Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengurai Akar Kemiskinan Petani di Indonesia

ilustrasi bertani.
ilustrasi bertani (pexels.com/jakeheinemann)

Petani merupakan tulang punggung ketahanan pangan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun di balik peran strategis tersebut, petani masih kerap dikaitkan dengan kemiskinan dan keterbatasan ekonomi. Kondisi ini bukan tanpa sebab, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah persoalan struktural dan sistemik.

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memutus rantai kemiskinan, dibutuhkan intervensi serius dari pemerintah serta pemangku kepentingan terkait, mulai dari reformasi agraria, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pembangunan infrastruktur pendukung pertanian.

Berikut sejumlah faktor utama yang menyebabkan petani masih berada dalam kondisi ekonomi yang rentan:

1. Struktur pemilikan tanah yang tidak merata

ilustrasi bertani.
ilustrasi bertani (pexels.com/zenchung)

Masalah klasik yang masih dihadapi petani adalah keterbatasan kepemilikan lahan. Banyak petani hanya menggarap lahan sempit, bahkan tidak memiliki tanah sendiri dan berstatus sebagai buruh tani. Kondisi ini membuat pendapatan petani terbatas dan menyulitkan mereka untuk mengembangkan usaha pertanian secara berkelanjutan.

2. Ketergantungan pada musim dan cuaca

ilustrasi bertani.
ilustrasi bertani (pexels.com/zenchung)

Sektor pertanian sangat bergantung pada kondisi alam. Perubahan iklim, seperti kekeringan berkepanjangan atau curah hujan ekstrem, kerap menyebabkan gagal panen. Tanpa dukungan sistem irigasi yang memadai, teknologi adaptif, dan asuransi pertanian, petani berisiko mengalami kerugian besar.

3. Kurangnya akses terhadap teknologi dan modal

ilustrasi bertani.
ilustrasi bertani (pexels.com/jordanmv)

Teknologi pertanian modern terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Namun, banyak petani, khususnya di daerah pedesaan dan terpencil, belum memiliki akses terhadap teknologi tersebut. Keterbatasan modal, minimnya informasi, serta sulitnya memperoleh kredit atau pembiayaan menjadi hambatan utama.

4. Rantai pasokan yang tidak efisien

ilustrasi bertani .
ilustrasi bertani (pexels.com/jordanmv)

Petani masih sering menjual hasil panen melalui rantai distribusi yang panjang, melibatkan tengkulak dan pedagang perantara. Akibatnya, harga jual di tingkat petani menjadi rendah, sementara harga di tingkat konsumen tetap tinggi. Posisi tawar petani pun menjadi lemah.

5. Kurangnya pengetahuan manajemen dan pemasaran

ilustrasi bertani.
ilustrasi bertani (pexels.com/jordanmv)

Sebagian petani masih berfokus pada proses produksi tanpa dibarengi kemampuan manajemen dan pemasaran. Minimnya pengetahuan tentang penentuan harga, pengemasan, hingga akses pasar membuat hasil pertanian sulit bersaing dan tidak memberikan nilai tambah yang optimal.

Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, diperlukan peran aktif pemerintah dan berbagai pihak dalam memberikan dukungan menyeluruh kepada petani. Mulai dari reformasi kebijakan pertanian, peningkatan akses pembiayaan, pelatihan manajemen usaha tani, hingga perluasan akses pasar.

Dengan langkah yang tepat dan berkelanjutan, kesejahteraan petani diharapkan dapat meningkat, sekaligus menghapus stigma kemiskinan yang selama ini melekat pada sektor pertanian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News Kalimantan Timur

See More

Industri Galangan Kapal Kaltim Menggeliat, Pemprov Usul PPN 0 Persen

10 Feb 2026, 22:30 WIBNews