Tim melakukan evakuasi 2 individu orangutan di Ketapang. (IDN Times/YIARI).
Kasus Mama Man dan Man menjadi gambaran lain dari dampak karhutla terhadap satwa liar di Ketapang.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, sedikitnya sembilan orangutan telah diselamatkan BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI dari ancaman karhutla di sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan meluasnya kebakaran membuat orangutan kehilangan ruang untuk berlindung sekaligus mencari makanan.
Menurutnya, satwa yang keluar dari habitat untuk menghindari api justru berpotensi masuk ke perkebunan dan wilayah yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
“Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla. Ini menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya menghancurkan hutan, tetapi juga membuat satwa kehilangan tempat untuk berlindung dan mencari makan,” kata Argitoe, Sabtu (5/9/2026).
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan perlunya keterlibatan seluruh pihak untuk mencegah kebakaran dan menjaga kawasan hutan serta wilayah yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan tindakan sendiri jika menemukan satwa liar yang terdampak karhutla.
Masyarakat yang menemukan satwa liar dalam kondisi terancam di sekitar permukiman maupun perkebunan diminta segera melaporkannya kepada Balai KSDA Kalimantan Barat melalui 0811-5776-767 atau 0811-5670-041 agar dapat ditangani secara aman dan tepat.