Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tragis, Warga Tewas Terbakar saat Terobos Kabut Asap Karhutla Ketapang
Korban karhutla tewas terbakar di Ketapang. (IDN Times/istimewa).
  • Warga bernama Taufik meninggal terbakar setelah diduga pingsan karena kekurangan oksigen saat menerobos kabut asap karhutla di Ketapang untuk segera pulang.
  • Karhutla di Ketapang belum terkendali; sedikitnya dua warga terdampak, termasuk lansia yang dirawat, sementara kebakaran di Desa Pelang diperkirakan melampaui 40 hektare.
  • Pemadaman terkendala minim sumber air dan akses darat. BPBD mengandalkan water bombing, namun operasinya terbatas saat warga masih berada di sekitar lokasi kebakaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketapang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih melanda Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) kembali memakan korban jiwa.

Seorang warga bernama Taufik dilaporkan meninggal dunia setelah diduga kehabisan oksigen saat menerobos kawasan yang dipenuhi asap, sebelum akhirnya tubuhnya terbakar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengatakan korban diduga nekat melintasi lokasi kebakaran karena ingin segera pulang.

1. Korban diduga nekat terobos kabut asap

Warga Ketapang terobos karhutla berujung tewas. (IDN Times/istimewa).

Korban nekat melintas kepulan pekat asap kebakaran hutan. Di tengah jalan, diduga membuat korban kehilangan kesadaran karena kehabisan oksigen.

“Korban diduga menerobos kabut asap karena ingin cepat pulang. Kemungkinan kekurangan oksigen hingga pingsan. Di sisi kiri dan kanan jalan terdapat kobaran api, sehingga beliau terjatuh dan akhirnya meninggal dalam keadaan terbakar,” kata Yunifar, Rabu (5/8/2026).

2. Ada korban lain yang pingsan akibat karhutla

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ketapang, Yunifar Purwantoro. (IDN Times/istimewa).

Di sisi lain, Yunifar mengungkapkan hingga Rabu, kebakaran di sejumlah wilayah Ketapang masih belum berhasil dikendalikan.

Tim gabungan yang bertugas memadamkan api bahkan baru kembali dari lapangan sekitar pukul 04.00 WIB sebelum kembali diterjunkan pada pukul 07.30 WIB.

“Tim pengendalian karhutla baru pulang sekitar jam 4 subuh. Jam 07.30 WIB mereka sudah bergeser lagi ke lokasi. Artinya kondisi terkini karhutla memang belum dapat dikendalikan,” ujarnya.

Selain korban meninggal dunia, BPBD juga mencatat sedikitnya dua warga terdampak kebakaran hingga dini hari. Salah satunya merupakan seorang lanjut usia yang telah dievakuasi ke RSUD dr Agus Djam Ketapang untuk mendapatkan penanganan medis.

Menurut Yunifar, salah satu titik kebakaran terbesar berada di Desa Pelang dengan luas lahan terbakar diperkirakan melebihi 40 hektare.

3. Pemadaman karhutla terkendala minimnya sumber air

Korban lain alami pingsan karena asap karhutla. (IDN Times/istimewa).

Ia menjelaskan, proses pemadaman masih menghadapi kendala minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian api menjadi lebih sulit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Untuk menjangkau titik api yang tidak dapat diakses melalui jalur darat, BPBD mengandalkan operasi water bombing. Metode tersebut dinilai efektif, terutama di wilayah yang tidak memiliki sumber air.

“Peran water bombing sangat penting, terutama ketika akses darat sulit atau tidak ada sumber air. Kendalanya, ketika masih ada masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, proses pengeboman air menjadi tidak bisa dilakukan secara maksimal,” jelasnya.

BPBD berharap helikopter water bombing dan patroli udara dapat disiagakan di Bandara Rahadi Oesman Ketapang agar waktu respons terhadap kebakaran dapat dipercepat.

Sementara itu, berdasarkan informasi BMKG, jumlah titik panas di Kalimantan Barat terus meningkat dan telah menembus lebih dari 100 titik. Di Kabupaten Ketapang, hampir seluruh kecamatan dilaporkan memiliki titik kebakaran yang sebagian diduga dipicu aktivitas pembakaran lahan pada musim kemarau.

Curated For You

Editorial Team

Related Article