Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pakar IPB Prediksi Kemarau Panjang hingga 2027, Karhutla Jadi Ancaman

Kota Balikpapan
Pakar IPB Prediksi Kemarau Panjang hingga 2027, Karhutla Jadi Ancaman
Debit air Waduk Dawuhan mulai berkurang dan menyusut akibat kemarau panjang. IDN Times/Riyanto.
  • Pakar IPB Rizaldi Boer memprediksi kemarau 2026 memanjang hingga Januari 2027 akibat kombinasi El Nino Godzilla dan IOD positif yang menekan curah hujan.
  • Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, karhutla, serta gangguan musim tanam dan panen; El Nino diperkirakan berakhir Agustus 2026, tetapi IOD positif bertahan lebih lama.
  • Rizaldi menilai antisipasi pemerintah terlambat, saat karhutla melampaui 200 ribu hektare dan terjadi krisis hidrologi; mitigasi perlu dipercepat melalui pemantauan, patroli, dan kesiapsiagaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Balikpapan, IDN Times - Pakar perubahan iklim Institut Pertanian Bogor (IPB) Rizaldi Boer memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih panjang dari biasanya. Kondisi tersebut diperkirakan bertahan hingga Januari 2027, dari semula diproyeksikan berakhir pada September 2026.

Rizaldi mengatakan, kondisi itu dipengaruhi dua fenomena iklim, yakni El Nino Godzilla dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Keduanya berpotensi memperkuat kekeringan dan menghambat masuknya musim penghujan di Indonesia.

"Ada dua fenomena iklim yang memengaruhi kondisi musim di Indonesia, yakni El Nino Godzilla dan IOD di perairan Hindia," kata Rizaldi dalam webinar Kesiapan, Penanggulangan, Hukum, dan Anggaran Penanganan Kebakaran Hutan.

  1. 1. Fenomena El Nino Godzilla dan IOD Positif

    Boer.JPG
    Pakar perubahan iklim Institut Pertanian Bogor (IPB) Rizaldi Boer memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih panjang, Sabtu (5/9/2026). Tangkapan layar

    Menurut Rizaldi, El Nino Godzilla merupakan fenomena suhu ekstrem di kawasan Samudra Pasifik yang dapat memicu perubahan tekanan udara dan pergeseran massa udara ke arah timur. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

    Sementara itu, IOD positif terjadi ketika terdapat perbedaan suhu dan tekanan udara di Samudra Hindia yang memicu pergeseran pola massa udara ke arah barat. Fenomena tersebut juga dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.

    "Ketika dua fenomena alam ini bertemu, akan menyebabkan bencana kekeringan yang luar biasa," ujarnya.

  2. 2. Masa berakhirnya El Nino dan IOD

    Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kalbar. (IDN Times/Istimewa).
    Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kalbar. (IDN Times/Istimewa).

    Rizaldi menjelaskan, El Nino diperkirakan berakhir pada Agustus 2026 dan seharusnya diikuti dengan masuknya musim penghujan. Namun, kondisi tersebut diperumit oleh IOD positif yang diprediksi bertahan hingga Januari 2027.

    Dengan kondisi tersebut, musim kemarau berpotensi berlangsung jauh lebih panjang, bahkan mendekati satu tahun. Dampaknya antara lain kekeringan, meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta terganggunya musim tanam dan panen petani akibat keterbatasan pasokan air.

    Menurut Rizaldi, dampak kedua fenomena tersebut sebenarnya dapat diantisipasi sejak dini. Pergerakan massa air panas di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, kata dia, sudah dapat terdeteksi sejak April hingga Mei.

    Informasi tersebut seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menyiapkan langkah mitigasi sebelum kondisi memasuki fase kritis.

  3. 3. Antisipasi dini dampak negatif El Nino Godzilla dan IOD Positif

    2.jpeg
    Pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan IKN dengan water booming pesawat helikopter TNI AU, Kamis (3/9/2026). Foto OIKN

    Rizaldi membagi langkah mitigasi ke dalam empat fase.

    • Fase pertama, persiapan dan hidrologi selama 5-6 bulan, meliputi pemutakhiran peta kerawanan, pengalokasian anggaran, serta pembangunan canal blocking untuk menjaga muka air tanah di lahan gambut.
    • Fase kedua, intervensi sosial selama 3-4 bulan, dengan memberikan insentif pembukaan lahan tanpa bakar, bantuan ekskavator, serta mengaktifkan kembali peran Masyarakat Peduli Api.
    • Fase ketiga, rekayasa teknis selama 1-2 bulan, berupa operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan, pengisian embung, serta pembersihan jalur sekat bakar.
    • Fase keempat, siaga tempur satu bulan sebelum kondisi kritis, melalui patroli drone untuk mendeteksi anomali suhu dan mobilisasi satuan tugas udara, termasuk operasi water bombing.

  4. 4. Penanganan terlambat dampak El Nino dan IOD

    IMG_2310.jpeg
    Prabowo tinjau lokasi karhutla di Kalbar. (IDN Times/Sekretariat Presiden).

    Rizaldi menilai pemerintah terlambat mengantisipasi dampak El Nino Godzilla dan IOD positif. Hal itu, menurutnya, terlihat dari luasan karhutla yang telah mencapai lebih dari 200 ribu hektare di berbagai wilayah Indonesia serta munculnya krisis hidrologi.

    Ia mencontohkan kondisi Sungai Barito di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang mengalami pendangkalan ekstrem. Kedalaman sungai yang normalnya mencapai sekitar 11,5 meter disebut menyusut menjadi hanya sekitar 0,6 meter.

    "Sekarang ini pemerintah memang agak terlambat dalam antisipasi fenomena ini sehingga biayanya sangat besar," kata Rizaldi.

    Padahal, menurut dia, pemerintah memiliki perangkat pemantauan iklim yang dapat dimanfaatkan untuk memprediksi dampak El Nino dan IOD sejak jauh hari.

    Rizaldi mengatakan prediksi tersebut dapat dilakukan dengan memadukan informasi iklim, tingkat kerentanan wilayah, dan potensi kondisi ekstrem. Dengan demikian, pemerintah dapat memetakan wilayah yang berpotensi mengalami karhutla sebelum bencana terjadi.

    "Tool ini bisa kita optimalkan agar bisa memprediksi titik karhutla sebelum terjadi El Nino dan IOD. Sehingga kita bisa optimalkan potensi anggaran, kelembagaan, mobilisasi sumber daya, dan penyusunan tata ruang," ujarnya.

    Ia mengingatkan, memasuki September, sejumlah wilayah sudah berada dalam fase risiko tinggi karhutla. Karena itu, langkah mitigasi dan kesiapsiagaan perlu dilakukan lebih cepat agar dampak kekeringan dan karhutla tidak semakin meluas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More