Resep Kuno Kutai Bangkit Lagi, ICA Ingin Kuliner Kaltim Mendunia

Balikpapan, IDN Times - Indonesian Chef Association (ICA) mendorong para pelaku industri kuliner untuk menggali kembali resep-resep masakan kuno dari era Kerajaan Kutai, lalu mengolahnya menjadi hidangan khas bernuansa modern. Upaya ini dinilai dapat melahirkan sajian unik khas Kalimantan Timur (Kaltim) yang layak dipromosikan ke tingkat nasional maupun internasional.
Sebagaimana diketahui, Kerajaan Kutai berdiri pada kisaran 350–400 Masehi dan tercatat sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Berdasarkan kajian para ahli, pusat kerajaan tersebut berada di wilayah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
“Sebenarnya masyarakat Kaltim punya ciri khas menu masakan tersendiri yang berasal dari Kutai,” kata Ketua ICA Kalimantan Timur, Supriyadi, kepada IDN Times, Minggu (25/1/2026).
ICA saat ini tengah merayakan hari jadi ke-19 yang digelar di Hotel Jatra Balikpapan. Momentum ini dimanfaatkan untuk mengangkat kembali kekayaan kuliner lokal sebagai identitas daerah.
1. Hidangan asli di Kaltim

Supriyadi, yang akrab disapa Chef Yadie, menuturkan masih banyak kesalahpahaman di masyarakat mengenai asal-usul sejumlah menu yang selama ini dianggap sebagai masakan khas Kaltim. Salah satunya adalah soto banjar, yang sejatinya berasal dari Kalimantan Selatan.
“Banyaknya suku dan etnis yang bermukim di Kaltim membuat menu dari daerah lain ikut berkembang dan dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.
Ia mencontohkan, soto banjar kerap dianggap sebagai kuliner lokal Kaltim karena banyaknya warga asal Kalimantan Selatan yang menetap dan beraktivitas di wilayah tersebut.
“Contohnya soto banjar, itu bukan asli Kaltim, melainkan dari Kalsel. Karena banyak orang Kalsel yang tinggal di Kaltim, akhirnya ikut populer,” jelas Yadie.
2. Hidangan kulit cempedak, haruan, hingga daging terasi

Sebagai chef profesional, Yadie mengaku konsisten mengangkat kuliner tradisional Kutai, seperti olahan kulit cempedak, daging berbumbu terasi, serta berbagai menu berbahan ikan haruan atau harwan (ikan gabus). Pada lomba kreasi masakan nusantara di Semarang, Jawa Tengah, tahun 2013, ia berhasil meraih juara dua tingkat nasional.
“Saat itu saya menyajikan olahan daging yang dikombinasikan dengan terasi. Hidangan ini merupakan ciri khas Suku Kutai dan berhasil meraih juara dua,” ungkapnya.
Capaian tersebut, menurut Yadie, menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Suku Kutai tidak kalah lezat dan bernilai dibandingkan masakan daerah lain di Indonesia. Dengan sentuhan kreativitas chef profesional, hidangan tradisional dapat dikemas menjadi sajian modern dan berkelas.
“Sekarang menu-menu asli Kaltim sudah banyak disajikan sebagai hidangan istimewa di hotel dan restoran. Bahkan tamu dari luar daerah sering secara khusus meminta hidangan khas Kaltim,” katanya.
3. Hidangan asli Kaltim yang diolah secara modern

Dalam kesempatan tersebut, Yadie juga memaparkan sejumlah hidangan khas Kalimantan Timur hasil kreasi para chef lokal, di antaranya nasi lindung sate bebek buntel, patin serundeng, iga bakar winci, sate gantung, ayam balkot, sambal nanas, nasi mahligai, tumis tuna daun pepaya, soto kepiting, sambal kerang kapah mandai, ikan pindang nanas kuah kuning, sambal ebi salak, hingga nasi goreng kopra ireng.
Seluruh menu tersebut terinspirasi dari kuliner tradisional Kaltim dan telah dirangkum dalam sebuah buku berjudul Kitab Resep Suarkilan.
“Buku resep ini kami serahkan kepada Pemerintah Kota Balikpapan agar bisa disebarluaskan ke masyarakat,” kata Yadie.
4. Rangkaian Hari Jadi ICA ke-19

Perayaan HUT ke-19 ICA turut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari seremoni, seminar, workshop, hingga lomba memasak yang diikuti chef muda, pelaku usaha kuliner, mahasiswa Politeknik Negeri Balikpapan, serta masyarakat umum.
Dalam kegiatan itu, brand peralatan rumah tangga Samono menyatakan komitmennya mendukung kreativitas kuliner melalui penyediaan produk berkualitas dengan harga terjangkau.
“Produk kami memang relatif baru, hadir sekitar tahun 2021, tetapi kualitasnya mampu bersaing,” ujar Brand Marketing Expert Samono, Lia Parsaulian.
Lia menjelaskan, Samono memproduksi beragam peralatan rumah tangga, mulai dari panci penggoreng tanpa minyak (air fryer) hingga hand blender praktis. Harga produk dibanderol mulai Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta.
“Harganya terjangkau dengan kualitas tinggi. Produk Samono juga sudah tersedia di berbagai toko di Kalimantan Timur,” tutup Lia.


















