- Tekanan darah rendah
- Diabetes atau gangguan gula darah
- Riwayat gangguan makan
- Sedang menjalani pengobatan tertentu
- Sedang merencanakan kehamilan, hamil, atau menyusui
- Mengalami perdarahan menstruasi berat
Diet Anti-Stres! Ini Alasan Intermittent Fasting Semakin Populer

Banyak orang gagal menurunkan berat badan karena menjalani pola diet yang terlalu ketat dan menyiksa, terutama diet yang mengharuskan pembatasan karbohidrat secara ekstrem. Alih-alih mendapatkan tubuh ideal, diet justru kerap memicu stres hingga membuat pelakunya menyerah di tengah jalan.
Kini, ada metode diet yang lebih fleksibel dan mulai banyak diminati, yakni Intermittent Fasting (IF) atau diet puasa. Berbeda dengan diet pada umumnya, metode ini tidak berfokus pada pembatasan jenis makanan, melainkan mengatur waktu makan dan waktu berpuasa.
1. Apa itu diet intermittent fasting?

Intermittent Fasting dianggap efektif membantu menurunkan berat badan karena dapat mengontrol asupan kalori tanpa memberikan tekanan berlebihan secara psikologis. Selama waktu makan yang telah ditentukan, seseorang tetap diperbolehkan mengonsumsi makanan dengan porsi normal.
Sementara saat memasuki waktu puasa, tubuh tidak menerima asupan makanan, namun tetap diperbolehkan minum air putih atau minuman bebas kalori lainnya.
2. Bagaimana cara melakukan diet intermittent fasting?

Salah satu metode Intermittent Fasting yang paling populer adalah pola 16/8, yakni berpuasa selama 16 jam dan makan dalam rentang waktu 8 jam. Meski demikian, terdapat beberapa variasi metode yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup masing-masing.
Berikut beberapa metode Intermittent Fasting yang populer:
1. Metode 16/8
Berpuasa selama 16 jam dan makan dalam waktu 8 jam. Contohnya, waktu makan dimulai pukul 09.00 pagi hingga 17.00 sore. Setelah itu, hanya diperbolehkan minum air putih hingga waktu makan kembali dimulai keesokan harinya.
2. Metode 5:2
Selama lima hari dalam seminggu, Anda dapat makan seperti biasa. Sementara pada dua hari lainnya, asupan kalori dibatasi hingga kurang dari 500 kalori per hari.
3. Warrior Diet
Metode ini mengatur konsumsi buah dan sayur dalam porsi kecil pada pagi hingga sore hari, lalu dilanjutkan makan besar pada malam hari.
Dari berbagai metode tersebut, pola 16/8 menjadi yang paling banyak dipilih karena dinilai lebih fleksibel dan mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
3. Perhatikan kondisi tubuh sebelum melakukan diet intermittent fasting

Meski tergolong aman, Intermittent Fasting tidak disarankan untuk semua orang. Konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu, seperti:
4. Menjaga kesehatan dan pola hidup sehat

Selain mengatur waktu makan, pola hidup sehat tetap menjadi kunci utama keberhasilan diet. Pastikan tubuh mendapatkan asupan nutrisi seimbang dan imbangi dengan olahraga rutin agar kesehatan tetap terjaga.
Dengan metode yang lebih fleksibel dan minim tekanan, Intermittent Fasting bisa menjadi solusi bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan tanpa harus menjalani diet ekstrem.


















