Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kadisdikbud Pontianak Tegaskan Tak Ada Siswa Titipan pada SPBM 2026
Ilustrasi siswa SMP di Balikpapan. (Dok. Disdikbud Balikpapan)

Pontianak, IDN Times - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Pontianak, Sri Sujiarti, memastikan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 untuk jenjang SMP berlangsung tanpa celah praktik titipan.

Dia menegaskan, penerimaan siswa SMP tahun ini sepenuhnya dilakukan secara daring, sehingga seluruh proses berjalan otomatis melalui sistem tanpa intervensi pihak manapun.

“Yang berubah itu seperti SMP, yang tahun lalu semi online, sekarang menjadi online murni. Jadi 100 persen tidak ada tatap muka. Mereka langsung membuat akun dan mendaftar lewat sistem, kemudian diverifikasi oleh sistem,” jelasnya, Jumat (1/5/2026).

1. Sistem dirancang untuk tutup ruang kecurangan

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Pontianak, Sri Sujiarti. (IDN Times/Teri).

Dengan mekanisme tersebut, Sri menekankan bahwa praktik ‘titipan’ tidak lagi memungkinkan terjadi. Sistem dirancang untuk menutup ruang kecurangan dan memastikan proses seleksi berjalan adil bagi semua calon peserta didik.

“Kita memang tidak bisa mengakomodir titipan, karena kita sudah menggunakan sistem. Sistem ini menjaga kita untuk tidak bermain-main, jadi lebih adil karena kita tidak melihat siapa anak siapa,” tegasnya.

2. Sistem lengkapi daftar cadangan

ilustrasi siswa SMP sedang belajar (pexels.com/Julia M Cameron)

Selain itu, sistem juga dilengkapi dengan daftar cadangan. Jika peserta yang lolos seleksi utama tidak melakukan daftar ulang, maka posisi tersebut otomatis diisi oleh peserta dari daftar cadangan berdasarkan peringkat.

“Setelah sistem berlangsung, ada data cadangan. Kalau cadangan tidak daftar, maka mungkin bisa diisi dari yang belum dapat sekolah. Tapi sekolah tidak bisa memilih,” jelasnya.

Untuk jalur penerimaan, komposisinya masih sama seperti tahun sebelumnya, yakni domisili, afirmasi, mutasi, dan prestasi.

Namun, terdapat penyesuaian pada jalur prestasi dengan peningkatan bobot hingga 70 persen, termasuk memasukkan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai indikator penilaian.

3. Hapuskan istilah sekolah favorit

Ilustrasi siswa SMP di Balikpapan. (Dok. Disdikbud Balikpapan)

Sri juga menegaskan bahwa tidak ada lagi istilah sekolah favorit dalam sistem pendidikan saat ini. Menurutnya, seluruh sekolah memiliki kualitas yang setara, meski persepsi masyarakat masih berbeda.

“Sekarang tidak boleh ada sekolah terbaik. Semua sekolah sama, hanya mungkin persepsi masyarakat saja yang berbeda,” tukasnya.

Editorial Team