Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Puasa Ubah Ritme Hidup, Ini 5 Perubahan Fisik dan Mental yang Terjadi

Seorang wanita sedang duduk di kursi sembari membaca buku.
Seorang wanita sedang duduk di kursi sembari membaca buku. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Puasa tidak sekadar mengubah jam makan. Ibadah ini turut menggeser hampir seluruh ritme kehidupan sehari-hari, mulai dari pola tidur, aktivitas fisik, hingga kebiasaan yang sebelumnya berjalan otomatis.

Waktu tidur menjadi lebih singkat atau terpecah karena sahur dan ibadah malam. Aktivitas harian pun menyesuaikan dengan kondisi energi tubuh. Pada awalnya, perubahan ini terasa menantang. Namun seiring waktu, banyak orang menyadari dampaknya jauh lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan haus.

Di balik proses adaptasi tersebut, puasa membuka ruang baru untuk belajar menyeimbangkan kebutuhan fisik dan mental. Berikut lima dampak perubahan pola hidup selama menjalani ibadah puasa:

1. Meningkatnya kesadaran terhadap tubuh

Seorang perempuan sedang melihat ke samping.
Seorang perempuan sedang melihat ke samping. (pexels.com/PNW Production)

Selama puasa, seseorang menjadi lebih peka terhadap sinyal tubuh, seperti rasa lapar, haus, lelah, maupun kenyang. Kondisi ini membuat kita tidak lagi mengabaikan batas kemampuan fisik.

Dalam psikologi, kesadaran terhadap tubuh (body awareness) berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Dengan mendengarkan tubuh, seseorang cenderung lebih bijak mengambil keputusan, tidak memaksakan diri, dan lebih mampu merawat diri secara menyeluruh.

2. Pola tidur yang berubah dan dampaknya pada emosi

Ilustrasi cara menangani overthinking sebelum kamu tidur.
Ilustrasi cara menangani overthinking sebelum kamu tidur. (pexels.com/Hanna Pad)

Perubahan jam tidur akibat sahur dan ibadah malam dapat memengaruhi kestabilan emosi, terutama pada awal puasa. Kurangnya waktu istirahat sering membuat seseorang lebih mudah lelah atau sensitif.

Namun, setelah beradaptasi, banyak orang justru merasakan kualitas istirahat yang lebih bermakna. Proses ini melatih kesabaran, pengendalian diri, serta kemampuan mengelola emosi dalam kondisi terbatas.

3. Latihan mengatur energi dan fokus

Seorang wanita sedang duduk di kursi sembari membaca buku.
Seorang wanita sedang duduk di kursi sembari membaca buku. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Dengan asupan energi yang terbatas di siang hari, tubuh belajar menggunakan energi secara lebih efisien. Aktivitas dilakukan dengan perhitungan, tidak lagi serba tergesa atau berlebihan.

Secara psikologis, kemampuan mengatur energi membantu mengurangi kelelahan mental. Ketika seseorang tidak memaksakan diri, tingkat stres cenderung menurun dan pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih fokus serta terarah.

4. Munculnya kedisiplinan dan struktur baru

Seorang wanita berhijab sedang tersenyum di pantai.
Seorang wanita berhijab sedang tersenyum di pantai. (pexels.com/PNW Production)

Puasa menciptakan struktur waktu yang jelas, seperti jadwal sahur, berbuka, beribadah, beristirahat, dan beraktivitas. Pola ini menghadirkan keteraturan yang menenangkan pikiran.

Kedisiplinan yang terbentuk selama Ramadan kerap berdampak jangka panjang. Seseorang menjadi lebih terlatih mengatur waktu dan kebiasaan, bahkan setelah bulan puasa berakhir.

5. Meningkatnya ruang refleksi dan kesadaran diri

Tiga orang perempuan sedang berdoa.
Tiga orang perempuan muslim sedang berdoa di masjid. (pexels.com/Thirdman)

Perubahan pola hidup selama puasa menghadirkan jeda dari rutinitas lama. Jeda ini membuka ruang untuk merenung, baik tentang tujuan hidup, relasi dengan orang lain, maupun hubungan dengan diri sendiri.

Refleksi diri membantu seseorang mengenali pola pikir yang melelahkan dan memperbaikinya. Dari proses ini, banyak orang merasa lebih damai dan lebih terhubung dengan nilai-nilai hidup yang esensial.

Perubahan pola hidup selama puasa memang membutuhkan penyesuaian. Namun di balik tantangan tersebut tersimpan peluang untuk bertumbuh, baik secara fisik maupun psikologis. Jika dijalani dengan penuh kesadaran, puasa bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan proses pembelajaran yang memperkaya kualitas hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Di Balik Rutinitas dan Tawa, 5 Perasaan Ini Sering Tak Pernah Terungkap

16 Feb 2026, 17:00 WIBNews