Sejumlah pelajar mementaskan drama teatrikal Perjuangan Merah Putih ke-79 Sangasanga di Taman Palagan, Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (27/1/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.
Sebelum pertempuran di Pinang Air Putih, pasukan pejuang dan Belanda sudah terlibat bentrokan di Kampung Sambutan pada 6 Januari 1947.
Saat itu, pasukan Herman Runturambi membangun markas untuk menghindari kejaran Belanda. Namun, lokasi tersebut diketahui mata-mata NICA sehingga pertempuran pecah.
Bentrokan itu menjadi pertempuran pertama antara pejuang dan pasukan Belanda di Samarinda. Seorang pejuang bernama Tarmidzi gugur.
“Konflik senjata itu makan korban, seorang patriot bernama Tarmidzi gugur dalam pertempuran,” tutur Sarip.
Pasukan pejuang kemudian mundur ke Kampung Solong. Sehari berselang, M. Djunaid Sanusie, Ali Badrun Noor, dan Imberan menemui Herman untuk menyusun strategi lanjutan.
Di tengah pertemuan, pedagang ikan di Pasar Pagi, H. Djamharie, datang membawa kabar bahwa pasukan Belanda bergerak menuju Solong.
Pertempuran kedua pun terjadi. Karena kalah dalam persenjataan dan strategi, para pejuang memilih mundur dengan melintasi sawah dan menyeberangi Sungai Lempake menggunakan perahu.
Pada 15 Januari 1947, gerilyawan Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) kembali menyerang kompleks perumahan pejabat Kesyahbandaran atau Havenmeester di Teluk Lerong.
Saat itu, warga Belanda sedang menggelar pesta. Para pejuang terlibat baku tembak dengan polisi dan tentara Belanda yang berjaga di sekitar lokasi.
“Terjadi tembak-menembak antara pejuang dengan polisi dan tentara Belanda yang berjaga di sekitar tempat berpesta,” ujar Sarip.
Karena kalah jumlah dan persenjataan, para pejuang akhirnya mundur dan berpencar. Peristiwa tersebut menjadi palagan ketiga di Samarinda.
Pada 24 Januari 1947, Herman Runturambi bersama sebagian pasukan kemudian bergerak menuju Sanga-Sanga.
Tiga hari kemudian, pecah Peristiwa Merah Putih di Sanga-Sanga, sekitar 30 kilometer dari Samarinda. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Timur.
Kisah pertempuran Sanga-Sanga tercatat dalam risalah eksponen Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) bersama Jarahdam IX/Mulawarman berjudul Palagan Perebutan Kota Minyak Sanga-Sanga yang diterbitkan pada 1982.