Korban yang Diduga Keracunan MBG di Ketapang Bertambah Jadi 417 Orang

- Update korban, kini jadi 417 orang
- Sebagian korban sudah pulang, dan masih ada yang dirawat
- Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan korban belum keluar hingga saat ini, dengan dugaan awal berasal dari perkedel tahu.
Ketapang, IDN Times - Korban dugaan keracunan massal akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi oleh ratusan siswa dan guru di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) kian bertambah. Sebelumnya, ratusan siswa dan guru dari sekolah di Ketapang mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Kalimantan Barat, Agus Kurniawan menuturkan, korban dugaan keracunan perkedel tahu menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) terus bertambah.
1. Korban sebanyak 417 orang

Agus menuturkan bahwa hingga hari ke-5 saat ini, total korban diduga keracunan MBG menjadi 417 orang.
“Untuk update sampai dengan hari ini Minggu, 8 Februari 2026, jumlah total terdampak 417 orang,” terang Agus, pada Minggu (8/2/2026).
Dari jumlah itu, kata Agus, ada delapan orang yang masih dirawat di Puskesmas Marau dan RSUD dr Agoesdjam Ketapang. Selebihnya sudah diperbolehkan pulang dengan kondisi yang baik.
“Saat ini tersisa delapan orang yang masih. Lima dirawat di Puskesmas Marau dan tiga lainnya dirujuk ke RSUD dr Agoesdjam Ketapang,” lanjutnya.
2. Sebagian korban sudah pulang, dan masih ada yang dirawat

Dalam perkembangan terbaru, pasien yang dirujuk ke RSUD dr Agoesdjam atas nama Andre, siswa SMP sudah pulih. Sedangkan Selvia Lestari, guru SMP dan Yeyen masih ditangani lebih lanjut. Agus menuturkan, pihaknya masih melakukan pemantauan terus dilakukan secara berkelanjutan, sekaligus evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
“Kami selalu memonitor ke Dinas Kesehatan Ketapang untuk data dan perkembangan, begitu juga untuk update kondisi terkini kami selalu koordinasi dengan Korwil MBG Ketapang,” imbuhnya.
3. Sampel uji lab belum keluar

Agus mengatakan, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan korban belum keluar hingga saat ini.
“Untuk hasil uji lab, belum keluar,” ungkapnya.
Kuat dugaan keracunan makanan yang gejalanya mual dan muntah berasal dari perkedel tahu.
“Dugaan awal kejadian berasal dari perkedel tahu, yang dibuat jam tujuh malam pada hari Selasa, 3 Februari 2026. Kemudian diolah jam dua dini hari pada Rabu, 4 Februari 2026,” terangnya.
Agus mengatakan, dugaan keracunan menu MBG ini terjadi pada Rabu, 4 Januari 2026. Pagi Rabu itu, menu yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Marau Riam Batu Gading, terdiri dari nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi dan wortel serta puding.
Pihaknya baru menerima laporan dugaan keracunan dari pihak sekolah pada Kamis (5/2/2026) pagi. Dalam laporan itu, banyak siswa yang tidak masuk sekolah dikarenakan mengalami mual dan muntah.
Menindaklanjuti informasi tersebut, pengawas gizi, pengawas keuangan, bersama asisten lapangan (aslap) langsung mendatangi lokasi dan berkoordinasi dengan pihak sekolah. Selanjutnya, pihak sekolah membawa anak-anak yang terdampak ke Puskesmas Marau.
“Jadi ini akibat menu yang didistribusikan pada hari Rabu kemarin, dan untuk hari Kamis (saat heboh keracunan) distribusi menu MBG dihentikan, karena fokus penanganan siswa yang dirawat,” tukasnya.

















