Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ingin Anak Jujur dan Terbuka? Ini Rahasia Pola Asuh Demokratis
Ilustrasi Pola Didikan Orang Tua yang Membuat Anak Nakal di Sekolah. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Pola asuh memiliki peran penting dalam membentuk cara anak berkomunikasi, mengekspresikan emosi, serta membangun kepercayaan dengan orang tua. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang aman secara emosional cenderung lebih berani berbicara jujur, mengungkapkan perasaan, dan terbuka terhadap masukan.

Salah satu pendekatan yang dinilai efektif dalam mendukung hal tersebut adalah pola asuh demokratis.

Dalam psikologi perkembangan, pola asuh demokratis dikenal sebagai pendekatan yang menggabungkan kehangatan emosional dengan batasan yang jelas. Orang tua tidak hanya mengatur dan mengarahkan, tetapi juga mendengarkan serta menghargai pendapat anak. Sikap ini membuat anak merasa dihargai sebagai individu, sehingga keterbukaan tumbuh secara alami.

Berikut lima ciri pola asuh demokratis yang mendorong anak menjadi lebih terbuka:

1. Memberi ruang bagi anak untuk berpendapat

Seorang ayah sedang menemani putrinya bermain. (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat, bahkan ketika berbeda pandangan. Anak tidak langsung disalahkan, melainkan diajak berdiskusi secara tenang dan penuh rasa hormat.

Psikolog perkembangan Diana Baumrind, yang memperkenalkan konsep authoritative parenting, menjelaskan bahwa anak yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan sederhana akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan keberanian berkomunikasi. Anak merasa suaranya berarti.

2. Menerapkan aturan yang jelas, namun fleksibel

Seorang anak sedang digendong oleh orang tuanya di taman. (pexels.com/Gustavo Fring)

Dalam pola asuh demokratis, aturan tetap ada, tetapi tidak bersifat kaku atau otoriter. Orang tua menjelaskan alasan di balik setiap aturan, bukan sekadar menuntut kepatuhan.

Menurut Rudolf Dreikurs, murid Alfred Adler, anak lebih mudah menerima aturan ketika memahami tujuannya dan merasa dilibatkan. Pendekatan ini membantu anak melihat aturan sebagai bentuk kepedulian, bukan ancaman.

3. Mengutamakan dialog daripada hukuman

Seorang ibu sedang mengajari anak-anaknya memasak. (pexels.com/Elina Fairytale)

Alih-alih langsung menghukum, orang tua memilih berdialog ketika anak melakukan kesalahan. Anak diajak memahami dampak dari tindakannya serta mencari solusi bersama.

Alfred Adler menekankan bahwa anak yang diperlakukan dengan hormat akan tumbuh lebih bertanggung jawab. Dialog menciptakan rasa aman sehingga anak tidak takut untuk jujur.

4. Responsif terhadap emosi anak

Seorang ibu sedang menemani anak perempuannya bermain. (pexels.com/Gustavo Fring)

Orang tua tidak mengabaikan atau meremehkan perasaan anak. Emosi seperti sedih, marah, atau kecewa tetap diakui, meskipun perilaku anak tetap diarahkan dengan batasan yang jelas.

Psikolog John Gottman melalui konsep emotion coaching menyebutkan bahwa anak yang emosinya divalidasi akan lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan. Anak belajar bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk menjadi dirinya sendiri.

5. Menjadi teladan dalam keterbukaan dan tanggung jawab

Seorang anak bersama orang tua sedang di taman. (pexels.com/RDNE Stock project)

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari contoh nyata. Orang tua yang berani mengakui kesalahan, meminta maaf, dan bersikap jujur memberikan pesan kuat bahwa keterbukaan adalah nilai penting dalam hubungan.

Menurut Albert Bandura melalui teori social learning, anak cenderung meniru perilaku figur signifikan di sekitarnya. Ketika orang tua menunjukkan keterbukaan, anak pun akan mengembangkan sikap serupa dalam relasi sosialnya.

Pada akhirnya, pola asuh demokratis bukan berarti membebaskan anak tanpa aturan. Pendekatan ini menekankan bimbingan dengan empati, dialog, dan rasa hormat. Ketika anak merasa didengar dan dihargai, keterbukaan akan tumbuh dengan sendirinya. Dari hubungan yang sehat itulah anak belajar membangun kepercayaan, komunikasi yang jujur, serta keberanian mengekspresikan diri sebagai bekal penting untuk masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team