Grab Dorong UMKM Banjarmasin Naik Kelas, 25 Pelaku Usaha Terima Modal

Banjarmasin, IDN Times - Grab Indonesia bersama OVO dan OVO Finansial terus memperluas inklusi digital bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pedagang pasar tradisional seperti penjual sayur dan ikan, melalui program Kota Masa Depan #Berani Digital.
Sejak diluncurkan pada 2021, program pendampingan tersebut telah menjangkau lebih dari 200 ribu pelaku usaha di berbagai daerah. Banjarmasin menjadi kota ke-17 yang mendapatkan program ini. Sepanjang April hingga Mei 2026, berbagai kegiatan mulai dari pelatihan bisnis, strategi pemasaran, hingga akses permodalan telah digelar untuk mendukung pengembangan UMKM lokal.
"Kami mendukung seluruh pelaku UMKM, bukan hanya GrabFood Merchant," ujar Head of Expansion Territory Grab Indonesia, Yose Tireza Arizal, di Balai Kota Banjarmasin, Kamis (18/6/2026).
Program ini mendapat dukungan dari Kementerian UMKM RI, Pemerintah Kota Banjarmasin, APINDO, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
1. Sebanyak 25 UMKM Terpilih Mendapat Modal Usaha

Melalui program tersebut, puluhan pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di Banjarmasin memperoleh pelatihan digital, pengembangan usaha, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas. Mereka juga mendapatkan edukasi terkait pengelolaan keuangan dan akses pendanaan digital.
Tak hanya pelatihan, Grab juga menyalurkan bantuan modal kepada 25 UMKM terpilih melalui Program GrabModal Mantul. Yose menjelaskan, penerima bantuan dipilih berdasarkan penilaian risiko dan performa usaha secara objektif.
"Kami ingin menghadirkan dukungan yang benar-benar dibutuhkan pengusaha UMKM di daerah agar lebih adaptif dan mampu berkembang. Ketika UMKM semakin siap menghadapi era digital, manfaat ekonominya juga dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat," katanya.
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan layanan pembiayaan GrabModal by OVO Finansial. Hingga saat ini, layanan tersebut telah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp6 triliun kepada lebih dari 445 ribu mitra UMKM dan mitra pengemudi di Indonesia.
2. UMKM Didorong Manfaatkan Teknologi dan AI

Asisten Deputi Kementerian UMKM RI, Yogia Prihartiny, menegaskan bahwa transformasi digital UMKM kini tidak lagi sebatas "go online", tetapi juga harus mampu memanfaatkan teknologi seperti AI untuk meningkatkan daya saing usaha.
Menurutnya, penguatan ekosistem melalui pendampingan dan akses pembiayaan digital menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan sektor UMKM.
"Saat ini UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja di Indonesia. Karena itu, penguatan UMKM menjadi salah satu fokus pemerintah," ujar Yogia.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki sekitar 215 juta pengguna internet aktif dengan nilai ekonomi digital yang diproyeksikan mencapai US$100 miliar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pesatnya perkembangan e-commerce, layanan transportasi dan pengantaran digital, serta sistem pembayaran digital.
"Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar digital terbesar di Asia dan membuka peluang besar bagi UMKM daerah untuk menekan biaya operasional sekaligus memperluas pasar," tuturnya.
3. APINDO dan OJK Soroti Tantangan UMKM di Era Digital

Wakil Sekretaris Umum APINDO, Anggana Bunawan, menilai pelaku UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses pasar, pembiayaan, keterhubungan dengan rantai pasok yang lebih luas, hingga peningkatan kapasitas usaha.
"Program seperti Kota Masa Depan penting karena menghadirkan pendampingan dan ekosistem yang membantu UMKM lebih siap berkembang dan memanfaatkan peluang digital," katanya.
Sementara itu, Asisten Direktur Divisi Perlindungan Konsumen Edukasi dan Layanan Masyarakat (PEPK dan LMS) OJK Kalimantan Selatan, Andy Rahman Yuliman, menyoroti pentingnya peningkatan literasi keuangan di tengah berkembangnya layanan keuangan digital.
Menurutnya, pelaku UMKM perlu memahami cara memanfaatkan layanan keuangan formal secara aman dan bertanggung jawab, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital.
4. Banjarmasin punya potensi besar untuk UMKM

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj Ananda, menyebut program tersebut sangat strategis untuk meningkatkan daya saing sekitar 26 ribu UMKM di kota itu. UMKM sendiri menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Banjarmasin yang mencapai 5,66 persen pada 2025.
"Digitalisasi bukan untuk menggantikan cara berdagang yang sudah berjalan baik, melainkan membuka peluang baru yang lebih luas. Semoga program ini dapat membantu menjawab tantangan permodalan dan literasi digital para pelaku usaha," ujarnya.
Manfaat program ini juga dirasakan langsung oleh para pelaku usaha. Firly Norachim, pemilik Toko Mama Khas Banjar, mengaku digitalisasi membantu memperluas jangkauan pasar usahanya yang dirintis sejak 2020. Kini, bisnis oleh-oleh tersebut telah memiliki tiga outlet dan memanfaatkan layanan GrabMart untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Hal serupa disampaikan Wijaya Tjuatja, generasi kedua pengelola Pondok Patin Bakar. Ia menilai teknologi menjadi kunci agar usaha kuliner legendaris tersebut tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen.
"Kami melihat teknologi bukan sebagai pengganti, melainkan alat yang membantu usaha lokal seperti kami tetap relevan, terus berkembang, dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya," ujarnya.



















