Musisi Asal Kalbar Kembali Manggung usai 2 Tahun Berjuang Lawan Kanker

Pontianak, IDN Times - Setelah dua tahun berjuang melawan kanker usus, musisi asal Pontianak, Rifqi Luthfian Ilman akhirnya kembali menyapa penonton.
Penampilannya di live session Artozh Room menjadi panggung pertama yang menandai kebangkitan sekaligus titik balik perjalanan hidupnya setelah melewati masa-masa kritis sejak 2024.
Rifqi didiagnosis kanker usus stadium 3 pada Maret 2024 dalam kondisi darurat. Awalnya, ia mengira gejala yang dirasakan hanyalah gangguan lambung seperti GERD mual, muntah, dan nyeri perut. Namun kondisinya memburuk hingga harus dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi besar.
“Awalnya aku denial. Ngerasa cuma sakit lambung biasa. Tapi ternyata sudah kritis, sampai akhirnya harus operasi darurat,” ungkap Rifqi, Minggu (5/4/2026).
1. Sempat sembuh, namun jaringan kanker kembali muncul

Rifqi menceritakan, operasi tersebut mengangkat tumor di usus besarnya, yang kemudian dipastikan sebagai kanker setelah hasil biopsi keluar. Perjuangan belum selesai.
Dia menjalani serangkaian kemoterapi, mulai dari Pontianak hingga memutuskan pindah ke Jakarta demi fasilitas medis yang lebih lengkap.
Selama dua tahun, dia menjalani total 18 kali kemoterapi, 6 kali di Pontianak dan 12 kali di Jakarta. Di tengah proses itu, Rifqi juga harus menghadapi kenyataan pahit ketika sempat dinyatakan remisi, namun kanker kembali muncul beberapa bulan kemudian.
“Di titik itu mental benar-benar diuji. Aku sempat ngerasa ada di titik terendah, bahkan pernah kepikiran buat nyerah,” ujarnya.
2. Ciptakan lagu 4.30 saat jalani pengobatan kanker

Namun, di balik kondisi fisik yang melemah dan tekanan mental, Rifqi menemukan cara untuk tetap bertahan yakni berkarya. Dia justru menjadi lebih produktif selama menjalani pengobatan.
Salah satu karya yang lahir dari fase tersebut adalah lagu berjudul “4.30”, yang dia rilis pada Agustus 2025, bertepatan dengan kemoterapi terakhirnya.
“Jam 4.30 itu waktu aku bangun tiap hari, terutama kalau harus ke rumah sakit. Itu jadi momen refleksi. Di lagu itu aku cerita tentang jatuh bangun aku, tentang titik terendah yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya,” jelasnya.
Lagu tersebut tidak secara eksplisit membahas kanker, melainkan lebih pada perjalanan emosional, ketahanan diri, dan usaha untuk tetap bertahan dalam situasi sulit.
3. Sempat alami tekanan mental

Selama masa pengobatan di Jakarta, Rifqi memilih menjauh sejenak dari lingkungan lamanya di Pontianak. Dia ingin beristirahat dari tekanan sosial dan fokus pada pemulihan.
Namun, proses itu justru membawanya kembali pada dunia musik dengan perspektif baru.
“Aku ke Jakarta juga buat ‘healing’. Tapi ternyata di sana tetap ketemu teman-teman, tetap berkegiatan. Dan di situ aku lanjut bikin lagu lagi,” katanya.
Penyakit yang dihadapinya sempat membuat psikisnya melemah, Rifqi sempat berpikir untuk pergi ke psikolog. Namun akhirnya, tekanan tersebut dapat dia alihkan dengan cara berkarya, bekerja atau lebih produktif.
“Sempat mikir mau ke psikolog, tapi akhirnya aku alihkan ke berkarya itu. Aku juga bekerja kan. Lalu yang bikin semangat sembuh juga orang tuaku,” terangnya.
4. Sukses lawan kanker, siap bawa kisah hidupnya lewat musik

Kini, Rifqi telah menyelesaikan kemoterapi dan bersiap menjalani operasi lanjutan untuk pemulihan fungsi usus, Rifqi perlahan kembali ke kehidupan normal termasuk kembali ke panggung musik.
Penampilannya di Artozh Room menjadi simbol bahwa dia siap bangkit. Meski sempat ragu, dorongan dari teman-temannya membuatnya berani mengambil langkah tersebut.
“Jujur awalnya aku nggak kepikiran buat manggung lagi. Tapi teman-teman yang dorong. Mereka yang bikin aku semangat,” ujarnya.
Dalam penampilan tersebut, Rifqi tidak hanya membawakan lagu-lagu yang telah dirilis, tetapi juga memperkenalkan satu lagu baru yang akan masuk dalam album terbarunya.
Ke depan, dia menargetkan perilisan album yang sebagian besar terinspirasi dari perjalanan hidupnya selama melawan kanker.
Di akhir, Rifqi juga menyampaikan pesan untuk para penyintas kanker dan anak muda yang tengah berjuang menghadapi masa sulit.
“Kalau di titik terendah dan pengen nyerah, cari alasan buat bertahan. Nggak harus besar hal kecil pun bisa jadi alasan untuk terus hidup,” pesannya.
Dua tahun perjuangan melawan kanker tidak hanya mengubah hidup Rifqi secara fisik, tetapi juga membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat dan kini, Rifqi kembali berdiri di panggung, membawa cerita hidupnya melalui musik.



















