Kaltim Waspada Karhutla, Lima Daerah Jadi Sorotan Risiko Tinggi
Samarinda, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengintensifkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui dua strategi utama.
Pelaksana Harian Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim, Sugeng Priyanto, mengatakan strategi tersebut meliputi pemantauan titik panas selama 24 jam serta penyiaran radio siaga bencana.
“Strategi pertama, pemantauan 24 jam titik panas. Kedua, siaran radio siaga bencana untuk memberikan pembaruan data sekaligus imbauan kepada masyarakat,” ujar Sugeng diberitakan Antara di Samarinda, Minggu (5/4/2026).
1. Proses penetapan status siaga darurat daerah

Selain itu, BPBD Kaltim tengah memproses penetapan status siaga darurat daerah guna mempercepat mobilisasi sumber daya, termasuk dukungan dari pemerintah pusat seperti helikopter patroli udara.
Menurut Sugeng, penetapan status tersebut akan mempermudah pencairan anggaran darurat sekaligus memaksimalkan pengerahan peralatan penanggulangan karhutla dari tingkat nasional ke daerah.
Berdasarkan kajian risiko bencana terbaru, BPBD Kaltim mengidentifikasi lima kabupaten dengan potensi tinggi terjadinya karhutla, yakni Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau.
2. Kolaborasi lintas sektor

Dalam penanganannya, BPBD Kaltim mengedepankan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, hingga media massa.
Kalangan pelaku usaha di sektor perkebunan dan kehutanan juga didorong untuk berperan aktif, bersinergi dengan masyarakat melalui Program Desa Tangguh Bencana.
Di sisi lain, personel Tim Reaksi Cepat (TRC) telah disiagakan di 10 kabupaten dan kota untuk melakukan kaji krisis secara cepat apabila terjadi bencana.
3. Memastikan ketersediaan logistik

BPBD Kaltim juga memastikan ketersediaan logistik, mulai dari bahan makanan hingga kebutuhan khusus bayi, dalam kondisi aman melalui Program Kaltim Peduli Bencana.
Sugeng mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan dalam upaya mitigasi bencana.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk memegang teguh filosofi mitigasi, yakni kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita,” pungkasnya.


















