Pelaku Usaha di Pontianak Terdampak Kabut Asap Kebakaran Hutan

- Kabut asap kiriman dari kabupaten terdampak karhutla masih menyelimuti Pontianak, meski kota ini tidak memiliki titik api. Pemprov Kalbar mengerahkan pesawat OMC untuk penyemaian hujan.
- Pedagang penyewaan mainan, Wati, mengalami penurunan pengunjung dan pendapatan akibat asap; anak-anak datang memakai masker serta tidak betah bermain. Ia meminta pembakaran lahan dihentikan.
- Ketua DPRD Pontianak menyebut kabut asap berpotensi berlangsung hingga September. Meski hujan telah turun dan Pontianak relatif aman, masyarakat diimbau tidak membakar lahan.
Pontianak, IDN Times - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih menghantui warga Kalimantan Barat (Kalbar). Kabut asap masih tebal di sejumlah wilayah, salah satunya Kota Pontianak. Padahal, Pontianak tak ada titik api, namun tebalnya asap yang muncul merupakan asap kiriman dari Kabupaten.
Dalam beberapa hari terakhir terpantau hujan di sejumlah wilayah di Kota Pontianak, namun hujan tersebut tak merata karena hujan yang turun diduga adalah hujan buatan yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Kalbar.
Gubernur Kalbar, Ria Norsan sendiri menuturkan, pihaknya telah menerima bantuan 3 pesawat OMC, 2 di antaranya dikirim ke Kabupaten Ketapang (wilayah karhutla paling terdampak), dan 1 unit di Kota Pontianak.
“Kuta ada OMC pesawat untuk benih hujan pakai garam, ada dapat 3, 2 kita serahkan di Ketapang, 1 untuk kita. Ketapang sekarang berangsur pulih dan di daerah kita udah mulai tidak terlalu parah kebakarannya,” terang Norsan.
1. Pedagang lapak mainan terdampak

Kabut asap pekat di Pontianak. (IDN Times/Teri). Salah satu pedagang lapak permainan anak di Pontianak, Wati menuturkan bahwa tempat usahanya saat ini sepi pengunjung karena berimbas dengan kabut asap.
“Sekarang sepi, jam segini (jam 5 sore) baru ada yang main, dulu kalau gak ada kabut asap biasa jam 3 udah ada yang main. Pemasukan jadi lumayan berkurang,” sebutnya, Kamis (20/8/2026).
2. Minta warga tak bakar lahan

Warga berkativitas di luar ruangan saat kabut asap. (IDN Times/Teri). Biasanya, Wati membawa pulang penghasilan Rp2 hingga Rp4 juta, namun semenjak kabut asap, lapaknya kini sepi pengunjung. Wati bahkan pernah membawa uang hanya Rp200 ribu saja.
“Ini sepi yang datang, cuman beberapa orang aja terus mereka bawa anaknya pakaikan masker. Malah biasa anaknya gak betah kan pakai masker,” terangnya.
Wati berharap kepada para pelaku pembakar lahan untuk tak sembarang membuka lahan dengan cara membakar, agar tak berdampak dengan pedagang lainnya.
“Kami yang berdampak, tolong lah pikirkan kami pedagang kecil,” harapnya.
3. Kemarau masih berlangsung hingga September

Kabut asap akibat karhutla masih tebal di Pontianak. (IDN Times/Teri). Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin mengatakan fenomena karhutla hampir selalu terjadi setiap tahun. Meski begitu, ia menyebut kondisi di Kota Pontianak relatif aman karena hujan telah turun dalam beberapa waktu terakhir.
“Karhutla ini fenomena yang terjadi setiap tahun, pembakaran lahan. Tapi sudah kita imbau untuk tidak membakar lahan. Kalau Pontianak masih amanlah. Yang jelas sudah ada hujan, air tidak asin lagi, tapi kabut masih ada,” kata Satarudin.
Satarudin menyebut berdasarkan informasi yang diterimanya, kondisi kabut asap berpotensi masih terjadi hingga September mendatang. Ia berharap hujan dan angin dapat membantu mengurangi konsentrasi asap di Pontianak.
“Info-nya sampai bulan sembilan seperti ini. Mudah-mudahan ada hujan dan angin, asapnya akan lari,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat bersama-sama berdoa agar hujan segera turun dan kondisi udara di Pontianak kembali membaik.
“Kita sama-sama mengetuk pintu langit supaya turun hujan,” tukasnya.

















