Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Akhirnya Temui Massa, Norsan Bantah Perintah Ormas Pukul Demonstran
Gubernur Kalbar, Ria Norsan temui massa aksi. (IDN Times/istimewa).
  • Gubernur Kalbar Ria Norsan menemui massa aksi dan membantah pernah memerintahkan ormas memukul mahasiswa; dugaan kekerasan diserahkan kepada aparat penegak hukum.

  • Norsan menyebut karhutla berlangsung sekitar tiga bulan dengan 22 titik api tersisa di Ketapang, serta menginstruksikan pengobatan ISPA akibat asap gratis di RSUD dan puskesmas.

  • Pemprov telah memanggil Pertamina dan PLN untuk membahas BBM mahal serta listrik di daerah hulu; Norsan juga mengakui fasilitas publik masih perlu dibenahi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pontianak, IDN Times - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Ria Norsan akhirnya menemui massa aksi yang menggelar demonstrasi untuk ketiga kalinya di halaman Kantor DPRD Provinsi Kalbar, pada Jumat (23/10/2026) pukul 17.00 WIta.

Dalam pertemuan tersebut, Norsan menanggapi sejumlah tuntutan mahasiswa, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) di daerah hulu, buruknya fasilitas publik, hingga dugaan keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam aksi sebelumnya.

Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan adalah bantahan Norsan terkait dugaan dirinya memerintahkan ormas untuk melakukan pemukulan terhadap mahasiswa pada aksi sebelumnya.

“Saya berani bersumpah, demi Allah, saya itu tidak pernah menyuruh ormas,” tegas Norsan di hadapan massa aksi.

Terkait persoalan tersebut, Norsan menyatakan proses selanjutnya diserahkan kepada aparat penegak hukum (APH). Ia mempersilakan pihak terkait mencari bukti dan memproses persoalan itu sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kita serahkan kepada pihak APH,” ujarnya.

1. Karhutla sisa 22 titik api di Ketapang

Aliansi mahasiswa serbu kantor DPRD Provinsi Kalbar. (IDN Times/istimewa).

Menanggapi persoalan karhutla yang menjadi salah satu sorotan mahasiswa, Norsan mengungkapkan bahwa kebakaran telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.

Berdasarkan data yang disampaikannya pada Kamis (22/10/2026), masih terdapat 22 titik api di Kabupaten Ketapang.

Ia menyebut Ketapang menjadi wilayah yang masih menghadapi persoalan kebakaran tersebut. Norsan menjelaskan, kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalbar juga dipengaruhi arah angin yang bergerak dari selatan ke utara, termasuk dari Ketapang menuju wilayah lainnya.

“Kalau untuk karhutla, ini tinggal Ketapang saja,” katanya.

Ia berharap sisa titik api tersebut dapat segera dipadamkan sehingga tidak ada lagi kebakaran di 14 kabupaten/kota di Kalbar.

“Mudah-mudahan di tinggal 22 titik api ini, dalam waktu dekat ini bisa kita padamkan,” ujarnya.

2. BBM mahal di daerah hulu jadi perhatian

Mahasiswa sampaikan sejumlah tuntutan ke Gubernur Kalbar. (IDN Times/istimewa).

Selain karhutla, mahasiswa juga menyoroti mahalnya harga BBM di daerah hulu. Norsan mengaku telah memanggil pihak Pertamina dan PLN, pada Rabu (21/10/2026) untuk membahas persoalan energi tersebut.

Menurutnya, langkah itu merupakan upaya pemerintah provinsi untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait BBM dan pasokan listrik.

Ia juga menyinggung adanya kerusakan pada fasilitas kelistrikan di wilayah Sungai Raya yang perlu mendapat penanganan. Norsan berharap koordinasi dengan pihak terkait dapat menghasilkan penyelesaian atas persoalan BBM dan listrik yang dikeluhkan masyarakat.

3. Fasilitas publik diakui masih perlu dibenahi

Massa aksi merapat ke Bundaran Digulist Pontianak. (IDN Times/Teri).

Mengenai tuntutan mahasiswa terkait buruknya fasilitas di berbagai sektor, Norsan mengakui masih terdapat pekerjaan yang perlu diselesaikan pemerintah daerah.

Ia menyebut masa jabatannya baru memasuki tahun kedua sehingga masih ada waktu untuk melakukan pembenahan.

“Ini kan tahun kedua. Masih ada berapa tahun saya berjabat. Insya Allah mudah-mudahan bisa kita tuntaskan sekarang,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas kritik mahasiswa terhadap kondisi fasilitas di sejumlah sektor yang dinilai masih belum memadai.

4. Biaya pengobatan ISPA akibat asap gratis

Massa padati Bundaran Digulist. (IDN Times/Teri).

Di tengah persoalan karhutla dan kabut asap, Norsan juga menyampaikan bahwa dirinya telah menginstruksikan agar biaya pengobatan pasien yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat dampak asap digratiskan.

Instruksi tersebut, menurutnya, ditujukan kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Kalbar hingga puskesmas di daerah.

“Untuk pasien karhutla yang ISPA, itu sudah saya perintahkan. Dari Rumah Sakit Umum Provinsi Daerah, kemudian sampai puskesmas daerah. Kita mintakan digratiskan semua biayanya. Itu sudah kita instruksikan,” tukasnya.

Meski sejumlah tanggapan telah disampaikan, mahasiswa masih menantikan tindak lanjut konkret pemerintah provinsi terhadap tuntutan mereka, termasuk penyelesaian karhutla, persoalan energi di daerah hulu, perbaikan fasilitas publik, serta penanganan dugaan kekerasan terhadap mahasiswa pada aksi sebelumnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article