Kutim Hilirisasi Batu Bara Jadi Metanol, Serap Investasi Rp40 Triliun

Sangata, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, menyiapkan kawasan di Kecamatan Bengalon sebagai lokasi proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol. Proyek tersebut disebut bakal menyerap investasi sekitar Rp40 triliun dari investor asal Tiongkok.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan, kawasan industri untuk proyek gasifikasi batu bara itu sebenarnya telah lama disiapkan pemerintah daerah.
“Ada investor asal Cina yang siap menanamkan modal sekitar Rp40 triliun untuk proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol. Lokasi industrinya juga sudah lama kami siapkan,” ujar Ardiansyah dilaporkan Antara di Sangatta, Minggu (24/5/2026).
1. Ekonomi berkelanjutan bagi Kutim

Menurut dia, pemerintah daerah terus mendorong masuknya investasi yang tidak hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.
Ia menilai hilirisasi batu bara dapat membuka lapangan kerja baru, memperkuat ekonomi daerah, serta meningkatkan nilai tambah komoditas tambang yang selama ini banyak dijual dalam bentuk mentah.
Ardiansyah mengatakan, perubahan kebijakan pemerintah pusat turut membuka peluang besar bagi pengembangan industri hilirisasi batu bara. Melalui proses gasifikasi, batu bara dapat diolah menjadi metanol maupun dimethyl ether (DME) yang dapat digunakan sebagai substitusi LPG.
“Salah satu bentuk hilirisasi yang berkembang saat ini adalah gasifikasi batu bara menjadi metanol, atau dikonversi lagi menjadi dimethyl ether (DME) sebagai pengganti LPG,” katanya.
2. Bahan baku untuk kebutuhan industri

Metanol sendiri merupakan bahan baku penting untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari pembuatan resin, cat, plastik, pelarut obat-obatan, serat sintetis, hingga campuran parfum.
Sementara itu, proyek hilirisasi tersebut diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 1,8 juta ton metanol per tahun dengan kebutuhan pasokan batu bara berkisar 6,5 hingga 7 juta ton per tahun menggunakan batu bara berkalori rendah 3.400–4.200 kcal/kg.
Bagi Kutim yang selama ini bergantung pada sektor tambang, hilirisasi dinilai menjadi langkah strategis untuk menciptakan rantai ekonomi baru yang lebih panjang dibanding sekadar penjualan batu bara mentah.
3. Penciptaan lapangan kerja

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, industri turunan batu bara juga diharapkan mampu menekan angka kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan tumbuhnya sektor pendukung lainnya.
Meski demikian, Ardiansyah menegaskan seluruh investasi yang masuk ke Kutim tetap harus mengikuti aturan yang berlaku dan memperhatikan kepentingan masyarakat serta lingkungan.
“Seluruh investasi yang masuk harus berjalan sesuai ketentuan, memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberi manfaat bagi masyarakat, dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan,” ujarnya.


















