ilustrasi donor darah (freepik.com/nasty)
Sementara itu, Wali Kota Pontianak yang juga Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyebut para pendonor sebagai pahlawan kemanusiaan. Menurutnya, secara akumulatif, satu pendonor 100 kali telah menyumbangkan sekitar 30 liter darah dan berpotensi menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa.
“Ini adalah aksi nyata penyelamatan manusia,” ujarnya.
Meski jumlah pendonor cukup besar, kebutuhan darah di Pontianak masih tergolong tinggi. Setiap hari, kebutuhan mencapai 100 hingga 150 kantong darah, sementara ketersediaan rutin hanya sekitar 70 hingga 100 kantong.
Data tahun 2025 mencatat ada 21.644 pendonor, dengan mayoritas (86,3 persen) merupakan pendonor sukarela.
Untuk menutupi kekurangan, PMI kerap menghubungi pendonor aktif yang datanya telah tersimpan, termasuk keluarga pasien dalam kondisi darurat.
Edi menegaskan, pin emas yang diberikan bukanlah balasan yang setimpal, melainkan simbol rasa terima kasih dari masyarakat yang telah tertolong. “Ini mewakili warga yang telah terselamatkan oleh darah Bapak-Ibu. Mudah-mudahan menjadi amal jariah yang terus mengalir,” tukasnya.