ilustrasi Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan (IDN Times/Mela Hapsari)
Hal senada disampaikan oleh Widuri. Ibu rumah tangga ini berpendapat, "Saya mendukung sekali ibu kota pindah. Kaltim ini provinsi yang bergantung dengan aktivitas tambang. Ketika harga hasil tambang jatuh, maka langsung jatuh ekonominya. Saya berharap dengan dipindahnya ibu kota akan lebih banyak aktivitas ekonomi di sini," katanya.
Ia menambahkan, "Tidak sekedar tambang, tapi juga pendidikan, bisnis retail, dan bisnis lain yang akan mengikuti. Dengan demikian, pemerataan akan lebih cepat tercapai," katanya.
Meskipun setuju, di sisi lain Widuri juga mencemaskan masalah dampak lingkungan. "Hanya saja yang agak mengkhawatirkan adalah pengelolaan lingkungannya. Harus matang sekali karena ada di wilayah hutan nantinya," katanya.
Selain itu, ketika menjadi ibu kota, tentunya akses menuju ke berbagai wilayah dalam dan luar negeri harus lebih ditingkatkan. Ia berharap bandara di Kaltim, baik Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan di Balikpapan, maupun Bandara APT. Pranoto di Samarinda dapat melayani penerbangan tanpa perlu transit.
"Kalau mau pergi-pergi enggak perlu ke kota besar lainnya untuk transit, seperti ke Jakarta atau Surabaya. Siapa tahu bisa ada penerbangan langsung dari Balikpapan - Tokyo, atau Samarinda - Sydney," katanya berharap.