Jangan Rugi di Bulan Suci! Ustaz Kalsel Ingatkan Keutamaan Ramadan

Banjarmasin, IDN Times - Ustaz Ahmad Walad Hadrawi menegaskan bahwa puasa Ramadan merupakan momentum penting untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara spiritual maupun sosial. Hal tersebut disampaikannya dalam tausiah seusai Salat Subuh di Masjid Al Falah Kompleks Bumi Pemurus Permai, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Senin (16/2/2026).
“Bulan Ramadhan bukan hanya penuh makna, tetapi juga penuh berkah, rahmah, dan maghfirah (ampunan Allah SWT),” ujarnya diberitakan Antara.
Ustaz Walad yang pernah menimba ilmu di Darul Musthafa Tarim, Hadramaut, Yaman, menjelaskan bahwa pahala puasa Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri. “Allah menyatakan bahwa puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya,” katanya.
1. Nilai ibadah di bulan Ramadan

Ia juga menekankan bahwa nilai pahala ibadah pada bulan suci Ramadan tidak sekadar berlipat ganda, tetapi bisa berlipat-lipat dibandingkan bulan lainnya. Sebagai contoh, pahala salat fardu di bulan Ramadan disebut lebih besar dibandingkan di luar Ramadan. Selain itu, terdapat malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan.
Menurutnya, banyak keutamaan puasa dan ibadah lain di bulan Ramadan, baik yang berdampak pada kesehatan fisik maupun pada pembinaan mental dan spiritual.
“Rugi bagi seorang Muslim yang tidak memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak amal ibadah,” ujarnya.
2. Awalan di bulan suci Ramadan

Ia mencontohkan sejumlah amalan khas Ramadan, seperti Salat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an. Salat Tarawih hanya dilaksanakan pada bulan Ramadan, sementara Al-Qur’an diturunkan pada bulan suci tersebut. Pada kesempatan itu, Ustaz Walad juga melanjutkan pengajian pekan sebelumnya mengenai Kalam Hikmah karya Ibnu Athaillah Al Askandari, seorang ulama dan ahli tasawuf asal Mesir.
3. Menyambut bulan Ramadan dengan suka cita

Ia mengutip pandangan Ibnu Athaillah tentang sikap manusia ketika menerima nikmat. Menurutnya, terdapat beberapa golongan manusia, di antaranya mereka yang bergembira dan bersyukur, serta yang bersikap biasa atau netral.
“Sikap yang masih tergolong baik adalah yang tetap menyadari nikmat tersebut. Karena ada juga yang bersikap cuek dan tidak peduli,” tuturnya.
Di akhir tausyiah, ia mengajak jemaah untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadan 1447 Hijriah yang tidak lama lagi tiba, seraya berdoa agar dipertemukan kembali dengan bulan suci tersebut.


















