Ulama Banjarmasin Ingatkan Jemaah: Hasil Ibadah Tetap di Tangan Allah

Banjarmasin, IDN Times - Guru Haji Saiful Anshari mengingatkan kaum Muslim agar tidak bersikap sombong dalam menjalankan ibadah. Pesan tersebut disampaikan dalam tausyiah usai Salat Subuh di Masjid Assa’adah, Kompleks Beruntung Jaya, Banjarmasin, Selasa (10/2/2026).
“Amal ibadah itu merupakan usaha dan ikhtiar manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, yang menentukan hasilnya tetap Allah SWT,” ujarnya diberitakan Antara di hadapan jemaah.
Pengasuh salah satu pondok tahfiz di Kota Banjarmasin itu menegaskan bahwa meski hasil akhir berada di tangan Allah, manusia tetap wajib berikhtiar melalui ibadah sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.
1. Pembahasan dakwah ulama di Banjarmasin

Dalam kajian rutin bertema Sifat 20 atau ajaran tarekat Asy’ariyah, Guru Saiful mengulang materi pekan sebelumnya mengenai Wahdaniyat (Keesaan Allah), sebelum melanjutkan pembahasan tentang Fana (ketidak-kekalan seluruh ciptaan Allah).
Pada kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa berbagai kondisi kehidupan manusia, baik kekurangan maupun kecukupan, merupakan bagian dari rahmat Allah. Menurutnya, keadaan seperti tidak memiliki harta, kaya, maupun miskin telah diatur oleh Allah dengan hikmah yang sering kali tidak disadari manusia.
2. Sifat maha kuasa dari Tuhan

Guru Saiful menambahkan bahwa sifat Allah tidak terbatas hanya 20, melainkan tidak terhingga. Namun, menurut ulama Asy’ariyah, kemampuan manusia untuk mempelajari sifat-sifat tersebut secara sistematis dirumuskan dalam 20 sifat wajib. Hal serupa juga berlaku pada jumlah malaikat yang tidak terhingga, tetapi umat Islam diwajibkan mengetahui sepuluh malaikat.
“Keliru jika memahami bahwa sifat Allah hanya 20 dan malaikat hanya sepuluh,” tegasnya.
3. Kisah umat manusia di zaman lampau

Sebelum mengakhiri tausyiah, Guru Saiful juga menyinggung sejumlah kisah dalam sejarah umat manusia, termasuk peristiwa perselisihan putra Nabi Adam serta kisah Nabi Adam dan Hawa yang diturunkan dari surga akibat melanggar larangan Allah.
Selain itu, ia turut menanggapi keberadaan film “Kuyank” produksi sineas Banjar yang tengah tayang di sejumlah bioskop. Menurutnya, film tersebut dinilai dapat memengaruhi citra masyarakat Banjar, meski fenomena yang diangkat hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat.


















