Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Lom Plai 2026 Masuk KEN, Bukti Budaya Dayak Wehea Makin Mendunia

Lom Plai 2026 Masuk KEN, Bukti Budaya Dayak Wehea Makin Mendunia
ilustrasi masyarakat Dayak (pexels.com/Andar Motret)

Samarinda, IDN Times - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan komitmennya dalam melestarikan nilai-nilai tradisi yang telah mengakar di masyarakat. Salah satunya melalui penyelenggaraan rangkaian pesta adat Lom Plai 2026 di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa Lom Plai bukan sekadar perayaan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat Dayak Wehea di tengah arus modernisasi.

“Pesta adat Lom Plai merupakan manifestasi nyata keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga warisan budaya mereka,” ujar Ririn saat dikonfirmasi Antara di Samarinda, Senin (23/3/2026).

1. Wisata unggulan di Kaltim

Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim), Ririn Sari Dewi.
Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim), Ririn Sari Dewi. (Dok. Istimewa)

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak Maret hingga April ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan. Bahkan, Lom Plai telah masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Tradisi tahunan ini diawali dengan prosesi sakral Ngesea Egung atau pemukulan gong pada 23 Maret, sebagai penanda dimulainya seluruh rangkaian ritual adat.

Selanjutnya, masyarakat adat melaksanakan ritual Laq Pesyai dengan berjalan bersama menuju hulu Sungai Wehea untuk mengambil buah hutan dan rotan yang akan digunakan sebagai perlengkapan upacara.

Ritual kemudian berlanjut ke tahap Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min, yang menjadi simbol penetapan batas wilayah hulu dan hilir kampung menggunakan anyaman rotan.

2. Prosesi ritual secara tertutup

Suku Dayak
potret Suku Dayak (instagram.com/bobonsantoso)

Keunikan budaya Wehea juga terlihat dalam ritual Ngelwung Pan, di mana para perempuan adat menjalankan prosesi spiritual secara tertutup di bawah rumah keturunan Hepui.

Memasuki April, masyarakat mulai membangun pondok darurat di pinggir sungai melalui tradisi Naq Jengea sebagai persiapan menuju puncak perayaan.

Puncak acara, yang dikenal sebagai Bob Jengea, dimeriahkan dengan berbagai atraksi budaya, seperti pawai adat, tari Hudoq, hingga pertunjukan perang-perangan di atas sungai yang disebut Seksiang.

3. Ritual Embos Epaq Plai

Suku Dayak
ilustrasi masyarakat Dayak (unsplash.com/Ainun Jamila)

Seluruh rangkaian pesta adat ini akan ditutup dengan ritual Embos Epaq Plai pada 29 April 2026. Ritual tersebut bertujuan membersihkan kampung dari hal-hal buruk sekaligus memohon keberkahan untuk musim tanam berikutnya.

Ririn berharap sinergi antara pemangku adat dan pemerintah daerah dapat terus terjalin demi menjaga keberlanjutan tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.

“Kami berharap kolaborasi ini terus terjaga agar tradisi Lom Plai tetap lestari dan dikenal luas sebagai kekayaan budaya Indonesia,” tutupnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Lom Plai 2026 Masuk KEN, Bukti Budaya Dayak Wehea Makin Mendunia

25 Mar 2026, 09:00 WIBNews