahan mental.

Lantas, bagaimana cara mengetahui apakah kamu termasuk orang yang sering mengalami overthinking? Berikut lima tanda yang perlu dikenali.

  1. 1. Sulit membuat keputusan

    Ilustrasi orang ragu-ragu.(pixabay.com/Tumisu)
    Ilustrasi orang ragu-ragu.(pixabay.com/Tumisu)

    Memilih pakaian yang akan dikenakan atau menentukan menu makanan terkadang bisa menjadi persoalan panjang bagi seorang overthinker.

    Mereka cenderung mempertimbangkan terlalu banyak kemungkinan sebelum mengambil keputusan. Kekhawatiran terhadap pilihan yang salah membuat proses menentukan sesuatu menjadi lebih lama.

    Padahal, tidak semua keputusan harus dipikirkan secara mendalam. Untuk urusan sederhana, memilih sesuatu yang nyaman dan sesuai kebutuhan sebenarnya sudah cukup.

  2. 2. Terus memikirkan kesalahan di masa lalu

    Ilustrasi ragu-ragu.(pexels.com/Liza Summer)
    Ilustrasi ragu-ragu.(pexels.com/Liza Summer)

    Tanda lainnya adalah kebiasaan mengulang kejadian yang sudah berlalu dalam pikiran.

    Seseorang mungkin terus bertanya-tanya apakah perkataan atau tindakan yang dilakukan sebelumnya sudah tepat. Bahkan, mereka kerap membayangkan kemungkinan lain yang seharusnya bisa dilakukan.

    Kebiasaan ini membuat seseorang sulit menerima kejadian masa lalu dan terus terjebak dalam penyesalan, meskipun situasinya sudah tidak bisa diubah.

  3. 3. Memikirkan penilaian orang lain

    ilustrasi ragu-ragu (pixabay.com/Tumisu)
    ilustrasi ragu-ragu (pixabay.com/Tumisu)

    Setelah berbincang dengan seseorang, seorang overthinker sering kali justru sibuk menganalisis kembali percakapan tersebut.

    Mereka mempertanyakan respons lawan bicara, mengkhawatirkan perkataan sendiri, atau takut dianggap melakukan sesuatu yang kurang tepat.

    Akibatnya, interaksi sosial yang seharusnya menyenangkan justru menjadi sumber kecemasan. Mereka juga cenderung terlalu memikirkan pendapat orang lain dibandingkan mengekspresikan diri secara alami.

  4. 4. Takut mengecewakan orang lain

    Ilustrasi ragu-ragu mengambil keputusan (pexels.com/Samson Katt)
    Ilustrasi ragu-ragu mengambil keputusan (pexels.com/Samson Katt)

    Kekhawatiran terhadap penilaian orang lain juga bisa membuat seseorang kesulitan menolak permintaan.

    Mereka cenderung memikirkan berbagai kemungkinan buruk jika tidak memenuhi harapan orang lain. Akibatnya, kebutuhan pribadi sering kali dikesampingkan demi menjaga perasaan orang di sekitarnya.

    Jika terus berlangsung, kebiasaan ini dapat membuat seseorang merasa terbebani karena terlalu berusaha memenuhi ekspektasi lingkungan.

  5. 5. Mencemaskan masa depan diri sendiri

    seorang pria yang sedang ragu-ragu dalam hidupnya
    Ilustrasi seorang pria yang sedang ragu-ragu dalam hidupnya (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Memikirkan masa depan merupakan hal yang wajar. Namun, kebiasaan tersebut bisa menjadi masalah ketika kecemasan justru mengganggu kehidupan sehari-hari.

    Seorang overthinker sering memikirkan berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi, mulai dari persoalan karier, hubungan, pendidikan, hingga kondisi keuangan.

    Alih-alih mempersiapkan diri menghadapi masa depan, mereka justru menghabiskan banyak energi untuk mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kendali.

    Jika beberapa tanda tersebut terasa familiar, bukan berarti kamu harus terus terjebak dalam kebiasaan overthinking.

    Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah belajar mengenali pikiran sendiri, membedakan kekhawatiran yang realistis dengan asumsi, serta mengarahkan perhatian pada hal-hal yang bisa dikendalikan.

    Melakukan aktivitas yang disukai, beristirahat cukup, dan membatasi paparan informasi berlebihan juga dapat membantu menjaga kesehatan mental.

    Jika kebiasaan tersebut sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional.

    Ingat, memikirkan masa lalu tidak akan mengubah kejadian yang sudah berlalu, begitu pula mencemaskan masa depan tidak selalu membuat semuanya berjalan sesuai harapan. Karena itu, penting untuk belajar menikmati kehidupan saat ini tanpa terus dibebani pikiran yang berlebihan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More