Konferensi pers persiapan Bimteknas Partai Hanura di Pontianak. (IDN Times/Teri).
Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) Bimteknas Hanura, Hildi Hamid, menyoroti dampak kebijakan efisiensi anggaran terhadap kinerja pemerintah daerah dan DPRD. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi mempersempit ruang fiskal daerah dan memengaruhi pelaksanaan otonomi daerah.
Hildi mengungkapkan, sejumlah daerah mulai merasakan penurunan kewenangan dalam mengelola pembangunan akibat keterbatasan anggaran.
“Ada daerah yang merasa saat ini bukan lagi otonomi daerah karena tidak memiliki keleluasaan dalam mengelola anggaran,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi di Kabupaten Kayong Utara, di mana proporsi belanja pegawai melebihi 30 persen dari APBD. Namun, menurutnya, hal itu bukan semata karena besarnya belanja pegawai, melainkan terbatasnya total anggaran daerah.
“Ini bukan karena belanjanya yang besar, tetapi karena APBD-nya kecil sehingga proporsinya terlihat tinggi,” jelasnya.
Hildi juga menyebut, kebijakan efisiensi di sejumlah daerah di Kalimantan Barat turut berdampak pada DPRD, termasuk tidak terakomodasinya pokok-pokok pikiran (pokir) anggota dewan dalam anggaran daerah.
“Bahkan ada daerah yang tidak lagi mengakomodasi pokok-pokok pikiran DPRD karena alasan efisiensi belanja,” pungkasnya.