Rahasia Anak Tumbuh Percaya Diri, Dimulai dari Cara Orang Tua Bersikap

Percaya diri bukanlah sifat bawaan sejak lahir, melainkan hasil dari proses panjang dalam pengasuhan dan pengalaman hidup anak. Anak yang percaya diri bukan berarti tidak pernah takut atau ragu, tetapi memiliki keyakinan bahwa dirinya berharga dan mampu menghadapi tantangan.
Dalam psikologi perkembangan, rasa percaya diri tumbuh dari bagaimana anak diperlakukan, didengar, dan dihargai sejak usia dini. Karena itu, pola asuh orang tua memegang peran penting dalam membentuk citra diri anak.
Berikut tujuh pola asuh yang secara psikologis dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri:
1. Berikan penerimaan tanpa syarat

Anak membutuhkan penerimaan apa adanya, bukan hanya ketika berprestasi atau berperilaku baik. Ketika orang tua menunjukkan kasih sayang tanpa syarat, anak belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh pencapaian semata.
Konsep unconditional positive regard yang diperkenalkan psikolog Carl Rogers menekankan bahwa penerimaan tanpa syarat menjadi fondasi kesehatan psikologis yang kuat. Anak yang tumbuh dengan penerimaan ini cenderung lebih berani mencoba dan tidak takut gagal.
2. Dengarkan perasaan anak dengan serius

Mendengarkan anak bukan sekadar mendengar kata-katanya, tetapi juga memahami emosinya. Respons empatik membuat anak merasa perasaannya penting dan dihargai.
Psikolog John Gottman menyebut, anak yang emosinya divalidasi memiliki kecerdasan emosional lebih baik dan merasa aman mengekspresikan diri. Dari rasa aman tersebut, kepercayaan diri berkembang secara alami.
3. Hindari membandingkan anak dengan anak lain

Perbandingan sering dilakukan dengan tujuan memotivasi, namun justru dapat melukai harga diri anak. Anak yang sering dibandingkan cenderung merasa dirinya selalu kurang.
Alfred Adler menjelaskan bahwa rasa rendah diri dapat muncul ketika anak merasa tidak pernah cukup baik. Sebaliknya, fokus pada perkembangan dan usaha anak akan membantu ia mengenali kekuatan dirinya.
4. Beri anak kesempatan mengambil keputusan

Memberikan pilihan sederhana, seperti memilih pakaian atau menentukan urutan aktivitas, membantu anak merasa dipercaya.
Menurut Erik Erikson, pada tahap perkembangan tertentu anak membutuhkan rasa otonomi dan inisiatif. Jika terlalu dikontrol, anak bisa tumbuh dengan keraguan terhadap kemampuan dirinya.
5. Fokus pada usaha, bukan hanya hasil

Memuji usaha anak membantu mereka memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.
Psikolog Carol Dweck melalui konsep growth mindset menekankan bahwa anak yang dihargai usahanya akan lebih percaya diri menghadapi tantangan dan berani mencoba hal baru.
6. Jadilah contoh percaya diri yang sehat

Anak belajar melalui pengamatan. Cara orang tua menghadapi kesalahan, menerima kritik, dan berbicara tentang diri sendiri akan ditiru.
Teori social learning dari Albert Bandura menunjukkan bahwa keteladanan memiliki pengaruh besar dalam pembentukan perilaku anak.
7. Ciptakan rumah sebagai tempat aman secara emosional

Rumah yang aman adalah tempat anak boleh salah, belajar, dan mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi.
Psikolog Diana Baumrind menyebut pola asuh demokratis—hangat namun tetap memiliki batasan—sebagai pola asuh yang paling mendukung perkembangan kepercayaan diri anak.
Membangun kepercayaan diri anak bukan berarti menjadikannya selalu unggul, tetapi menanamkan keyakinan bahwa dirinya berharga dan mampu bertumbuh. Pola asuh yang penuh empati dan menghargai proses akan meninggalkan jejak positif hingga anak dewasa.


















