ilustrasi tekanan sosial atau perasaan FOMO di tengah lingkungan pertemanan (unsplash.com/Vitaly Gariev)
Istilah fear of missing out (FOMO) menggambarkan perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau pencapaian orang lain. Perasaan ini semakin mudah muncul ketika kita terus melihat perkembangan kehidupan teman melalui media sosial.
Saat teman sebaya mulai menikah, memiliki anak, atau menempati posisi strategis di tempat kerja, kita bisa merasa harus segera mengikuti langkah yang sama.
Jika dibiarkan, FOMO dapat mendorong seseorang mengambil keputusan penting secara terburu-buru, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kesiapan diri.
Padahal, kehidupan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai suatu pencapaian. Memiliki pekerjaan tetap, menikah, atau membeli rumah tidak harus dilakukan pada usia yang sama oleh setiap orang.
Sebelum mengambil keputusan besar, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah pilihan tersebut benar-benar sesuai dengan keinginan dan kesiapanmu, atau sekadar karena takut tertinggal dari orang lain?
Menjadi dewasa bukan berarti harus segera sukses, memiliki banyak uang, menikah, atau memenuhi semua ekspektasi orang lain. Kedewasaan juga berkaitan dengan kemampuan mengenali diri sendiri, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Tidak ada salahnya memiliki target besar dan berusaha mewujudkannya sejak muda. Namun, jangan sampai keinginan untuk cepat mencapai sesuatu justru membuatmu kehilangan kesempatan untuk belajar dan menikmati proses kehidupan.
Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berkembang. Jadi, jalani hidup sesuai dengan kemampuan dan prioritasmu. Sebab, yang terpenting bukan seberapa cepat kamu mencapai tujuan, melainkan seberapa siap kamu menjalaninya.