Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sulit Percaya setelah Terluka? Ini 5 Langkah untuk Berdamai dengan Masa Lalu
ilustrasi sepasang kekasih yang sedang mengalami trust issue dalam hubungan (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Trust issues dapat muncul akibat kekecewaan, pengkhianatan, atau luka emosional; langkah awalnya adalah mengenali akar masalah dan memproses emosi tanpa memaksa diri melupakan pengalaman buruk.
  • Membangun kepercayaan diri lewat keputusan sederhana dan tanggung jawab membantu mengurangi keraguan, sementara hubungan sehat perlu dibangun dengan kejujuran, komunikasi terbuka, rasa hormat, serta konsistensi.
  • Jika mengganggu keseharian, bantuan psikolog atau konselor dapat dipertimbangkan; proses pulih membutuhkan waktu, batasan sehat, penghargaan atas kemajuan kecil, dan sikap tidak menyalahkan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masalah kepercayaan atau trust issues bisa dialami siapa saja, baik dalam hubungan dengan diri sendiri maupun orang lain. Kondisi ini dapat muncul akibat berbagai pengalaman, seperti pernah dikecewakan, dikhianati, kehilangan kepercayaan, hingga pengalaman emosional yang membekas.

Trust issues memang tidak bisa hilang dalam semalam. Namun, bukan berarti masalah tersebut tidak bisa diatasi. Dengan memahami penyebabnya dan berusaha membangun kembali kepercayaan secara perlahan, seseorang dapat kembali menjalani hubungan yang lebih sehat.

Berikut lima langkah yang bisa dicoba untuk mengatasi trust issues.

1. Identifikasi dan pahami akar permasalahannya

Ilustrasi trust issue (pexels.com/Christina Morillo)

Langkah pertama adalah memahami dari mana masalah kepercayaan tersebut berasal. Cobalah mengingat pengalaman yang membuat kamu menjadi sulit percaya kepada orang lain atau bahkan kepada diri sendiri.

Bisa jadi, rasa takut tersebut muncul setelah mengalami kekecewaan atau luka emosional di masa lalu. Dengan mengenali sumbernya, kamu akan lebih mudah memahami mengapa rasa curiga dan waspada muncul dalam situasi tertentu.

Jangan terburu-buru memaksa diri untuk melupakan pengalaman buruk. Beri waktu untuk memahami dan memproses emosi yang masih tersisa.

2. Bangun kepercayaan diri

Ilustrasi trust issue (pexels.com/ Mart Production)

Sulit mempercayai orang lain terkadang berkaitan dengan rendahnya kepercayaan terhadap diri sendiri. Ketika seseorang meragukan kemampuan dan nilai dirinya, rasa curiga terhadap orang lain juga bisa semakin besar.

Karena itu, mulailah membangun kepercayaan diri dari hal-hal sederhana. Misalnya, belajar mengambil keputusan sendiri, menyelesaikan tanggung jawab, atau memberikan kesempatan kepada orang lain ketika harus bekerja dalam tim.

Semakin kamu percaya pada kemampuan diri sendiri, semakin mudah pula belajar memberikan kepercayaan kepada orang lain.

3. Membangun hubungan yang sehat

Ilustrasi trust issue (pexels.com/Vitaly Gariev)

Kepercayaan tidak terbentuk secara instan. Dalam sebuah hubungan, kepercayaan tumbuh melalui kejujuran, komunikasi yang terbuka, rasa hormat, dan konsistensi.

Jika ingin belajar percaya kembali, mulailah dari lingkungan yang memberikan rasa aman dan nyaman. Pilih orang-orang yang mampu menghargai batasan dan menunjukkan sikap konsisten.

Sebaliknya, jangan ragu menjaga jarak dari hubungan yang justru membuat kamu terus merasa tertekan atau tidak dihargai.

4. Cari bantuan profesional

ilustrasi psikolog, psikiater, konsultasi, kesehatan mental, mental health (pexels.com/Timur Weber)

Jika trust issues mulai mengganggu kehidupan sehari-hari atau hubungan dengan orang lain, mencari bantuan profesional bisa menjadi pilihan.

Psikolog, konselor, atau tenaga profesional terkait dapat membantu memahami pola pikir dan pengalaman emosional yang menjadi penyebab kesulitan dalam membangun kepercayaan.

Meminta bantuan bukan berarti menunjukkan kelemahan. Justru, hal tersebut bisa menjadi langkah berani untuk memahami diri sendiri dan memperbaiki kualitas hidup.

5. Beri waktu untuk sendiri

ilustrasi perempuan me time (pexels.com/Đặng Thanh Tú)

Mengatasi masalah kepercayaan membutuhkan proses. Jangan memaksakan diri untuk langsung percaya kepada orang lain hanya karena merasa harus segera pulih.

Nikmati setiap prosesnya dan hargai kemajuan kecil yang berhasil kamu capai. Jika sesekali rasa takut atau curiga kembali muncul, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.

Yang terpenting adalah terus belajar memahami diri, menetapkan batasan yang sehat, dan memberikan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik.

Pada akhirnya, pengalaman buruk di masa lalu tidak harus menentukan bagaimana kehidupanmu berjalan di masa depan. Dengan usaha yang konsisten dan dukungan yang tepat, kepercayaan terhadap diri sendiri maupun orang lain dapat dibangun kembali.

Ingat, sembuh dan belajar percaya lagi membutuhkan waktu. Jadi, jangan terlalu keras kepada diri sendiri dan jalani prosesnya secara perlahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article