Harisson Bela Siswa SMAN 1 Pontianak: Jawaban Benar Jangan Dinilai Salah

Pontianak, IDN Times - Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Barat (Kalbar), Harisson, menyoroti polemik penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI yang dinilai tidak memberikan rasa keadilan kepada peserta.
Sebelumnya, jagat maya dihebohkan dengan dugaan ketidakobjektifan dewan juri dalam LCC 4 Pilar di Kalbar. Peristiwa itu viral setelah dua peserta memberikan jawaban dengan substansi serupa, namun memperoleh penilaian berbeda dari juri.
Dalam perlombaan tersebut, dewan juri terlebih dahulu memberikan nilai minus lima kepada Grup C dari SMAN 1 Pontianak. Tak lama kemudian, juri justru memberikan nilai 10 kepada Grup B4, meski jawaban yang disampaikan dinilai memiliki inti yang sama dengan jawaban Grup C.
Peserta Grup C sempat menyampaikan protes kepada dewan juri karena merasa dirugikan. Namun, keberatan tersebut tidak mengubah keputusan yang telah diambil. Insiden itu pun memicu reaksi keras warganet dan ramai diperbincangkan di media sosial. Hingga kini, akun Instagram resmi MRP RI dibanjiri komentar negatif dari netizen.
1. Sekda Kalbar minta keadilan

Menanggapi polemik tersebut, Harisson menyebut terdapat jawaban peserta yang secara substansi benar dan serupa, tetapi tetap dinyatakan salah oleh dewan juri.
Menurut dia, kondisi itu diduga terjadi karena juri terlalu terpaku pada teks jawaban yang tersedia di perangkat atau tab penilaian.
“Juri ini terkesan tidak terlalu memahami materi yang ditanyakan, sehingga harus membaca jawaban yang ada di tab mereka lalu mencocokkannya dengan jawaban peserta,” kata Harisson, Senin (11/5/2026).
Harisson menilai, apabila seorang juri benar-benar menguasai materi Empat Pilar MPR RI, penilaian seharusnya dapat dilakukan secara objektif tanpa terpaku pada redaksi kalimat.
“Kalau kita sudah paham materi yang ditanyakan, tidak perlu lagi terus melihat tab. Cukup dengar jawaban anak-anak ini, kita langsung tahu substansinya benar atau tidak dan bisa langsung memberikan nilai,” tegasnya.
2. Sayangkan sikap dewan juri

Ia meminta panitia dan dewan juri memperhatikan rasa keadilan bagi para peserta, khususnya siswa SMAN 1 Pontianak yang merasa dirugikan dalam perlombaan tersebut.
“Saya minta ada rasa keadilan yang harus diterima oleh anak-anak SMANSA. Jangan biarkan rasa ketidakadilan itu membekas di diri mereka,” ujarnya.
Harisson menegaskan, LCC tersebut mengangkat tema penting terkait Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Karena itu, proses penilaian harus dilakukan secara profesional, objektif, dan bijaksana.
“Apalagi kita sedang berbicara tentang Empat Pilar MPR RI: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai keadilan dan objektivitas harus benar-benar dijunjung,” katanya.
3. Ketua IKA Smansa Pontianak berikan dukungan siswa

Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni (IKA) SMAN 1 Pontianak, Windy Prihastari, meminta dewan juri lebih teliti dan mengedepankan rasa keadilan dalam kompetisi tersebut.
“Setelah menonton ini apa tindak lanjut yang dilakukan dari panitia? Di zaman digital harusnya sudah tersedia pemutaran ulang secara real time jika terjadi hal-hal seperti ini,” tegasnya.
Meski demikian, Windy tetap mengapresiasi sikap siswa SMAN 1 Pontianak yang dinilai berani dan tegas saat menyampaikan protes di hadapan dewan juri.
“Salut atas keberanian adik-adik Smansa untuk menyampaikan pendapat yang benar di situasi tekanan,” pungkasnya.

















