Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Selalu Mendahulukan Pasangan? Ini Bahaya yang Sering Tak Disadari

Kota Balikpapan
Selalu Mendahulukan Pasangan? Ini Bahaya yang Sering Tak Disadari
ilustrasi orang pacaran (pexels.com/Noval Gani)
  • Pengorbanan berlebihan demi pasangan dapat menghilangkan batasan dan jati diri, serta berkaitan dengan turunnya kepuasan hubungan dan keinginan mengakhirinya.
  • Terlalu sering memaklumi keterlambatan, sikap pasif-agresif, atau penghindaran pembicaraan serius berisiko membuat hubungan timpang karena perilaku tersebut terasa tanpa konsekuensi.
  • Memendam perasaan demi menghindari konflik dapat menciptakan jarak emosional; hubungan sehat membutuhkan komunikasi terbuka, batasan, serta keseimbangan memberi dan menerima.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berusaha membuat pasangan bahagia tentu bukan hal yang salah. Namun, ketika keinginan tersebut membuat seseorang terus mengalah, mengorbankan kebutuhan pribadi, bahkan kehilangan dirinya sendiri, hubungan justru berisiko menjadi tidak sehat.

Banyak orang menganggap semakin besar pengorbanan yang diberikan, semakin kuat pula hubungan yang dijalani. Padahal, cinta tidak selalu diukur dari seberapa banyak seseorang bersedia mengalah.

  1. 1. Terlalu banyak berkorban bikin kamu kehilangan diri sendiri

    orang
    Ilustrasi mengalah (pexels.com/Timur Weber)

    Mengikuti hampir semua keinginan pasangan, menyetujui setiap rencana, atau mengesampingkan impian pribadi demi menjaga hubungan memang sekilas terlihat romantis. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan batasan dan jati dirinya.

    Sebuah studi Emily A. Impett pada 2012 menunjukkan bahwa pengorbanan dalam hubungan tidak selalu menghasilkan dampak positif. Pengorbanan yang dilakukan secara berlebihan dapat berkaitan dengan menurunnya kepuasan dalam hubungan dan meningkatnya keinginan untuk mengakhiri hubungan.

    Karena itu, ketika mulai merasa lelah secara emosional, tidak bahagia, atau terus mempertanyakan apakah kebutuhan pribadi masih memiliki ruang dalam hubungan, ada baiknya melakukan evaluasi.

  2. 2. Terlalu sering memaklumi

    ilustrasi gampang memaklumi kesalahan (pexels.com/Cottonbro studio)
    ilustrasi gampang memaklumi kesalahan (pexels.com/Cottonbro studio)

    Kesabaran memang dibutuhkan dalam sebuah hubungan. Tetapi terlalu sering memaklumi perilaku pasangan juga dapat menjadi persoalan.

    Misalnya, pasangan kerap datang terlambat, melontarkan komentar pasif-agresif, atau menghindari pembicaraan serius. Jika semua perilaku tersebut terus dibiarkan hanya karena tidak ingin terjadi pertengkaran, masalah justru bisa semakin besar.

    Tanpa batasan yang jelas, pasangan mungkin merasa tidak ada konsekuensi dari perilaku mereka. Pada akhirnya, hubungan berisiko menjadi timpang karena hanya satu pihak yang terus menyesuaikan diri.

    Menetapkan batasan bukan berarti tidak mencintai pasangan. Sebaliknya, batasan merupakan cara untuk menjaga agar kedua pihak tetap saling menghargai.

  3. 3. Jangan terus memendam perasaan

    Ilustrasi sedang mengalah
    Ilustrasi sedang mengalah (pexels.com/Alex Green)

    Keinginan menghindari konflik juga sering membuat seseorang memilih diam ketika ada sesuatu yang mengganggu.

    Untuk sementara, cara tersebut mungkin terasa lebih aman. Tidak ada pertengkaran, suasana tetap tenang, dan hubungan terlihat baik-baik saja. Namun, perasaan yang terus dipendam dapat menumpuk dan membuat seseorang merasa semakin jauh dari pasangannya.

    Di sisi lain, pasangan juga tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan.

    Karena itu, komunikasi tetap menjadi bagian penting dalam hubungan. Ketika ada masalah, sampaikan perasaan dan kebutuhan secara terbuka dengan cara yang sehat. Kejujuran akan membantu pasangan memahami satu sama lain, sekaligus mencegah munculnya jarak emosional.

  4. 4. Cinta yang sehat nggak diukur dari seberapa banyak kamu berkorban

    ilustrasi pasangan yang sedang memberikan hadiah.
    ilustrasi pasangan yang sedang memberikan hadiah. (www.pexels.com/Helena Lopes)

    Sering kali pengorbanan dianggap sebagai bukti cinta. Padahal, hubungan yang sehat tidak dibangun dari pengorbanan sepihak, melainkan dari keseimbangan antara memberi dan menerima.

    Menjaga hubungan tetap harmonis bukan berarti harus selalu mengatakan "iya". Seseorang tetap berhak memiliki batasan, menyampaikan keberatan, mengejar impian, dan mempertahankan identitasnya meski sedang menjalin hubungan.

    Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk tumbuh, bukan membuat salah satunya perlahan kehilangan diri sendiri.

    Karena itu, jangan takut menetapkan batasan dan menyampaikan kebutuhan. Mencintai pasangan tidak berarti harus mengabaikan diri sendiri. Sebab, hubungan yang kuat bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, melainkan bagaimana dua orang dapat saling menghargai, mendukung, dan berkembang bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More