Jangan Terkecoh Perhatian Manis! Ini 5 Tanda Child Grooming di Media Sosial

Child grooming kerap tidak muncul dalam bentuk yang langsung terlihat berbahaya. Sebaliknya, praktik ini sering menyamar sebagai perhatian, kepedulian, hingga kedekatan yang tampak wajar—terutama di media sosial. Karena itu, banyak kasus baru terungkap ketika dampaknya sudah menimbulkan luka emosional dan psikologis yang mendalam.
Tak sedikit anak dan remaja, bahkan orang dewasa di sekitarnya, tidak menyadari bahwa batas aman sedang dilanggar. Sejumlah tanda grooming kerap dianggap sebagai “sekadar bercanda”, “hanya ngobrol biasa”, atau “cuma teman online”. Padahal, normalisasi inilah yang membuat praktik child grooming sulit dikenali dan dicegah sejak dini.
Berikut lima tanda child grooming yang sering dianggap normal:
1. Perhatian berlebihan yang terasa menyenangkan

Salah satu tanda awal grooming adalah perhatian yang diberikan secara intens dan konsisten. Pelaku bisa mengirim pesan setiap hari, rutin menanyakan kabar, hingga memastikan korban merasa diperhatikan.
Pada tahap awal, hal ini sering terasa menyenangkan—terutama bagi anak atau remaja yang sedang membutuhkan validasi emosional. Namun, perhatian tersebut bukan tanpa tujuan. Pola ini dirancang untuk membangun ikatan emosional dan ketergantungan. Ketika korban mulai merasa “hanya dia yang peduli”, pelaku telah menempatkan dirinya sebagai figur penting dalam kehidupan emosional korban.
2. Percakapan yang perlahan menjadi terlalu pribadi

Grooming biasanya diawali dengan obrolan ringan, lalu perlahan bergeser ke topik yang lebih pribadi. Pelaku mulai menanyakan masalah keluarga, perasaan terdalam, ketakutan, hingga konflik pribadi korban.
Perubahan ini kerap terasa wajar karena terjadi secara bertahap. Namun, ketika anak mulai membuka hal-hal yang seharusnya hanya dibagikan kepada orang terdekat atau keluarga, itu bisa menjadi sinyal bahwa batas privasi mulai ditembus.
3. Ajakan menyimpan rahasia dari orang lain

Tanda berbahaya lainnya adalah ajakan untuk merahasiakan hubungan atau percakapan. Pelaku bisa mengatakan, “Ini rahasia kita ya,” atau “Nanti orang lain salah paham.”
Kalimat semacam ini bertujuan menjauhkan korban dari pengawasan orang dewasa lain dan menciptakan ilusi kedekatan khusus. Ketika rahasia mulai dibangun, korban semakin terisolasi dan cenderung kesulitan mencari bantuan saat merasa tidak nyaman.
4. Manipulasi emosi dengan rasa bersalah atau takut kehilangan

Pelaku grooming sering memainkan emosi korban. Mereka bisa berpura-pura sedih, kecewa, atau tersinggung ketika pesan tidak dibalas. Bahkan, ada yang mengancam akan pergi atau berhenti peduli jika korban tidak menuruti keinginannya.
Teknik ini membuat korban merasa bertanggung jawab atas perasaan pelaku. Anak atau remaja akhirnya terjebak dalam rasa bersalah dan takut kehilangan, sehingga tetap mempertahankan komunikasi meski sebenarnya sudah merasa tertekan.
5. Normalisasi perilaku yang melanggar batas

Seiring waktu, pelaku mulai menormalisasi perilaku yang sebenarnya tidak pantas. Misalnya, melontarkan candaan bernuansa seksual, meminta foto pribadi, atau membahas tubuh dengan alasan “sekadar bercanda”.
Karena sudah merasa dekat dan percaya, korban kerap menganggap perilaku tersebut sebagai hal biasa. Padahal, inilah pintu masuk menuju bentuk eksploitasi yang lebih serius.
Child grooming tidak selalu tampak sebagai kejahatan sejak awal. Ia tumbuh dari perhatian, percakapan, dan kedekatan yang terlihat normal. Memahami tanda-tandanya menjadi langkah penting untuk melindungi anak dan remaja di ruang digital.
Ketika muncul rasa tidak nyaman, perasaan tersebut tidak boleh diabaikan. Kesadaran, komunikasi terbuka antara anak dan orang tua, serta keberanian untuk berbicara menjadi benteng utama dalam mencegah child grooming sejak dini.


















