Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tersangkut Jaring Nelayan, Penyu Sisik Langka Akhirnya Kembali ke Laut
Penyu sisik langka dilepasliarkan. (IDN Times/istimewa).
  • Seekor penyu sisik langka tersangkut jaring nelayan di perairan Pulau Panjang, Kubu Raya, lalu dilaporkan ke Balai PK Pontianak untuk mendapatkan penanganan medis.
  • Penyu menjalani perawatan empat hari di Klinik Hewan Purnama dan dinyatakan sehat setelah kondisi kulit membaik serta pola berenang dan nafsu makan kembali normal.
  • Dinas Kelautan dan Perikanan Kalbar bersama sejumlah pihak melepasliarkan penyu di perairan Jungkat, menegaskan pentingnya peran nelayan dalam menjaga kelestarian satwa laut dilindungi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kubu Raya, IDN Times - Seekor penyu sisik, salah satu spesies penyu paling langka di dunia, akhirnya kembali mengarungi perairan Kalimantan Barat (Kalbar) setelah empat hari menjalani perawatan akibat tersangkut jaring nelayan.

Pelepasliaran penyu dilakukan di perairan utara Jungkat, Kabupaten Mempawah, menggunakan Kapal Pengawas Perikanan BI'LAO 02.

Perlahan, satwa yang sebelumnya dievakuasi dalam kondisi tubuh dipenuhi teritip itu berenang menjauh menuju habitat alaminya, menandai berakhirnya proses penyelamatan yang melibatkan sejumlah pihak.

1. Penyu langka ini tersangkut di jaring nelayan

Usai dirawat dan pulih, penyu sisik langka dilepasliarkan. (IDN Times/istimewa).

Penyu tersebut pertama kali ditemukan pada 17 Juli 2026 saat tidak sengaja tersangkut jaring nelayan di sekitar perairan Pulau Panjang, Kabupaten Kubu Raya. Alih-alih membawanya pulang, nelayan memilih melaporkan temuannya kepada petugas.

Laporan itu langsung ditindaklanjuti Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak bersama dokter hewan dari Yayasan Sealife Indonesia. Penyu kemudian diserahkan secara sukarela untuk mendapatkan penanganan medis.

Kasubbag Tata Usaha Balai PK Pontianak, Graziano Raymond, mengatakan saat dievakuasi kondisi penyu dipenuhi teritip sehingga perlu menjalani observasi dan perawatan.

“Saat kami terima, kondisi penyu dipenuhi teritip,” ungkap Graziano, Kamis (23/7/2026)

2. Sempat dirawat di klinik untuk pemulihan

Penyu sisik tersangkut di jaring nelayan. (IDN Times/istimewa).

Selama empat hari di Klinik Hewan Purnama, tim dokter memantau perkembangan kondisi penyu sebelum dipastikan layak kembali ke alam.

Dokter hewan Yayasan Sealife Indonesia, drh. Maulid Dio Sehendro, mengatakan hasil pemeriksaan tidak menemukan patah tulang maupun gangguan pada organ dalam. Nafsu makan penyu juga baik, pola berenangnya normal, dan iritasi pada kulit terus membaik.

“Selama observasi kondisinya menunjukkan tren positif. Pola berenangnya normal, respons makan baik, dan iritasi pada kulit berangsur membaik sehingga layak dilepasliarkan,” katanya.

3. Dilepasliarkan usai kondisi penyu normal

Pelepasliaran penyu sisik langka. (IDN Times/istimewa).

Pelepasliaran dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Barat bersama Balai PK Pontianak dan Yayasan Sealife Indonesia. Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ditempuh sekitar satu setengah jam dari Pelabuhan Perikanan Sungai Rengas.

Kepala DKP Kalbar, Natalia Karyawati, mengatakan penyelamatan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian nelayan memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian satwa laut yang dilindungi.

“Ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu ekor penyu, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem laut. Kami berharap masyarakat pesisir terus melaporkan jika menemukan satwa dilindungi yang tidak sengaja tertangkap,” ujarnya.

Penyu sisik (Hawksbill Turtle) merupakan satwa yang berstatus Critically Endangered atau kritis menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan dilindungi penuh di Indonesia. Populasinya terus terancam akibat perdagangan ilegal, kerusakan habitat, serta tangkapan sampingan dalam aktivitas perikanan.

Editorial Team

Related Article